The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Start


__ADS_3

"Ha? Tetangga yang mana?" tanya Dio.


"Yang sebelah sini," jawab Arka singkat.


"Owh, kenal lah. Pak Darren, itu. Industri mobil terbesar di Indo. Ramah, lagi. Biasanya gue diajak olahraga di rumahnya. Golf, basket, pokoknya luas deh. Katanya suruh ngajak temen-temen gue juga main ke sana," celoteh Dio panjang lebar.


"Bapak-bapak?" tanya Arka terdengar acuh tak acuh.


"Hmm ... duda muda. Hehe," prenges Dio.


"Punya anak?" tanya Arka lagi.


"Emm ... " Dio berpikir. "Kayaknya enggak sih, Ka. Soalnya selama ini pas gue main ke situ orangnya sendirian terus. Pembantu aja gak ada," jawab Dio sembari mengingat-ingat.


"Oh."


"Lo kok tumben kepo gini, Ka. Jangan bilang ... lo naksir sama duda muda sebelah rumah gue? Astaghfirullah! Ka, istigfar! Walaupun dudanya baby face, lo harus inget kalo lo itu laki, Ka." Dio panik sendiri. Takut-takut temannya terkena virus jaman sekarang. Jeruk ketemu jeruk.


"Apaan sih?" ucap Arka kemudian turun dari jendela kamar Dio, menaruh gitar lalu mengenakan tasnya yang ia taruh di meja kamar Dio.


"Hehehe,,, pulang lo, Ka?" tanya Dio.


Arka hanya mengedikkan bahu. "Thanks, Yo. Gue cabut dulu," ucapnya kemudian.


...πŸ’•...


Kamar Rena


Rena dan Nada berbaring bersisian di ranjang kamar itu. Menatap langit-langit kamar sembari mengembangkan bibir tersenyum.


"Jadi lo beneran suka sama Raja?" tanya Nada menyimpulkan rentetan cerita Rena tentang Raja yang semendari tadi diceritakan dengan penuh semangat oleh Rena.


"Emm ... mungkin," lirih Rena menjawab.


"Hhh, gak nyangka aku. Ternyata kamu bisa juga jatuh cinta." Nada tersenyum-senyum sendiri mendengar pengakuan dari Rena.


"Iih, lo mah. Ngeledek gua lu, ya." Rana menyikut lengan Nada. "Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu ya, Nad."


"Siap!" ujar Nada mengacungkan jempolnya.


"Janji dulu." Rena menyodorkan kelingkingnya.


"Iya deh, iya." Nada menyambut kelingking Rena. Isyarat janji untuk menjaga sebuah rahasia mengenai rasa.


"Emm ... Nad, gue kan udah buka-bukaan nih, sama lo, emangnya lo gak tertarik gitu, berbagi rahasia sama gue?" pancing Rena ternyata penasaran juga dengan hubungan Arsya dan Nada yang seperti sedang menyembunyikan benih asmara.


"Rahasia yang mana?" Nada pura-pura tak paham.


"Itu loh, Nad. Masa lo gak paham sih? Emang lo beneran gak ada rasa sama Arsya?" tanya Rena langsung pada intinya.


"Aku?" tanya Nada seperti sedang meragu.

__ADS_1


"Iya, elo."


"Aku ...."


...πŸ’•...


Kamar Rana_ 17.15


Di belakang pintu kamar, Rana bersandar sembari memeluk kedua lututnya. Terdiam sendiri merenungkan semua yang terjadi. Anak-anak SMA Tunas Bangsa dan SMK Karya Nusantara yang turut terlibat perkelahian. Wajah Arka yang bonyok tak keruan. Mami yang terlihat sangat kecewa padanya. Masih ditambah lagi dengan rentetan amarah om Cipto yang tiada habisnya.


Kalau sudah begini kepada siapa ia berlari? Mami yang biasanya masih sabar membujuknya kini turut kecewa. Papi yang biasanya menjadi tempat pelariannya kini tak bisa ia datangi begitu saja.


Bagaimana dengan teman-temannya? Ah, mereka sudah cukup direpotkan dengan dirinya selama ini. Ditambah lagi mereka juga punya masalah sendiri-sendiri. Rena dengan perselingkuhan papanya. Nada pasti sibuk membantu kedua orang tuanya. Sedang Vira? Ah, pokoknya ia tak mau teman-temannya turut menanggung kesedihanya.


