
Sesampai di rumah, Cipto segera menginterogasi penjaga rumahnya. Seperti biasa, memiliki anak gadis memang agak merepotkan.
Dan yah, benar saja. Tadi Daniel, pacar Rana, hendak menemui Rana. Tapi untung saja pak Budi tidak mengizinkan. Hal itu membuat Cipto merasa lega. Bukan ia tak percaya pada cowok itu, Daniel termasuk dalam hitungan cowok-cowok yang selalu bersikap sopan kepada orang tua dan juga tak pernah macam-macam pada perempuan, tapi lebih karena ... sejujurnya, ia agak tak setuju jika Rana berpacaran dengan anak itu. Tidak berprestasi, malas sekolah dan ditambah lagi dengan kebebalan khas cowok-cowok gank motor. Ia tak suka. Punya anak bebal saja sudah cukup membuat masalah, apalagi ditambah dengan calon menantu yang bebal pula. Sama sekali tak ada bagusnya.
"Mana Rana, Ma?" tanya Cipto saat baru saja memasuki Rumah. Baru saja diingatnya jika sebelum ia pergi tadi, bocah itu sedang di rumah mantan ayah tirinya. Huh ... amat menggeramkan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Semakin besar, semakin susah aturannya.
"Mungkin di kamar, Pa," jawab Puspa sembari mendaratkan dirinya ke sofa. Kalau menurut perhitungannya, pasti anak gadisnya itu sudah diantarkan oleh ayah tirinya sejak tadi.
Tak menunggu lama, Cipto segera naik ke lantai dua mengecek keberadaan anaknya. Kalau saja bocah itu masih belum pulang, sekali lagi ia tekankan, ia tak akan segan -segan mengobrak-abrik rumah Darren si brengsek itu.
kreek ....
Tidak ada, bocah itu tidak ada di kamarnya. Diliriknya jam dinding di kamar berantakan itu. Sudah jam 23.45, masih belum pulang juga.
"Udah pulang kan, Mas?" tanya Puspa agak cemas. Disadarinya rahang suaminya mulai mengeras, pertanda pria itu mulai dikuasai amarah.
"Rana! Rana!" panggil Cipto memastikan. "Kurang ajar bocah itu, jam segini belum pulang juga." Tidak mendapat sahutan, suaranya pun semakin meninggi memanggil lagi. Mudah sekali terpancing emosi.
"Mungkin lagi di dapur, Pa," Puspa berusaha menenangkan.
"Rana! Ranaa!!" panggil Cipto lagi, kemudian segera melangkah menuju lantai satu rumahnya.
Masih tidak ada sahutan. Batang hidungnya pun, tak muncul juga. Dengan langkah tegas sekaligus tergesa-gesa, Cipto menuju garasi rumahnya.
Puspa buru-buru mengejar. Pasti suaminya itu hendak mendatangi rumah Mas Darren. Kalau tak segera dihentikan, ia bisa membuat masalah yang lebih pelik lagi. Dan pastinya, itu akan membuatnya semakin merasa tak enak pada pria baik itu. Benar-benar serba salah.
"Udah, Pa, Papa mau kemana?" Puspa menahan tangan Cipto. Pria itu sedang membuka pintu mobilnya.
"Mau nyusul bocah itu ke rumah si Darren! Jam segini belum pulang juga, seperti tak punya rumah saja," omel Cipto tak sudi menanggalkan niatannya.
"udah Pa ... gak usah buat masalah, pasti Mas Darren bisa kok, jagain Rana."
"Buat masalah gimana? orang jelas-jelas si Darren itu yang buat masalah. Udah tau anak orang, masih aja iku campur! Pasti Rana gak dibolehin pulang sama si bajingan itu."
"Paa ... udah lah, Paa, Darren gak mungkin kayak gitu, lagipula kita kan udah perjanjian, kalau Rana tetep boleh ke rumah papa tirinya, Papa sendiri yang bilang."
"Loh, jadi kamu lebih belain Darren, daripada suamimu?" Cipto semakin emosi.
"Enggak, Mas, enggak gitu," elak Puspa. Ia benar-benar menyesali ucapannya barusan. Semakin membuat runyam.
"Oooh ... atau kamu emang masih cinta, sama bajingan itu," tuduh Cipto.
__ADS_1
"Enggak, Mas ... bukan gitu maksud aku," Puspa menggoyang-goyangkan tangan suaminya, berusaha meyakinkan.
"Pa? Ma?"
Kedatangan Dhira yang secara tiba-tiba membuat sepasang suami istri itu seketika berhenti dari kegiatan pertengkarannya. Mereka spontan menoleh. Bocah itu sudah berdiri tegak dengan ekspresi datar di samping mereka.
"Kak Rana lagi tidur di kamar Dhira," ucap Dhira tak berekspresi.
Cipto terdiam, tapi kemudian ia berdehem "Papa gak mau tau, pokoknya, besok Rana harus Vaksin. Nanti, Papa kasih tau alamatnya," titah Cipto mengalihkan perhatian menjaga wibawa seorang kepala keluarga.
...💕...
Kantin Bu Ratih_SMA Tunas Bangsa
"Eh, gaes, gaes, ngemeng-ngemeng yang kemarin bikin rusuh di jalanan, bukannya golongannya si Daniel, ya? Gue kayaknya denger suara dia yang ngasih aba-aba " celoteh Vira mengangkat topik ghosip baru, setelah baru saja selesai menggosipi berbagai macam kalangan. Dari tingkat kepala sekolah, guru, siswa, OB, bahkan remaja masjid tak berdosa pun, turut jadi korban.
"Hmm ... kayaknya sih, aku juga sempet liat, kemarin," respon Nada sembari mengaduk-aduk minumannya.
