
Di taman belakang sekolah, seorang cewek duduk di kursi kayu panjang sendirian saja. Tak sibuk dengan buku maupun ponselnya. Hanya menatap lurus entah sedang melalang buanakan fikirannya, atau malah kosong belaka.
Harusnya ia tak menyatakan rasa itu kalau ia sendiri tak sanggup menahan rasa sakit seperti ini. Seandainya Raja mau sekedar menghargainya, walau tak lantas langsung membalas rasa, setidaknya ia masih punya kesempatan untuk berjuang. Kesempatan untuk merasakan kebahagiaan. Tapi nyatanya tidak. Cowok itu memupuskan harapannya hanya dengan satu kalimat yang terdengar halus tapi menusuk.
"Ren?" ucap seorang cowok tiba-tiba sudah duduk di samping cewek itu, menelengkan kepalanya menatap wajah Rena.
Rena yang dipanggil spontan menoleh, mendapati Andra tersenyum menampilkan kedua lesung pipinya. "Andra," ucapnya balas tersenyum.
"Hhh,,," Andra meluruskan posisinya duduk bersandar pada kursi. "Sendirian aja, Ren? Udah mau masuk nih," ucap cowok itu.
"Lo sendiri?" ucap Rena setelah bersandar di kursi dengan kedua tangan bersedekap.
"Habis ini gue ada urusan OSIS tentang persiapan lomba persahabatan."
"Ooh ... tapi beres, kan?"
"Iya dong. Semuanya berkat lo. Dan gue makasih banget karena lo udah mau bantuin gue," ucap Andra tulus sekali.
"Hhh ... santai aja kali, Ndra. Gue cuma ngelakuin apa yang harus gue lakuin," ucap Rena sembari bangkit dari duduknya kemudian merapikan seragamnya. "Ya udah, Ndra. Udah mau jam masuk, gue balik ke kelas dulu."
"Yuk!" Andra ikut berdiri.
Rena menggerakkan alisnya sebagai isyarat tanda tanya.
"Sekalian. Gue juga mau ke ruang OSIS."
"Owh ...."
"Oh ya, Ren, sebagai ucapan terimakasih, kapan-kapan gue traktir makan lo kali, ya?" ucap Andra tatkala kedua remaja itu sudah berjalan beriringan di koridor sekolah.
Rena diam sejenak, tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan dari jarak jauh pun, Raja mampu membuat perasaannya luluh lantah. Cowok itu sedang berjalan sendiri berlawanan arah dengan mereka.
"Boleh," ucap Rena tersenyum pada Andra, lalu menundukkan kepala mencoba menetralkan perasaan.
__ADS_1
"Hhh ..." Andra tersenyum puas. Sebenarnya, Rena tak terlampau judes juga.
Di seberang sana, Raja menelan salivanya, merasakan kecanggungan yang tiba-tiba datang menyerang. Antara ia dan Rena, haruskah keadaan jadi seperti ini?
Rena menegakkan pandangannya. Ia tak boleh terlihat lemah. Benar Raja telah menolaknya mentah-mentah, tapi ini Reyhana Canava. Keinginannya adalah mutlak dan ia pastikan kelak Raja akan menyesal karena telah menolaknya. Ia ingin Raja, maka ia hanya ingin Raja. Tapi, ia tak akan memohon lagi.
Dan pada akhirnya, Rena dan Raja hanya berjalan bersinggungan. Tanpa kata, tanpa tegur sapa. Memasang ekspresi datar di balik rasa sakit juga kikuk yang ada.
...💕...
Di sebuah kafe, sepasang kekasih duduk hening tanpa kata. Hanya gesekan garpu dari sang pria yang terdengar di antara mereka. Sedang si wanita justru menatapi makanannya dengan pandangan kosong. Sama sekali tak berselera untuk menyantapnya.
Zein. Cowok itu acuh tak acuh pada sikap diam pacarnya. Ia memilih menyantap makan siangnya saja. Sesekali mengecek ponselnya. Adakah kabar dari Vira. Semendari kemarin sore ia mengirimkan pesan tetapi sampai saat ini tak jua ada balasan. Online terakhir jam 04.00, tapi pesannya sama sekali tak dibaca.
"Zein," lirih Kiya menegur cowoknya.
Hening. Tak ada respon dari Zein.