Tok tok tok!


Suara pintu yang diketuk menyadarkan Rana dari lamunannya.


"Makan dulu, Non. Bibi udah bawain makanan," ucap Bi Esih, pembantu Rana, dari luar kamar cewek itu.


Rana hanya mengusap air matanya diam tak menjawab apa-apa.


Bi Esih tak mudah putus asa. Wanita berumur 50 tahunan itu terus mengetuk pintu kamar dan meminta anak majikannya untuk segera makan. Kalau non Rana tak kunjung makan, bisa-bisa gadis itu sakit. Kalau non Rana sakit, maka tak ada lagi keceriaan di rumah ini. Nyonya yang tak banyak bicara, tuan Cipto yang sibuk bekerja, dan non Dhira yang selalu setia duduk di balik meja belajarnya.


30 menit berlalu, masih tak ada tanggapan. Bi Esih sampai lelah sendiri membujuk anak majikannya ini.


"Sudahlah, Bibi turun saja. Biar dia cepat sadar sama semua ulahnya," ucap Puspa kemudian kembali menuruni tangga.


15 menit berlalu dalam keheningan, bi Esih benar-benar mematuhi perintah nyonya Puspa sang majikan.


Tok tok tok!


Rana diam tak menanggapi, tapi kemudian matanya tertuju pada sebuah kertas yang tiba-tiba sudah tergeletak begitu saja di sampingnya.


Makan! Kalau gak cepet makan entar bagian kakak aku habisin loh.


Rana tersenyum membaca surat itu. Dasar Dhira! Bagian diri sendiri saja tak pernah habis termakan, apalagi ditambah bagiannya. Pasti tak akan tersentuh sama sekali.


Dredd ....


Ponsel Rana bergetar. Pasti ada chat masuk.


+6281343665***


Sv


Raja


Rana terdiam menatapi chat dari Raja. Dari mana cowok itu mendapatkan nomornya? Ini kan, nomor baru.


^^^Anda^^^

__ADS_1


^^^SiapπŸ˜‰^^^


Raja


Lagi apa, Ra?


Sibuk gak?


^^^Anda^^^


^^^Nanya-nanya. Kenapa emang?^^^


Raja


Hhh, kalau lagi nganggur mau gue tawarin kerja sampingan di klinik gue 🀣


^^^Anda^^^


^^^Yee... enak aja.^^^


^^^Lagi gak ngapa-ngapain, gue.^^^


Raja


Gue telfon, ya?


Baru saja Rana hendak menjawab, tiba-tiba ponselnya sudah melantunkan lagu gundul-gundul pacul nyaring sekali.


"Halo?" sapa Raja di ujung sana. "Ini benar dengan anaknya tante Puspa, kan?" tanyanya dengan gaya riang khas miliknya.


"Bukan," jawab Rana mengerucutkan bibir.


"Owh, kalau gitu ini pasti Rana yang cantik, yang pernah gigit tangan gue, kan?"


"Hehehe, iya." Rana jadi senyum-senyum sendiri mengingat kejadian konyol itu. Baru kenal bisa-bisanya ia sudah menyebabkan tangan cowok ini terluka. "Maap," ucap Rana lagi.


"Loh, ya nggak bisa gitu. Gak bisa semudah itu," ucap Raja di ujung sana.


"Gak asik lo, Ja."


"Hmm... udah lah, sebagai permintaan maaf lo yang tulus, pokoknya lo harus nemenin gue jalan malem ini," ungkap Raja pada intinya.


"Yee ... dasar jomblo! Cepet cari pacar sana!"


"Yee ... malah ngeledek. Udah, pokoknya lo gak usah bawel, gue udah ada di depan rumah lo nih."


Mendengar ucapan Raja barusan, Rana langsung terbelalak, segera berlari ke jendela kamarnya dan membukanya lebar.


Di dalam mobil, di depan gerbang rumahnya, Raja tersenyum sembari melambaikan tangan.


Rana menghela napas, kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Raja, jangan dulu sekarang, ya. Sorry," ucap Rana kemudian menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Yaah ... lo kok gitu sih, Ra. Lo gak liat nih, gue udah ganteng-ganteng gini. Udah jauh-jauh gue nyamperin lo ke sini," keluh Raja pura-pura merajuk.


__ADS_2