The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tragedi Vaksinasi


__ADS_3

Dhira mendaratkan dirinya di kursi penumpang dengan lega. Setelah pergulatan yang panjang, akhirnya ia berhasil membuat kakaknya masuk ke dalam mobil juga. Walaupun, dengan cara yang agak mengerikan.


"Pak Budi, ayo kita berangkat," ujar Dhira sembari menyodorkan kertas kepada Pak Budi yang sudah stand by di kursi kemudi sejak tadi.


"Dhiraa ... jangan sekarang dulu, ya," bujuk Rana dengan bola mata membesar. Bayang-bayang jarum suntik yang siap sedia mencabik-cabik lengannya, benar-benar tak bisa ia lepaskan jua. Ia ingin lari keluar dari mobil, tapi lihatlah dirinya sekarang, penampilannya sudah berantakan karena tadi habis kejar-kejaran dengan Dhira dan ... kedua tangannya sudah diborgol oleh bocah kelas 5 SD itu. Entahlah dari mana si Dhira mendapatkannya.


Dhira hanya menanggapi permohonan kakaknya dengan lirikan tajam semata. Kemudian tangannya membuka buku yang sudah ia sediakan sejak tadi. Kalau bukan karena perintah dari ayahnya, pasti ia tak akan mau melakukan hal ini. Mengurus Kak Rana, lebih merepotkan dari pada harus mengurus seorang bayi dibawah lima tahun.


"Ayolah, Raa ... hari ini Kak Rana lagi demam. Jadi, nanti pasti gak bisa divaksin. Lebih baik kita pulang aja deh, daripada ngerepotin Pak Budi," ucapnya seolah mereka sedang nebeng di mobil pak Budi.


"Tadi kita kan, udah cek suhu. Normal kok," kata Dhira menekankan kata "Normal".


"Huh! Itu Rusak Dhira ... orang kening kakak panas gini kok." Kedua tangannya yang diborgol menyentuh kening.


"Udah dicek dua puluh kali, hasilnya tetep sama. Alatnya juga gak rusak. Kalau Kak Rana masih belum percaya, nanti kita bisa cek lagi disana."


"Dhiraaa... " semakin memohon.


"Gak."


"Dhiraaa ...."


"Bodo."


"Huh, Dhira gak asik ah," sungut Rana mengerucutkan bibir. Capek juga membujuk adiknya.


Dhira hanya melirik malas, kemudian kembali fokus dengan bacaannya.


...💕...


Klinik Dr. Broto

__ADS_1


Raja mengerutkan kening sejenak, lalu berdehem. Dibukanya jas khas dokter miliknya. Sejurus kemudian dua kancing pada kemeja putihnya sudah terbuka saja. Satu dua bulir keringat sudah bermunculan di jidatnya, padahal Ac diruangan ini tak pernah dimatikan.


Hari yang cukup melelahkan, ternyata belajar di sekolah lebih menyenangkan daripada harus menghadapi berbagai macam pasien ayahnya ini.  Kalau saja bukan karena ia menghindari seseorang, pasti sekarang ia sedang bersenang-senang di sekolah bersama mereka. Tapi tak apalah, toh berkurung dalam ruangan ini masih lebih baik, daripada harus perang dingin dengan seorang teman yang pernah dekat sekali.


Tok tok tok!


Raja segera bangkit dari posisi bersandarnya. Tangan kanannya yang semendari tadi dimasukkan ke saku, kini ia kerahkan untuk membuka pintu ruangan itu. Pasti ada pasien lagi, batinnya agak bosan.


Kreek!


Pintu terbuka, mata Raja langsung saja tertuju pada cewek berwajah imut yang kini juga sedang memandangnya.


"Ekhm," Dhira berdehem. Siapa cowok ini? Belum kenal, berani-beraninya menatap kakaknya lama sekali. Daaan ... ups, kemejanya tak terpasang sempurna!


Tatapan Dhira langsung tajam memberi isyarat agar cowok itu segera membenahkan penampilannya. Ia risih, juga tak mau kalau endingnya kakaknya akan tergoda.


Raja langsung salah tingkah dibuatnya. Ternyata kemejanya tak terpasang dengan apik. Dua kancing masih terbuka seolah mempersilahkan semua orang untuk melihat dadanya. Buru-buru dia memasang kedua benda sial itu.