"Hmm ...," respon Zein seraya mengecek ponselnya.
"Aku mau ngomong."
"Hm, ngomong aja." Zein masih belum berpaling.
"Aku pengen kita putus."
Mendengar ungkapan pacarnya Zein lantas mengernyit, kemudian tak ragu segera meletakkan ponselnya kembali. Memfokuskan perhatiannya pada Kiya.
"Maksud kamu?" tanya cowok itu pada akhirnya. Pertanyaan tanpa ada penekanan, melainkan sebuah tuntutan penjelasan.
"Aku udah capek kayak gini terus. Aku mau kita udahan aja."
"Kamu udah ... bosen, sama aku?" Kedua tangan Zein meraih tangan cewek di hadapannya. Menatap mata gadis itu lekat.
__ADS_1
"Bukan aku yang bosen, tapi kamu," tukas Kiya tanpa menarik kedua tangannya yang telah digenggam oleh Zein.
"Aku? Ki, please, ini bukan Kiya yang aku kenal."
"Kamu juga berubah! Enggak kayak Zein yang aku kenal. Semakin hari, kamu semakin berubah, tapi kamu nggak pernah sadar akan hal itu." Dengan mata berkaca-kaca Kiya mengungkapkan isi hatinya selama ini. Ia tak rela putus dengan cowok sempurna di hadapannya, tapi nyatanya ia tak pernah benar-benar memenangkan hati cowok itu.
"Berubah gimana?" tanya Zein masih dengan sikap tenangnya. "Aku gak pernah berubah. Dari dulu, sampe sekarang."
"Iya, kamu gak pernah berubah. Dari dulu kamu selalu sama. Selalu ada Vira di hati kamu," ketus Kiya menarik kedua tangannya dari genggaman Zein.
"Ki, please, jangan bawa-bawa Vira lagi. Dari dulu aku udah jelasin ke kamu, Vira itu udah aku anggap kayak adik aku sendiri. Apa lagi yang kurang?" Zein mengiba.
"Ya udah!" Kiya bangkit dari duduknya. Menatap Zein penuh tuntutan. "Kalau emang bener kamu cuma nganggep Vira sebagai adik, sekarang kamu milih ... aku, atau Vira?"
"Ki, pertanyaan ap ...."
"Kalo kamu pilih aku, berarti kamu harus jauhin Vira. Dan kalau kamu pilih Vira ... berarti kita putus!" tegas Kiya memotong bantahan Zein.
Hening. Zein bungkam seribu bahasa. Menatap Kiya tanpa jawaban yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tak bisa menjawab pertanyaan ini?
"" Diam ...." Setetes air jernih lolos dari pelupuk mata Kiya. ".... Kamu gak bisa jawab. Dan selamanya gak akan pernah bisa. Karena tanpa kamu sadari, rasa itu ada. Berawal dari rasa ingin menjaga dan melindungi. Dan akhirnya, kamu menganggap Vira itu milik kamu, walau bukan sebagai pacar."
Diam. Zein masih tak dapat berkata-kata. Lidahnya terasa kelu, walau hanya untuk sepatah sangkalan.
"Kamu diam, karena hatimu membenarkan." Kiya menahan isak agar tak tiba-tiba meledak tanpa kendali. "Kamu resah kalau gak ada kabar dari Vira. Kamu gak sadar, kalau itu adalah rindu. Kamu marah kalau dia deket sama cowok lain, padahal sebenernya kamu gak berhak untuk itu. Itulah cemburu. Kamu selalu berusaha supaya dia bisa tersenyum, itulah cinta."
Zein tertunduk. Masih bungkam tanpa bantahan. Benar-benar tak sanggup menatap mata berlinang milik Kiya. Hatinya terasa ditohok oleh pedang. Sejahat inikah dirinya? Mencintai dua orang dalam satu hati.
"Aku pamit, Zein. Bukan karena aku udah gak cinta sama kamu. Tapi lebih karena aku capek, jadi orang ketiga di antara kalian."
Zein sontak menegakkan kepalanya kembali.
"Iya, Vira juga punya perasaan sama kamu. Kamu seneng kan, dengar berita ini?" ucap cewek itu getir sebelum akhirnya meraih tasnya dan pergi meninggalkan Zein dengan segala niskala nya.
__ADS_1