
Di ruang guru, seorang siswi tahun kedua masuk dengan wajah merengut kesal sekali, dengan sebuah kertas di tangannya. Bagaimana ia tidak sebal? Hasil ulangan bahasa Indonesia nya yang dibagikan di hari lalu sama sekali tak memuaskan hatinya. Ditambah lagi nilai yang sempurna yang didapatkan oleh cewek culun saingannya. Sejak kapan dalam pelajaran bahasa ada nilai sempurna?
"Bu, saya mau protes," ucap Bella menghadap pada Bu Irma, guru bahasa Indonesia.
Bu Irma menghela napas sejenak, kemudian mengalihkan seluruh perhatiannya pada murid di hadapannya. Cobaan apa lagi ini? Kemarin ada Rana yang entah bagaimana ceritanya nilainya bisa kosong melompong. Dan sekarang ...
Huft...cobaan mengajar para ABG ternyata cukup melelahkan.
"Protes mengenai apa?" tanya wanita itu, sedikit-banyak malas menanggapi.
"Saya gak terima kalau ulangan kemarin Nada dapet nilai seratus, Bu," terang cewek itu lugas. "Sedangkan saya justru dapet sembilan puluh sembilan," lanjutnya, kemudian menyodorkan kertas yang dibawanya.
"Kalau Nada mendapat nilai seratus, sedangkan kamu mendapat nilai sembilan puluh sembilan, terus apa masalahnya?" tanya Bu Irma, mencoba memberi tanggapan dengan sabar. Pagi-pagi begini ia harus dihadapkan pada murid tak tahu sopan santun macam ini.
"Yaa... Ibu gak boleh pilih kasih dong! Jangan mentang-mentang Nada yang biasanya juara satu, sedangkan saya hanya di posisi ke dua, ketika nilai kami sama, Ibu lantas memberi tambahan nilai ke Nada," terang Bella panjang lebar, penuh penekanan.
"Bella!" Bu Irma yang sudah terlanjur naik tensi, segera berdiri dari duduknya. Membuat semua guru yang berada di ruangan itu memusatkan pandangan pada keduanya.
"Sejak Kapan saya pilih kasih? Dan siapa yang bilang kalau nilai kamu dan Nada itu sebenarnya sama? Jawaban kamu memang sudah baik, tapi tak sebaik milik Nada. Kalau kamu memang ingin mengalahkan Nada dalam posisi peringkat, maka kamu harus lebih giat belajar. Bukan justru menyalahkan orang lain semaunya sendiri," panjang lebar Bu Irma mengeluarkan segala emosinya. Sedang murid yang ia omeli, kini justru diam seribu bahasa. Seratus sembilan puluh derajat berbeda sekali dengan saat murid itu baru saja masuk ke ruang guru tadi.
"Lagian, ya terserah saya lah, mau kasih nilai kalian berapa. Toh, saya gurunya. Memangnya apa hak kamu ngatur-ngatur saya?" omel Bu Irma lagi, kemudian duduk kembali. Acuh tak acuh dengan tatapan semua orang yang ada di ruang guru.
Bella mengigit bibir bawahnya, menggerutu dalam hati. "Maaf, Bu," ucapnya kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Bu Irma, tanpa menunggu jawaban dari guru itu.
Prok prok prok!!
Baru saja kakinya melangkah keluar dari pintu guru, cewek itu menghentikan kakinya, kemudian menoleh pada asal suara tepukan tangan barusan.
"Wah, keren! Cuma gara-gara lo kalah satu angka sama temen gue, lo sampe repot-repot ngelakuin kayak gini," ucap Rena, menyedekapkan kedua tangan di depan dada. Menatap Bella dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
"Eh, lo urusin aja ya urusan lo. Baru ... aja punya temen setingkat Nada lo udah bangga. Sadar deh, Ren, dia itu cuma anaknya tukang parkir!" cemooh Bella melewati batas.
"Jaga ya bicara lo! Lagian udah pasti dong, gue bangga punya temen kayak dia. Otaknya encer dan gak suka sewenang-wenang kayak lo."
"Oh ya? Kalo sama temen lo yang itu ... lo juga bangga?" Bella mengarahkan pandangannya pada seorang cewek mungil yang sedang berjalan ke arah mereka, bergandengan dengan seorang cowok jakung yang sudah pasti ia tahu namanya.
