
Arka menghela napasnya seraya melepaskan rangkulannya pada Rana dan beralih menggenggam kedua tangan cewek itu dengan tangan kanannya.
"Eh ... beneran?" tanya Rana panik sendiri.
"Hah? Ya bukan lah. Kan ada kamu."
Alih-alih baper setengah mati, Rana justru menarik tangannya dan bersedekap dada. Memalingkan wajah dari Arka.
"Pokoknya aku gak mau tau. Aku udah capek banget tau, Ka, kayak gini terus sama kamu," sungut Rana. Masabodoh dengan anggapannya selama ini.
"Loh, Ra? Kamu udah bosen sama aku?" Arka menyentuh kedua bahu Rana agar bersedia menghadap ke arahnya.
"Huh!" Rana semakin merengut. "Rana capek, soalnya dari dulu Arka gak peka-peka," Jelasnya sudah terlanjur geregetan sekali. Manik matanya menatap manik mata Arka merajuk.
"Gak peka gimana? Kamu mau aku gimana?" tanya Arka halus. "Hm?"
__ADS_1
Rana terdiam beberapa saat. "Sebenernya ... Arka nganggep Rana siapa Arka, sih?" Akhirnya, pertanyaan itulah yang keluar dari bibir mungil Rana.
"Kamu itu punyaku. Cewek yang udah berhasil buat aku luluh gak bisa jauh-jauh dari kamu," jelas cowok itu menatap mata Rana dalam.
"Terus, status kita apa?" tuntut Rana berikutnya.
"Status kita ...."
"Kamu belum pernah nembak aku, Ka," potong Rana kelewat tak sabar menunggu jawaban Arka.
"Kamu gak serius ya, sama aku?" tanya Rana tanpa mengubah posisinya.
Arka terdiam oleh pertanyaan Rana. Dalam diam, ia juga bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia benar-benar mencintai Rana seutuhnya? Selama ini, bukannya ia takut menembak Rana. Bukannya ia tak mau serius. Ia hanya takut .... Takut jika suatu saat dirinyalah penyebab luka terbaik bagi Rana, gadis yang bahkan lebih ia utamakan kebahagiaannya dari pada dirinya sendiri.
"Mungkin sekarang, cuma Alea yang ganggu hubungan kita. Sekarang udah mau ujian semester satu. Gak lama lagi, gak kerasa, pasti kamu udah ujian kelulusan ..."
__ADS_1
".... Sekarang aku bisa nempel terus sama kamu tiap hari. Aku bisa ngawasin kamu terus biar hati aku tenang. Tapi nanti, kalau kamu udah kuliah, aku gak bisa tenang, Ka, tanpa status jelas yang mengikat aku dan kamu. Karena tanpa itu, aku gak berhak ngelarang kamu deket sama cewek lain, aku juga mana punya hak, buat ngelarang mereka deketin kamu? Kamu gak pernah tau, Ka. Cemburu tanpa hak itu ... sakit," ungkap Rana benar-benar mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini.
"Oke, maaf, aku malah bikin beban kamu makin nambah," ucap Arka penuh rasa bersalah. "Gimana kalau ... setelah ujian semester satu selesai? Hm? Kamu mau nunggu sebentar, kan?" tanya Arka sedikit menyunggingkan senyumnya.
Rana mengadah membalas tatapan teduh Arka. Ada sedikit bahagia yang berdesir di hatinya. Gadis itu kemudian menganggukkan kepala dan menyunggingkan senyumnya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia inginnya Arka menembaknya detik ini juga. Tapi kan, ia sebagai cewek harus tetap menjaga image. Cukup sudah Proklamasi waktu itu dan kejadian hari ini. Ia tak mau menjadi lebih agresif lagi.
Senyum Arka seketika mengembang lega. Cowok itu kemudian mendekap tubuh Rana dengan pelukan kehangatan.
Rana tersenyum di dalam pelukan Arka.
"Emm ... Ka," panggilnya pada akhirnya setelah tak cukup kuat membendung rasa penasaran.
"Ya?"
"Kenapa harus nunggu habis ujian?" tanyanya polos. Mengadahkan kepala menatap cowok yang kini juga sedang menatapnya.
__ADS_1