"Mau vaksin," Dhira menyodorkan berkas-berkas yang sudah disiapkan ibunya dari rumah tadi.


Raja segera menerima berkas itu, kemudian membacanya sekilas.


"Oh, anaknya Om Cipto?"


"Iya, Kak Rana yang mau vaksin," Jawab Dhira hendak melangkahkan kaki memasuki ruangan itu.


"Dhira!" Rana tiba-tiba menahan tangan adiknya. "Kita pulang aja, yuk! entar bilang aja sama Papa kalau Kak Rana udah vaksin," bujuk Rana penuh harap.


Dhira menatap kakaknya malas, sejurus kemudian ia segera menarik tangan kakaknya agar cepat masuk ke dalam ruangan.


"Kalau Kak Rana tetep ngotot gak mau vaksin, Dhira jamin koleksi Drakor kakak bakal hangus dalam sekejap mata," ancam Dhira tegas. Ia sama sekali tak pernah main-main dengan apa yang sudah ia niatkan apalagi ucapkan, termasuk memblokir nomor pacar kakaknya.

__ADS_1


Raja duduk di kursinya, sedikit tersenyum tipis melihat kelakuan kakak beradik ini. Yang kakak kekanak-kanakkan, sedang si adik malah sok seolah sudah dewasa. Ia kemudian mendata calon pasiennya kali ini. Ternyata namanya Rana puspakarina. Nama yang cantik, begitupula wajahnya. Acuhkan saja kenapa tangan cewek ini diborgol. Mana ada buronan secantik ini.


Beberapa kuisioner pun diajukan. Rana langsung saja menjawabnya dengan anggukan mantap, batuk iya, pilek iya, demam iya, alergi juga iya. Tapi tentu adiknya langsung menyangkal semua itu. Bilang bahwa kakaknya ini sehat wal afiat tak ada keluhan sedikitpun.


Raja agak mengerutkan kening bingung, tapi kemudian ia mempercayai ucapan si adik. Cewek ini pasti takut sekali dengan jarum suntik, dan mungkin, itu juga alasan dibalik kedua tangannya yang diborgol sedemikian rupa.


Cek suhu pun dilakukan, hasilnya normal. Tapi Rana bersikeras meminta pengulangan. Dalihnya mudah saja, alat cek suhunya rusak dan ia merasa suhu badannya naik 3× lipat dari biasanya. Mana ada hal seperti itu? Tapi tak apalah, Raja maklum saja dan bersedia mengulangi pengecekan suhunya.


Cek tensi darah pun, hasilnya normal. Sekarang, tak ada lagi alasan bagi Rana untuk lolos dari jarum suntik titisan setan yang ia takut-takuti selama ini.


"Dok, pelan-pelan, ya, saya pobia sama jarum pentul," ucap Rana menahan tangan Raja yang hendak menjalankan tugasnya.


"Jarum suntik, Ra," ucap Raja agak tergelak.


"Iya, itu maksudnya. Dhira, tolongin kakak dong! Temenin atau apa, kek!" teriak Rana pada adiknya yang duduk bejauhan dengannya.


Dhira hanya menoleh malas, kemudian sibuk melihat-lihat rentetan buku yang tersedia di meja sebelahnya. Bodo amat dah.


"Gak sakit kok, cuma kayak digigit semut," ujar Raja berusaha menenangkan, sembari menyentuh lengan Rana.


"Huh, semua dokter bilang gitu. Masa iya, jarum suntik sebegitu panjangnya gak sakit," omel Rana, tapi dengan keringat dingin yang sudah bercucuran dimana-mana.


"Raja aja, bukan 'Dokter', kita seumuran kok," ucap Raja kemudian menusukkan jarum itu begitu saja tanpa aba-aba.


"Rajaa!!" teriak Rana spontan menarik tangan kiri cowok itu.


"Argh..." Raja memejamkan mata kesakitan, bisa-bisanya cewek ini malah menggigit tangannya tanpa ampun begini.


"Udah, Ra, udah," ujar Raja agak terengah. Kalau ia bukan cowok, pasti ia juga sudah teriak senyaring mungkin. Bahkan kalau bisa, lebih nyaring dari teriakkan Rana yang hampir menjebolkan gendang telinganya.


"Udah?" tanya Rana bingung, spontan melepaskan tangan Raja. "Gak sakit ya, ternyata," prengesnya tanpa dosa.

__ADS_1


__ADS_2