The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Pengumuman Juara Kelas


__ADS_3

Ratusan siswa SMA Tunas Bangsa berkumpul di aula pertemuan itu. Duduk rapi, bersiap mendengarkan urutan nama para juara dari berbagai kelas.


Seorang guru pria berdiri di hadapan mereka dengan mikrofon di tangan kanannya dan selembar kertas di tangan kirinya.


Semua harap-harap cemas, sebab ini adalah pengumuman hasil dari perjuangan mereka dalam satu semester ini.


"Sekarang, kita beralih mengumumkan juara dari kelas 11 IPA 1!" seru guru itu, setelah selesai dengan kelas paling junior, kelas sepuluh.


Rana meremas roknya gelisah. Jujur, selama ini ia tak benar-benar fokus pada belajarnya. Ya, setiap hari ia memang belajar, walau ia terpaksa. Tapi itu semua hanya demi Arka, demi bisa menghabiskan waktu dengannya, ... demi malam paling buruk yang tak layak diingat lagi oleh otaknya.


"Tenang, Ra," ujar seorang cowok di sampingnya, menyentuh punggung tangannya, menawarkan senyum teduh padanya.


"Gue tau lo udah berusaha," ucapnya lagi, padahal, dirinya sendiri sebenarnya gelisah bukan kepalang. Jawaban apa yang bisa ia berikan pada ayahnya, kalau-kalau Arka mengalahkannya lagi.


"Makasih, Ja," ucap Rana, berusaha mengukir senyumnya. Ia tak menarik tangannya yang masih disentuh oleh Raja, ujung matanya melirik ke arah lain.


Dan ... pandangan mereka bertemu. Seorang cowok dengan mata elang itu seolah sedang memperhatikannya, tapi kemudian segera berpaling, memperbaiki posisi duduknya.


"Ra?" tegur Raja, menyadari Rana sedang tak fokus pada dirinya.


"Eh, apa?" Rana segera beralih pada Raja, menarik tangannya.


"Itu, Nada udah maju ke depan," ucap Raja, mengisyaratkan Rana untuk melihat ke arah podium.


Rana mengikuti instruktur Raja. Cewek itu kemudian menghela napas lega. "Syukurlah ...," ucapnya, tersenyum memandang Nada yang tersenyum di sana.


"Juara ke dua, di raih oleh ... Syavira Syifanya!"


Rana hampir saja berlonjak riang karenanya. Vira sebelumnya hanya sampai lima besar, tak pernah menduduki tiga tempat di depannya lagi. Ia ikut senang, walau ia tahu, Vira tak akan menerima ucapan selamatnya.


Vira tersenyum bahagia. Berdiri dari duduknya, berjalan anggun menuju podium. Ya, aneh rasanya ia bisa maju ke tempat itu. Ia sudah terlanjur terkenal dengan sebutan Syavira Syifanya si Ratu Ghosip yang hobi gonta-ganti cowok. Dan sebutan itu, ia sudah tak menginginkannya lagi. Menyesal rasanya pernah menjadi cewek seperti itu.


"Dan juara ke tiga diraih oleh ...."


Rana menggigit bibir bawahnya. Ayolah, setidaknya ia ingin menunjukkan pada Arka. Ia tak terlalu buruk dibandingkan dengan cewek disebelahnya, cewek pilihannya itu.


"Bella Oktavia ...!"


Rana seketika dibuat lemas. "Belum ya ...," gumamnya samar. Tertunduk pasrah. Setidaknya, kalau ingin membuktikan pada Arka, ia harus menduduki posisi tiga besar. Ah, ia tak pernah berambisi untuk posisi itu sebelumnya.


"Ka," ucap Ingga, menyenggol lengan Arka yang di sebelahnya.


Arka menoleh pada cewek itu. Tanpa kata, cowok itu seolah bertanya, kenapa?

__ADS_1


"Kamu tau, aku bakal gantiin posisi dia untuk semester depan." Ingga menatap cewek berkaca mata di depan sana penuh ambisi. Hidupnya memang penuh dengan ambisi. Ambisi yang ia ciptakan sendiri.


"Ya, kamu lebih tau," balas Arka, tak terlalu antusias.


Ingga tertawa kecil. "Kamu harus bersyukur karena aku nggak satu kelas sama tau," ucapnya.


Arka melirik sekilas. Menghela napas. Kembali lagi memperhatikan pengumuman di depan. "Aku lebih bersyukur kalau kamu nggak masuk ke kelas itu," gumamnya.


"Beralih ke kelas 12 IPA 3, juara pertama di raih oleh ...."


Suara pembawa acara berlomba dengan suara riuh teriakan para siswi di ruang amat luas itu. Rana menghela napas, melirik betapa tenangnya Arka duduk di ujung sana. Seolah sudah memastikan bahwa ialah pemenangnya.


"Siapa lagi kalau bukan .... Arka Airlangga ....?!"


Suara riuh para cewek semakin menjadi. Arka, cowok yang disebutkan namanya, berdiri dari duduknya. Tersenyum sekilas, lalu maju ke depan dengan langkah panjangnya.


Rana menghela napas lagi. Benar, cowok itu adalah pemenangnya. Dan ya, benar kata Marsha berbulan-bulan lalu, Arka terlampau sempurna untuk dimilikinya.


Dan di sinilah ia. Merasa sakit, tapi harus menahan semuanya. Ia harus memupuk kesabaran, bangkit, lalu menunjukkan pada dunia, juga Arka, bahwa ia bisa. Bahwa ia bukan cewek yang hanya punya modal kecantikan belaka.


Raja memandangi punggung Arka yang bergerak semakin jauh, maju ke depan. Ia kalah lagi. Cowok itu kemudian melirik wajah cewek di sampingnya. Tapi setidaknya, ia bisa pastikan tak akan kalah mengenai hal ini.


