The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Alamatnya Kok, Beda?


__ADS_3

Daniel mengacak-acak rambutnya frustasimemakannya, bagaimana ini? Rana pasti sudah sangat membencinya. Apa yang harus ia lakukan? Ia tak bisa kehilangan gadisnya begitu saja.


Padahal, ia tak ada niatan selingkuh sama sekali. Ia hanya butuh teman berbagi cerita itu saja, tidak lebih. Ia bahkan tak pernah menganggap Gea lebih dari seorang teman.


Walaupun sebenarnya, ia pun tahu bahwa Gea sudah menyimpan rasa padanya sejak lama, tapi siapa lagi yang bisa ia ajak berbagi cerita? Teman-teman prianya mana tahu urusan hati begini.


Awalnya ia fikir, Rena bisa menjadi teman curhat yang baik. Ia bahkan sudah menceritakan semuanya pada cewek itu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Rena adalah sahabat Rana. Ia tentu tak mau merusak persahabatan mereka dengan melibatkan Rena ke dalam hubungan mereka yang kian merenggang itu.


Kenapa tidak Vira? Ahh ... bagaimana ia bisa menceritakan pada cewek itu, menjaga rahasianya sendiri saja ia tak pandai, apalagi menjaga rahasia orang lain.


Nada? Apalagi cewek itu, Arsya yang sudah naksir lama saja ia tak sadar, terus bagaimana mau mangurusi urusan percintaan orang lain. Tahu apa dia.


Hanya Gea, hanya kontak cewek itu yang menjadi harapan untuk berbagi cerita. Itu pun kontaknya tak pernah ia beri nama, sangking setianya pada Rana.


Gea jauh berbeda dari Rana, pandai sekali menciptakan kenyamanan, mau mengerti perasaannya yang sedang diambang kegelisahan, mau meluangkan waktu kapan pun ia membutuhkan, juga tak pernah lelah memberikan perhatian. Padahal, ia sudah pernah menegaskan pada cewek itu bahwa hubungan mereka hanyalah teman, bahwa ia tak memiliki rasa padanya, bahwa Rana adalah satu-satunya perempuan yang ia cinta, tapi begitulah Gea.


"Udahlah, Nil," Gea menyentuh tangan Daniel. Mereka masih berada di kafe yang sama, dengan tempat duduk yang tak berbeda pula.


"Lo harus buka mata lo, Nil, liat gue, gue bakal selalu ada buat elo, kapan pun lo butuh. Apa yang lo lihat dari Rana? Dia gak pernah hargain lo, gak pernah ngertiin perasaan lo sebagai pacarnya. Percuma punya pacar cantik kalo dimata dia lo bukan siapa-siapa, Nil," Gea menyuarakan segalanya.


Amarah Daniel seketika naik ke ubun-ubun. Dikibaskannya tangan Gea kemudian ia berdiri dari duduknya.


"Jaga bicara lo, ya! Gue gak peduli Rana itu cantik apa enggak, gue suka dia tulus!"


"Gak usah muna lo, Nil! Mana ada laki-laki gak mandang fisik!" Gea ikut terpancing emosi, hilang sudah kesabarannya selama ini. Lagipula, kalau bukan gara-gara dia cantik, terus karena apa?


"Karena dia beda, karena dia beda dari yang lain dan karena dia ... gak bakal jelek-jelekin orang lain kayak lo gini," tukasnya menusuk.


Gea terdiam, hancur sudah sepucuk harapan yang baru ia sirami beberapa hari ini, hancur sudah setitik harapan yang tumbuh setelah sekian tahun itu.


"Gue pamit, Ge. Makasih lo udah selalu ada buat gue, makasih atas perhatian yang udah lo kasih selama ini, makasih juga udah mau jadi temen curhat gue," Daniel melunakkan emosinya, tak pantas ia melampiaskan kekalutannya pada cewek ini. "Tapi sekali lagi lo harus inget, Ge, walaupun nanti lo bakal berubah jadi lebih cantik dari Rana, atau tiba-tiba Rana berubah dari dia yang sekarang ini, lo gak bakal pernah bisa gantiin posisi dia di hati gue, gak bisa dan gak akan pernah bisa," tegas Daniel lagi, kemudian berlalu meninggalkan Gea dengan segala rasa sakitnya karena ternyata sekeras apa pun ia berusaha, sekuat apa pun ia berjuang, cintanya tetap bertepuk sebelah tangan.


...💕...


"Mana Rana ya, Sar? Ngangkat telponnya kok lama banget." Puspa mengedarkan pandangan ke sekitar guna mencari putri sulungnya yang sejak tadi tak kembali-kembali padahal asal-muasalnya hanya untuk mengangkat telfon.

__ADS_1


"Iya, ya, temennya ngajak ngeghosib kali ya, Pus," ucap Sarah sembari mengecek ponselnya, ternyata ada pesan dari Arka. Tumben sekali anak itu mau mengirim pesan padanya. Jangan-jangan dia sudah kebosanan menunggu, fikirnya.


