The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Terjebak


__ADS_3

Di meja belajarnya, cowok itu memandangi sebuah kotak di hadapannya. Terlihat sudah sangat lusuh sebab tadi ia mendapati kotak itu tergeletak tak berdaya diantara tumpukan sampah tak berguna.


Dibukanya kotak itu perlahan, sehingga menampilkan jaketnya yang terlipat rapi. Arka kemudian menyipitkan kedua netranya. Bukan karena jaket miliknya tentunya, melainkan sebuah kertas origami berbentuk hati, berwarna identik matahari pagi, tergeletak begitu saja di atas jaketnya. Mengingatkannya akan kertas di hari sebelumnya.


Diambilnya kertas itu dan dibacanya tulisan tangan pada kertas itu. Sudut bibirnya terangkat, pandangannya kemudian teralih pada gambaran dirinya yang ia temukan di mejanya, tadi setelah jam istirahat. Sudah terbingkai indah, berjajar rapi dengan foto-fotonya yang sebelumnya sudah nangkring di atas meja belajarnya.


Pandangannya teralih lagi, pada lukisan seorang wanita yang terpajang di dinding kamarnya. Ia menghela napas. Kalau saja ibunya masih di sisinya, akankah hidupnya tetap terasa sesunyi ini?


Diambilnya ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Cukup lama cowok itu menatap beranda chatnya, tapi akhirnya jemarinya menekan chat dari seorang cewek yang ia biarkan saja semendari kemarin.


Bibirnya lagi-lagi tersenyum. Jemarinya pun, dengan cepat mengetikkan balasan singkat untuk chat itu. Dan... send.


Tapi entah apa yang dipikirkan anak tunggal keluarga Airlangga itu, sehingga langsung menekan tombol power ponselnya setelah pesan berstatus centang satu.


Ia kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi. Seperti sedang bergelut dengan diri sendiri. Lalu membenamkan kepalanya di atas meja.


...πŸ’•...


Rana sedang sibuk melukis potret sahabat-sahabatnya, dengan kaki berdiri di atas tangga guna mempertinggi jangkauan tangan mungilnya. Tapi kemudian ia merasakan getar di sakunya. Ponselnya mungkin sedang keroncongan. Cewek itu akhirnya memutuskan untuk memeriksa ponselnya dahulu.


Arkanya Rana😜


Udah.


"Yeay!!" Rana meloncat kegirangan, kemudian ...


Bruak!!


Lagi-lagi cewek itu jatuh dari tangga, dengan tubuh ber cipratan cat berwarna-warni. Tapi anehnya, cewek itu langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan lagi. Cukup empat huruf dari Arka, ternyata bisa membuat cewek itu sama sekali tak merasakan kesakitan. Cinta memang ajaib.


...πŸ’•...


Di ruangan luas yang penuh buku itu, Nada sibuk melakukan tugas yang diberikan Bu Irma sepulang sekolah tadi. Tak cuma merapikan buku, cewek itu juga sesekali membaca buku yang tersentuh oleh jemari tangannya. Dialuni musik santai kesukaannya, cewek itu sampai lupa waktu. Entah sudah berapa lama ia di sini. Ia seakan tak peduli oleh waktu yang terus berjalan.

__ADS_1


Hening.


Nada memeriksa ponselnya. Ternyata benda mati ber-IQ tinggi itu sudah kehabisan daya. Ia lantas memasukkan benda itu ke dalam tasnya, dan tak ragu kembali asyik dengan kegiatannya.


Pet! Tiba-tiba lampu dimatikan. Membuat perpustakaan menjadi gelap tak terkira.


Nada terjingkat, spontan menjatuhkan buku di tangannya. Dengan ketakutan, ia mulai meraba dinding di sekitarnya. Mencoba berjalan walau ia sendiri tak yakin dengan arah.


"Pak Uus!" teriak cewek itu, merasakan getar di sekujur tubuhnya.


Tak ada jawaban.


Masih dengan ketakutan, Nada mencoba berjalan menuju pintu perpustakaan yang letaknya cukup jauh. Kedua tangannya terus meraba dinding gemetar.


Dihelanya napas perlahan, berusaha menenangkan diri. Tangannya mulai meraih gagang pintu. Dikit lagi, Nad. Dikit lagi.


Grek grek!


...πŸ’•...