"Ada masalah apa sih, mereka? Mana mau bentrok sama rombongannya cowok lu, lagi," katanya lagi pada Nada, sedang temannya yang satu lagi hanya diam menikmati minuman kesukaannya. Entah dia menyimak, atau justru melamunkan yang lain.
"Ha, cowok? Siapa?" Nada mengernyit.Vira ini benar-benar, sejak kapan ia punya cowok? Ingin pacaran saja, sama sekali tidak.
"Paan, sih," Nada malas merespon.
"Daniel harus dilaporin kalo gini nih. Mentang-mentang Rana belum masuk, seenaknya aja dia bikin gara-gara sama anak sini. Untuuuuung aja, kemarin ada gue yang nengahin." Vira mulai berbangga hati. Kalau bukan karena dia yang kemarin rela-rela berteriak menyuruh mereka memberi jalan, pasti cowok-cowok itu sudah bentrok beneran. Huh, dasar cowok! Apa sih, enaknya main perang-perangan?
"Eh, Rey, Rana vaksinnya kapan?" tanya Vira lagi.
"Tadi dia ngechat gue, katanya sih, hari ini. Bokapnya udah naik tensi dari kemarin-kemarin dia bilang. Dia minta anterin gue tadi," Rena akhirnya mulai masuk ke dalam obrolan.
"Terus, entar lo mau nganterin dia?" Vira antusias. Setelah sekian lama, akhirnya teman satu servernya itu akan divaksin juga. Ternyata, capek juga kalau hebohnya sendirian.
"Emm ... enggak."
"Kenapa?" Nada spontan bertanya. Biasanya Rena selalu stand by jika dimintai tolong soal masalah antar jemput adik mereka yang paling kecil dan ceroboh itu.
"Yaa ... Rana kan, punya pacar Nad, Vir," kata Rena, "Gue tuh, kadang kasian sama si Daniel," lanjutnya lagi.
" Kasian kenapa?"
"Kalian sadar gak sih, selama ini tuh, Daniel selalu ada buat Rana, selalu sigap kalau Rana butuh apa-apa, selalu berusaha jadi cowok yang terbaik buat Rana. Padahal semua orang juga tau, kalau dia itu bukan tipe good boy rumahan yang nurutan."
__ADS_1
"Hmm, terus?" Vira menyimak.
"Tapi menurut gue, Rana tuh justru gak terlalu ngerespon dia. Gak pernah jalan bareng, nonton bareng, ataupun makan malem bareng kayak pasangan yang lainnya. Padahal, pasti Daniel ngarepin banget Rana mau diajak jalan. Tapi yah ... kalian tau sendiri Rana gimana. Bales chat aja males, apalagi jalan bareng."
"Eh, Rey, bukannya biasanya elo ya, yang ngelarang-larang supaya Rana jangan terlalu percaya sama cowok?" Vira heran, kenapa temannya ini sulit sekali dipahami. Terkadang melarang, kadang juga menganjurkan. Terkadang galak, tapi juga penyayang. Terkadang cuek, terkadang juga peduli. Dan lihat, tadi hanya diam tak bersuara dan sekarang sedang memberi ceramah panjang lebar tentang hubungan orang.
" Iya, tapi masalahnya tuh sekarang, justru Danielnya yang jadi kasian," jawab Rena yakin sekali.
"Eh, tunggu bentar deh, ini kenapa jadi bicarain hubungannya Daniel sama Rana, ya? Tadi kita kan bahasnya kenapa lo gak mau nganterin Rana, Rey," Nada bingung. Kenapa pembicaraannya jadi ngalur-ngudul begini?
Puk!
Satu tepukan halus mendarat di jidat Nada, membuat ia semakin terlihat bodoh saja- padahal aslinya paling pinter.
"Nad, gue tuh sebenernya bangga ya, punya temen kayak lo. Tapi please deh, jujur, lo kok goblok banget ya, kalau soal beginian," Vira menggeleng-gelengkan kepalanya. Kok ada ya cewek kayak gini? Pantesan aja kagak ngerti cinta-cintaan.
"Maksud gue ... ya biar Daniel aja lah, Nad, yang nganterin Rana," jelas Rena malas.
"Oowh, gitu," Nada tersenyum singkat, kemudian menyeruput minumannya lagi.
"Eh, Rey, kok lo tiba-tiba ngomongin ini sih?" tanya Vira. Saluran informasinya mulai mengaktifkan sistem kerja.
"Iya. Kemarin Daniel ngechat gue. Dia nanya, ada cowok lain yang deket sama Rana selain dia apa gak."
"Terus, lo jawab apa?"
"Ya gue bilang, kayaknya sih gak ada. Rana juga belum aktif sekolah, terus anak rumahan juga."
"Gitu? terus gimana?"
"Yaa ... terus dia malah curhat ke gue."
"Hah? Curhat? Kok ke elo? Kok bukan ke gue? Selama ini kan, gue yang selalu dukung mereka," sungut Vira ingin segera mengomeli Daniel sekarang juga.
"Gak tau deh. Katanya sih, dia gak mau sampe lo yang nyampein ini ke Rana."
"Huh, dasar si Daniel! Tau aja kalo mulut gue ember," kekeh Vira pada akhirnya, menyadari hobi keduanya yang cukup membahayakan juga.
"Terus dia ngirimin ini," ucap Rena sembari menyodorkan Hp-nya.
Vira mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Sejurus kemudian pandangannya langsung tertuju pada cowok berwajah dingin yang sedang nongkrong bersama teman-temannya. Buset si Rana, belum-belum udah goncengan aja ama most wanted-nya SMA Tunas Bangsa.
__ADS_1