
"Belum jelas sih alasannya, Ra. Arka selalu bungkam kalau ditanya soal permasalahan ini, dan Raja juga selalu ngelak. Bahkan dia selalu bilang, kalau dia sama Arka gak ada masalah apa-apa," jelas Dio atas pertanyaan Rana.
Rana diam menyimak. Tak memedulikan perutnya yang semendari tadi keroncongan tak terkira.
"Tapi kisruh-kisruhnya sih, mereka berantem cuma gara-gara seorang cewek," terang Dio lagi, sedikit berhati-hati dengan ucapannya.
"Rebutan cewek maksud lo?" Siapa?" tanya Rana dengan suara meninggi, terlihat sekali sedang termakan cemburu.
"Gue gak bisa ngasih tau ke elo, Ra. Cerita ini adalah suatu kenangan buruk. Kita se-geng sebenernya udah janji gak bakal ngungkit-ngungkit lagi."
Rana menghela napas. Matanya memejam sejenak, menghilangkan perih yang entah mengapa begitu menusuk di dalam dada.
"Jadi ... sampe sekarang Arka belum move on sama cewek itu?" tanya Rana menyimpulkan.
"Kalau masalah itu gue sih gak tau, Ra. Tapi emang dulu Arka punya rasa ke dia. Arka susah ditaklukin, Ra, bener-bener cuma dia yang bisa bikin Arka jatuh cinta. Yaa ... tapi gue gak heran sih."
"Kenapa?" tanya Rana dengan suara lesu.
"Karena dia pinter. Siswi pendatang baru yang langsung ngalahin Arka dan Raja sekaligus, jadi juara satu. Padahal, Arka sama Raja itu pasangan juara bertahan. Sebelumnya, kalau bukan Arka, pasti Raja yang juara satu."
...💕...
"Rey, kita mampir makan dulu, yuk!" ajak Raja seraya mengendarai mobil sport miliknya.
"Boleh," jawab Rena tentu saja setuju.
Tak butuh waktu lama, mobil itu pun berhenti di depan sebuah restaurant, dengan arsitektur bertemakan keChina-Chinaan.
Kenapa Raja membawa Rena ke restaurant mahal, sedangkan Rana dibawa ke warung bakso pinggir jalan?
Yap! Tentu saja karena cowok itu mengerti dan paham betul bagaimana cara memperlakukan cewek sesuai seleranya masing-masing. Rana cewek apa adanya yang suka kesederhanaan. Sedang Rena, dari caranya berpenampilan saja, tentu semua orang dapat mengetahui bahwa cewek itu punya selera berkelas yang tinggi.
__ADS_1
"Ja," panggil Rena setelah cowok di hadapannya menyelesaikan sesi pemesanan makanan.
"Ya, Rey?" jawab Raja, langsung memusatkan perhatiannya pada cewek yang baru saja memanggil namanya.
"Gue pengen ngomong sama lo. Penting," ucap Rena, setelah cukup lama menimbang-nimbang baik dan buruknya apa yang hendak ia lakukan, demi menghempaskan apa yang menjadi pengganjal di hatinya selama ini.
"Ngomong apa?" tanya Raja, mengaitkan kedua tangannya, dengan siku sebagai tumpuan di atas meja. Pintar sekali membaca emosi seseorang. Tau bahwa Rena sedang membutuhkan keseriusan nya.
"Kalau misalnya ... ada cewek yang tiba-tiba ngungkapin perasaannya ke elo, apa respon lo?" tanya Rena, sekonyong-konyong itu adalah pertanyaan biasa saja.
Mendengar pertanyaan Rena, rasanya seluruh anggota tubuh Raja lemas semua. Membuatnya menelan salivanya, menekan resah dan gugup di hatinya. Ada suatu ingatan yang tiba-tiba menyeruak dalam kepalanya.
"Ya ... tergantung. Kalau ternyata gue juga suka ke dia ... gue bakal langsung nembak dia dan kita pacaran," jawab Raja, mengukir senyum di bibirnya.
"Kalau enggak?" tanya Rena lagi.
"Kalau enggak ...," Raja menggantung kalimatnya, menatap dalam mata cewek di hadapannya. "Gue bakal hargain dia, sebisa gue dan semampu gue. Karena gak ada yang bisa ngelarang datengnya perasaan," lanjutnya, terdengar tulus sekali.