"Dan juara ke dua, di raih oleh ...."


"Raja Algatra ....!"


Rana menoleh pada cowok di sebelahnya. Suara histeria para cewek ikut berlomba memperamai suasana. Ya, Raja termasuk hitungan cowok most wanted di sekolah ini. Tidak buruk jika dibandingkan dengan Arka. Tapi, kenapa justru hanya Arka yang menyita perhatiannya? Menyita hatinya, bahkan tak mengembalikannya, lagi.


Raja berdiri dari duduknya. Menundukkan kepala sejenak, tersenyum pada Rana, lalu maju ke depan. Juara dua bukanlah kemenangan yang patut ia rayakan dengan senyuman. Tapi, bukankah Arka kalah kalau ia berhasil mendapatkan Rana?


Pengumuman berlanjut. Setelah rentetan pengumuman itu , seluruh perwakilan juara dari masing-masing kelas kini sudah berdiri di depan semua orang. Mereka masih belum tersenyum tenang. Masih ada pengumuman terakhir yang mereka nantikan.


"Ya, masih ada kejutan lagi yang kita tunggu-tunggu dari tadi. Ayo, apa kejutannya?!" seru pembawa acara bertanya pada semua yang hadir.


Suara jeritan para siswa-siswi kembali berlomba. Juara umum! Teriak mereka walau tak terlalu jelas sebab terlalu riuh menggema.


"Ya! Benar sekali! Sekarang kita akan mengumumkan juara umumnya!"


Rana menatap ke depan, tapi berusaha tanpa melihat pada Arka. Ya, ia harus belajar melupakannya, apa pun caranya.


"Juara umum SMA Tunas Bangsa, semester ini diraih oleh ...." Sang pembawa acara menggantung kalimatnya, memancing rasa penasaran para hadirin dengan nada ucapannya.


Suara sorakan kembali berlomba dengan ramainya, meneriakkan masing-masing tebakan mereka. Dan Rana sudah tidak terlalu peduli, sebab pastinya orang itu bukanlah dirinya.

__ADS_1


"Cewek apa cowok?!" seru pembawa acara justru bertanya.


Cewek! Cowok!


Semua orang dibuat bersemangat menebak. Untuk juara kelas mungkin bisa ditebak dengan mudah. Tapi untuk juara umum, rasanya itu terlalu rumit. Terlalu banyak kriteria yang mumpuni, dan terlalu banyak persaingan di lingkungan sekolah ini.


"Arka Airlangga ....!" teriak guru itu, nyaris meledakkan ruang aula pertemuan, disusul histeria semua cewek yang makin menjadi-jadi.


Pak Kusma maju dengan bangganya, diikuti seorang murid pembawa piala di belakangnya. Begitu pula dengan Arka, cowok itu merangkai senyum, walau ia tak sepenuhnya bahagia.


Acara pengumuman juara selesai, sang pembawa acara kemudian mengakhiri acara formal hari ini, dilanjut dengan acara non formal yang akan diselenggarakan di lapangan SMA Tunas Bangsa. Di sana sudah tertata rapi podium yang digunakan sebagai panggung tempat pensi.


Semua murid riuh-ramai merangsak keluar ruangan aula pertemuan dan menuju lapangan.


Acara pensi dimulai. Pensi yang tidak terlalu berlebihan, sebab ini bukan acara perpisahan. Lagipula, pembagian rapor semester ini tak mengundang wali murid.


Dentuman musik bar-bar terdengar amat dominan. Rana memilih duduk di bawah salah satu pohon yang berjauhan dari tempat berdirinya panggung utama. Sendiri, menikmati sepi walau itu menyayat hati.


"Ra!" panggil seorang cowok, berjalan menuju ke arahnya.


"Gue cari-cari, malah ngilang di sini." Raja kemudian duduk di samping Rana.


Rana tersenyum menanggapi.


"Ke sana yuk! Gue punya kejutan buat lo," ucap cowok itu lalu tiba-tiba menarik tangan Rana, membawanya berlari menuju ke arah panggung utama.


"Heyyo, bro!" Di depan, Kibo berseru dengan lantangnya. "Karena habis ini kita mau liburan, mau berpisah untuk sementara waktu ...."


"Alay! Alay!" teriak teman-teman Kibo di ujung sana, sedang Arka hanya tersenyum bersama mereka, dengan Ingga yang terus menempel di sampingnya.


"Jadi ... kita bakal party-party coooy!" Kibo kemudian memainkan musiknya, ngerep sesuka hatinya dengan gitar bass yang dibawanya.


Riuh ramai suasana terus berlanjut. Tapi, Kibo tak bertahan lama di depan sana. Cowok itu berkata bahwa dirinya lapar, belum sarapan pagi, dan tidak bisa melanjutkan aksi bar-barnya.


"Udah, kalian jangan maksa gue lagi," ucap Kibo, sebab semua orang langsung protes setelah ia menghentikan musiknya barusan.


Usai Kibo turun dari panggung, seorang cowok lantas maju dengan penuh percaya diri, tersenyum pada seluruh audiens. Ia menyapa semua audiens, lalu melantunkan lagunya.


Raja masih menikmati lagu yang dibawakannya. Cowok itu turun dari panggung, tersenyum pada semua orang, bernyanyi, berjalan ke arah Rana dan tiba-tiba berlutut di hadapan gadis itu.


"Rana Puspakarina, gue suka sama lo. Dengan segenap hati gue, gue minta lo buat jadi pacar gue."


Suara keriuhan semakin menggema, memusatkan perhatian mereka pada Rana. Tapi Rana justru termangu, manik matanya justru menyapu sekitar, mencari keberadaan Arka.

__ADS_1


__ADS_2