Di sebuah kursi ruang tamu sederhana, seorang bapak terduduk lesu, menatap secangkir kopi di hadapannya tanpa gairah hidup.


"Nada mana ya, Bu?" tanya bapak itu pada istrinya yang sedang memotong-motong buah untuk keperluan jualan besok. "Kok jam segini belum pulang," ucap bapak itu lagi, mengarahkan pandangannya pada jam dinding tua yang terpajang di dinding rumahnya. Sudah menunjukkan pukul 08.30. Tak biasanya Nada belum pulang pada jam selarut ini.


"Iya ya, Pak. Apa dia main ke rumah temennya atau gimana? Kok tadi ndak bilang sama Ibuk," ucap Bu Ratih, menoleh pada suaminya.


"Coba telfon temannya, Buk. Siapa tau dia memang mau nginep di rumah temennya," saran bapak, mengingat kedekatan Nada dengan teman-temannya, yang keseluruhannya anak konglo semua.


"Iya, Pak. Ibu mau nelfon Vira saja," ujar Bu Ratih kemudian berjalan menuju meja, tempat dimana ia meletakkan ponsel jadul miliknya.


...πŸ’•...


Ruang luas penuh kursi itu berisikan pemuda-pemudi berumur tujuh belas-an. Ada yang datang bersama teman-temannya. Ada pula yang datang bersama pasangannya. Dengan cahaya remang-remang, duduk tenang menikmati film yang sedang tren saat ini.

__ADS_1


Vira salah satunya. Dengan kepala menyandar ke bahu cowok di sampingnya, juga tangan yang memeluk lengan kekar cowok itu, Vira menikmati film bergenre komedi romantis, genre kesukaannya.


Fino, cowok yang duduk di samping Vira, membelai-belai pucuk kepala Vira mesra, menimbulkan senyum di bibir Vira. Ini sebenernya yang akting main film siapa sih? Dirinya, atau aktris yang berperan di film yang ditontonnya? kekehnya dalam hati.


Dred dredd...


Sedang Asyik-asyiknya, ponsel Vira justru bergetar terus seenaknya, membuat ia mau tak mau mengecek benda itu.


"Halo, Bu?" sapa Vira pada Bu Ratih si ujung sana, tentu saja memberikan respon terbaik yang ia bisa.


"Loh, Elenggak sama Vira, Bu. Tadi Vira duluan," ucap Vira lagi. Ada sedikit kekhawatiran pada warna wajahnya.


"Oh iya, Bu, nanti biar Vira tanyain sama yang lain," ucap cewek itu kemudian mengakhiri telfonnya.


"Siapa, Yang?" tanya Fino ingin tahu.


"Nyokapnya temenku," jawab Vira, kemudian menekan tombol call pada nomor Rena.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak ... bla bla bla," ucap seorang wanita bersumber dari ponsel, entah namanya siapa.


Vira menghela napas, tapi kemudian kedua matanya membulat. Jemarinya langsung mencari dengan lincah nomor seorang cowok.


...πŸ’•...


"Eh, Bro, Bro!" ucap Dio tiba-tiba, menarik perhatian seluruh penghuni tongkrongan, juga menghentikan Arsya yang tadinya asyik dengan gitar di tangannya. "Gue ada gosip baru," ucap cowok itu kemudian, terlihat serius sekali dengan penyampaiannya.


"Heh, Yo!" panggil Arsya lebih tiba-tiba. "Loo ... beneran suka sama Vira si Ratu Gosip, ya?" tanya Arsya, menyipitkan kedua mata penuh selidik.


"Buset! Ngawur lo!" hardik Dio, lagi-lagi menjadikan boneka hello kitty milik Kibo menjadi korban, melayang jauh tepat mengenai wajah Arsya.


"Yaa ... abisnya lo niruin dia sih. Suka bawain gosip kekinian," terang Arsya, sembari mengambil boneka Kibo yang terjatuh naas di lantai. "Ooo... cup, cup, cup," ucap cowok itu kemudian, memeluk boneka hello kitty bak anak TK kuncrit dua, meringis ke arah pemiliknya yang sebelumnya mengerucutkan bibir sebal sebab boneka kesayangannya selalu menjadi pelampiasan emosi di tongkrongan penuh mahluk-mahluk laknat ini.


"Gosip apaan?" jiwa kepo Bendon terlanjur meronta-ronta.

__ADS_1


__ADS_2