"Eh, katanya Rana dianterin Arka, Pus."


"Kok bisa?"


"Gak tau, telpon deh, ya."


...💕...


Di dalam mobil Arka, Rana masih sibuk menangis histeris, sesekali menendang-nendang pintu mobil atau memukul-mukul kursi penumpang sebagai korban pelampiasannya.


"Hiks ... hiks ... hiks .... jalan kuningan nomor 22 ya, Ka. Hiks ... hiks ... Hiks ...."


Arka mengernyit, ia masih ingat jelas alamat rumah saat pertama kali mengantar pulang Rana, jalan Sudirman No 1. Kenapa sekarang jadi berubah? Atau ... jangan-jangan baru-baru ini keluarganya pindah rumah. Ahh, bodoh amat lah! Kenapa juga gue peduli? batinnya kemudian menggeleng pelan.


Tiba-tiba ponsel Arka berdering, "Tante Cerewet".


Agak malas sebenarnya, tapi Arka tetap mengangkat telfon itu sebab mungkin mamanya Rana sedang mencari Rana.


"Halo! Kaa?" suara cempreng Sarah mulai menggema.


"Hm," respon Arka malas, sedang Rana masih sibuk menangisi diri. Cewek itu sama sekali tak peduli bahwa ada yang sedang berbicara dengan Arka melalui saluran telepon.


"Loh, Rana? Kamu gak papa?" tanya tante Sarah sebab mendengar isak tangis cewek itu. "Ka, jangan galak-galak, Ka! Kamu apain anaknya tante Puspa?"


Arka memutar bola mata jengah, kenapa malah ia yang disalahkan? Sudah jelas-jelas ialah yang kena sial gara-gara menolong cewek di belakangnya ini.


"Ra? Kamu gak papa kan? Kok nangis? Ada apa?" Tiba-tiba suara cempreng tante Sarah berganti dengan suara lembut seorang wanita di ujung sana.


"Hiks ... hiks ... hiks ...." Rana meraih ponsel Arka ke tangannya.


"Mamiiii! Daniel selingkuh, Miiii ... hiks ... hiks ...."


"Daniel? Selingkuh? Kok bisa? Sama siapa?" Puspa yang terkejut langsung saja melontarkan rentetan pertanyaan itu, ia nyaris tak percaya. Daniel cowok yang baik dan sopan, dari yang dia lihat, cowok itu tak pernah menganggap hubungannya dengan Rana adalah mainan saja. Bahkan menurutnya juga, Daniel adalah tipe cowok yang setia. Lalu bagaimana ini bisa terjadi?

__ADS_1


"Hiks ... hiks... hiks... Gea, Miiii!!"


"Ya udah, ya udah, Mami pulang ya, entar cerita aja semuanya sama Mami."


"Iya ... hiks ... hiks ...."


Tuuut, sambungan telepon dimatikan.


"Di sini?" Arka memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah yang alamatnya disebutkan oleh Rana tadi.


"Iyaaa ... hiks... hiks...." jawab Rana sembari membuka pintu mobil dan kemudian melangkah keluar.


"Loh, Non Rana? Non gak papa kan?" pak Budi tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang kemudian segera menghampiri anak majikannya itu.


"Gak papa, Pak Budi, cuma kelilipan aja," jawab Rana sembari mengucek-ucek kelopak matanya perlahan.


"Kelilipan apa, Non? Kok bisa sampai gitu? Kelilipan roda mobil atau motor, Non?"


"Kelilipan roda pesawat, Pak."


Arka mengamati kedua orang itu heran, cewek aneh dengan penjaga rumah yang aneh pula.


"Hehehe, Non Rana bisa aja."


"Hehehe," Rana merenges juga, seperti tak terjadi apa-apa. Tapi Arka bisa menebak, habis ini setelah masuk ke dalam kamar, cewek itu pasti akan menangis histeris lagi.


"Makasih ya, Ka, lo emang setan terganteng, terpelajar, terkandung, termelahirkan, teranak, yang pernah gue temuin."


Arka menatap Rana malas. Dasar aneh!


Tanpa menanggapi sepatah kata pun, cowok itu segera menyalakan mesin mobil dan melesat pergi.


"Daaaaaaa! Arkaaaaaa!" pekik Rana sembari melambai-lambaikan tangan tinggi-tinggi. Di belakangnya, Pak Budi turut melambai-lambaikan tangan ikut-ikut saja.


Arka hanya melirik kaca spion malas, kemudian dari kaca kemudi ia melihat keadaan di dalam mobilnya yang sudah seperti pembuangan sampah. Gila! Cepat sekali Rana melahap semuanya, eskrim sebanyak itu bisa-bisanya habis dalam sekejap mata. Bayangkan saja bagaimana cewek itu memakannya!

__ADS_1


__ADS_2