"Hahaha,,, becanda aja lo, Rey," tawa Raja menggelegar tak percaya. Berusaha menyangkal dugaannya.
"Gue gak bercanda. Gue suka sama lo, Raja," ungkap Rena lugas sekali.
Mendengar Rena mengungkapkan hal barusan, tawa Raja seketika terhenti. "Serius, Rey?" tanyanya masih tak percaya.
Rena mengangguk. Mengembangkan senyum getir.
"Tapi gue ...," Raja menggantung ucapannya.
"Tapi lo suka sama sahabat gue?" potong Rena tanpa warna pada raut wajahnya.
"Rey, sorry, gue sama sekali gak ada maksud buat nyakitin elo," ungkap Raja merasa bersalah.
__ADS_1
"Ja ...," Rena sedang memilih kata. "Rana udah suka sama orang lain. Dan dia gak bakal nyerah buat dapetin yang dia mau. Gak bisa ya, lo lupain dia dan coba buat bales perasaan gue?" tanya Rena, menguatkan hati demi berjuang mendapatkan cinta pertamanya.
"Sorry, Rey, gue gak bisa mencintai seseorang karena kasihan. Apalagi seseorang itu adalah elo, sahabat cewek yang gue suka."
...💕...
Cewek itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Bukan karena habis bangun tidur sebenarnya, ia hanya sedang berusaha mengenyahkan fikiran-fikiran negatif yang semakin membuatnya pesimis dalam mendapatkan Arka.
"Lo gak bakal bisa dapetin Arka, Ngatiyem! Seleranya Arka tuh cewek-cewek yang punya otak encer, bukan yang otak batu kayak elo!" bisikan peri jahat dari telinga kirinya, membuat ia menggeleng-geleng kepala sendiri.
"Jangan nyerah dulu lah, Yem. Pasti sebenernya Arka tuh udah ada rasa sama lo. Buktinya, tidur aja dia pake bawa-bawa origami pemberian lo," ucap peri baik, menerbitkan senyum di bibir mungil Rana.
"Yaellah, Raa... iya kalo dia tau itu kertas dari elo. Kalau gak, gimana? Buktinya, tadi pagi dia ngebuang kotak pemberian lo. Padahal kan, di dalamnya ada jaket dia. Pasti dia ogah banget deket-deket sama lo," peri jahat semakin memanas-manasi.
"Bukan gitu, Raa... dia itu cuma ragu. Tugas lo tuh, cuma harus bikin dia yakin sama lo."
"Dih, yakin? Lo sendiri pasti mulai ragu kan, bisa dapetin dia apa nggak? Mending lo nyerah aja deh. Lagipula cewek yang direbutin Raja sama Arka dulu itu pasti lebih segala-galanya dibanding elo. Lebih cantik, lebih tinggi, lebih manis, lebih bohay, dan pastinya IQ-nya gak jongkok kayak elo!"
"Stop, stop, stooop!!" teriak Rana meloncat dari posisi berbaringnya, hingga cewek itu berdiri di atas tempat tidurnya. "Bodoamat! Gue gak peduli! Intinya, lo harus jadi milik gue, titik!" ucapnya emosional, menunjuk-nunjuk wajah tampan Arka yang sudah terpampang sempurna di dinding kamarnya.
Dok dok dok!
Rana menoleh ke arah pintu, memastikan keakuratan pendengarannya.
"Kak Rana jangan ribut! Dhira mau belajar!" teriak Dhira dari luar kamar.
"Iyaa!! Dhira juga jangan belajar, Kak Rana mau ribut!" teriak Rana sekenanya.
Di luar pintu kamar, Dhira hanya bisa geleng-geleng kepala, kemudian berlalu ke kamarnya. Daripada berbicara dengan kakak perempuannya, ia tentu lebih memilih berbicara dengan tembok rumahnya saja.
Rana menghela napas. Matanya memelototi wajah Arka sejenak, tapi kemudian bibirnya tersenyum juga. Bagaimana ia bisa beralih ke cowok lain, kalau pesona Arka selalu membuatnya termehek-mehek begini?
__ADS_1
"Gue mau ngelukis temen-temen gue ah," ucap Rana, mengarahkan pandangannya ke arah tembok yang masih polos sekali, seperti bocah belum akil baligh.