Rena mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandangan Bella. Bibirnya yang tadinya ingin mencaci maki cewek di hadapannya, kini terkatup rapat. Diam seribu bahasa.
"Ya udah deh, Ren, gue cabut dulu. Tapi gue yakin, punya temen cantik banget itu gak ada enaknya, apalagi kalau otaknya mines," nyinyir Bella kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Rena dengan sagala rasa cemburu di hatinya.
"Rey, liat nih, temen lo pagi-pagi udah keluyuran," ucap Raja setelah ia dan Rana sampai di hadapan cewek yang diajak bicaranya.
"Hhh,,, tumben lo dateng pagi, Ra," Rena menanggapi tersenyum. Namun, matanya tak lepas dari pengamatan tangan Rana yang masih diamit oleh cowok yang disukainya.
"Hehehe, iya dong. Kan, hari ini misi gue resmi dimulai." Rana menarik tangannya dari genggaman tangan Raja, kemudian beralih merangkul bahu sahabatnya. Sama sekali tak menyadari kecemburuan cewek itu, juga kecemburuan seorang cowok yang sedang bersama mereka.
...💕...
Bayangan kejadian kemarin semakin detik semakin terekam jelas mengetahui benak fikirnya. Membuat ia sama sekali tak fokus melakukan semua pekerjaannya..
Ia khawatir. Tak mau terjadi apa-apa pada Vira. Ia juga khawatir, khawatir Vira kecilnya akan direnggut secara paksa dari dekapannya.
Lama menimbang, Zein akhirnya membuka ponselnya. Mencari kontak Vira kemudian, walau dengan resah hati yang ragu, ia menekan tombol call.
...💕...
Kantin Bu Ratih
Cewek itu memeriksa layar ponselnya, kemudian "Huh...," mengeluarkan nafas perlahan, setelah barusan menariknya pula.
__ADS_1
"Siapa, Vir?" Rena bertanya, sedang dua orang lagi diantara mereka sedang sibuk mencuri pandang ke arah tongkrongan tempat biasa Arka dan kawan-kawan berkumpul. Yang satunya mencari pandang dalam diam, dan yang satunya lagi terang-terangan celingukan karena tak kunjung mendapati cowok yang ia cari.
"Kak Zein," jawab Vira singkat, kemudian mengangkat telfon dari cowok tetangga samping rumahnya itu.
"Vir? Halo?" ucap Kak Zein di ujung sana.
"Ya, Kak," dengan malas Vira membalas.
"Vir, maafin Kak Zein masalah kemaren."
"Iya, Kak, no problem. Santai aja," jawab Vira terdengar enteng. Lempeng banget.
"Emm ... kamu gak marah kan, sama Kak Zein?" tanya Zein terdengar masih ragu dengan jawaban yang diungkapkan Vira.
"Enggak. Em... maaf, Kak, Vira matiin dulu, ya. Vira masih ada urusan," ucap Vira sejurus kemudian langsung mengakhiri sambungan telepon tanpa menunggu respon dari Kak Zein.
"Tumben bentar. Sok cuek lagi. Biasanya kan manja lo, kalo sama Kak Zein," ucap Rena setelah menyeruput minuman pesanannya.
"Dih, siapa yang manja-manja? Ya kali manja-manja sama pacar orang," ucap Vira kemudian menaruh ponselnya begitu saja di atas meja.
"What?! Yang bener, Vir?" Rana turut menimpali, walau masih celingukan mencari keberadaan Arka yang sama sekali tak nongol di tongkrongannya.
"Yap! Ngapain juga gue boong?"
"Terus kamu gimana?" tanya Nada.
"Ya gimana? Emang gue siapa?" ucap Vira terdengar pasrah. "Udah deh ah, gak usah bahas-bahas Kak Zein. Gue mau fokus sama usaha peternakan gue aja," kekehnya kemudian.
"Dasar kamu, Vir," ucap Nada.
__ADS_1
"Eh Nad, ngapain tu bocah? Kayaknya mau nyamperin elo deh," kata Vira, pandangannya tertuju pada seorang cowok yang tengah berjalan ke arah meja mereka, lengkap dengan kesan berandal yang selalu dipancarkan oleh cowok itu.