
Gadis itu tetap tersenyum meski semua orang seolah menganggap ia pasti bersedih, sedang kehilangan sesuatu. Tapi nyatanya tidak, ia lebih bahagia melirik senyum seorang gadis yang sudah jauh di sana. Berjalan mendahuluinya yang memang tak ada niatan untuk memberi selamat. Tidak, bukan tak ada niatan. Lebih tepatnya tak punya cukup keberanian.
Nada kemudian duduk di tempatnya, tempat asing itu. Mengapa ia sebut asing? Sebab tak ada seorang pun yang mengenalinya disekitar tempat itu. Ah, bukan hanya di tempat itu. Semua tempat kini terasa asing. Walau kadang ia bingung, entah tempatnya yang asing, atau dirinya yang mengasing.
Sedikit getaran ponsel di sakunya kemudian mengalihkan pikirannya. Sebuah pesan dari seseorang yang sudah lama tak menghubunginya. Bukan hanya tak menghubungi, menampakkan batang hidungnya saja tidak.
Sejenak ia hanya menatap layar ponselnya hingga nyaris mati kembali. Namun kemudian, ia merubah sikapnya. Ia pernah mendengar, jika wanita belum bisa berinteraksi seperti biasa dengan masa lalunya, itu artinya ia masih belum melupakan masa lalu itu. Dan rasanya ia tidak terima dengan kesimpulan itu. Jadi ia memutuskan untuk membuka pesan itu.
...****************...
"Selamat, sayang!"
Kedatangan Rana kembali ke tempat duduknya disambut oleh suara cempreng Tante Sarah.
__ADS_1
Rana duduk di tempatnya. Tersenyum, lalu mengatakan, "Makasih banyak, Tante."
Gadis itu kemudian sedikit melirik ke tempat duduk kosong di samping Om Rangga. Manik matanya seolah sedih mempertanyakan kemana gerangan sang pemilik kursi tersebut.
"Lagi ke toilet, Sayang," potong Tante Sarah membuat Rana segera mengalihkan pandangannya. Terciduk sekali. Dan parahnya lagi, kenapa pipinya terasa memanas. Dasar bodoh!
...****************...
Langkah panjang cowok itu menaiki anak tangga dengan tegas, menuju rooftop sekolah. Tidak, Rana belum benar-benar bahagia. Hati kecilnya selalu mengatakan, gadis itu masih menginginkannya. Maka mengapa ia jadi pura-pura tak peduli? Lagipula, sampai kapan ia akan menutup mata mengenai orang yang bersama Rana sekarang?
"Pada intinya aja, Sha," ujar Arka setelah beberapa langkah mendekati Marsha.
Gadis yang dipanggil Marsha itu tak sengaja mencetak senyum miring pada bibirnya. Benar saja, dua orang mahluk Tuhan ini nyatanya memang masih menyimpan rasa. Bukan hanya menyimpan sepertinya, tapi juga memeliharanya , entah sampai kapan.
__ADS_1
"Besok ulang tahun Rana, Ka." Marsha masih memandang lurus ke depan dengan kepala sedikit menunduk. Hiruk pikuk jakarta dengan segala kesibukannya.
Arka kini berdiri di samping Marsha. "Gue tau," ucap cowok itu juga sedang memandang pemandangan yang sama.
"Waktu itu kejadian Ingga juga pas hari ulang tahunnya, Ka." Marsha mengucapkannya dengan tanpa nada. Tak juga melibatkan emosi pada ekspresi wajahnya.
Seketika, perkataan itu sukses membuat Arka menoleh pada cewek di sampingnya itu. "Lo tau, Sha?" Wajahnya tak dapat menyembunyikan keterkejutan serta rasa penasaran.
"Gue bahkan lebih tau dari pada lo." Marsha menoleh pada Arka, meyakinkan cowok itu akan pernyataannya.
"Maksud lo?" Cowok itu mengernyit. Heran, padahal ia sudah menyembunyikan kasus ini setengah mati. Lalu dari mana Marsha tahu?
Marsha mengalihkan pandangannya kembali. Memandang lurus ke depan serta mulai menimbang-nimbang harus dari mana ia memulai. Ia kemudian melihat arloji di tangannya. Sungguh waktu yang sempit.
__ADS_1
"Gue ngomong gitu bukan tanpa alasan. Selama ini lo itu udah dimanfaatin sama Ingga, Ka. Erlan bukan anak dia. Erlan itu keponakannya. Mama Erlan orang yang sibuk, dan emang gak terlalu mau pusing sama bocah yang akhir-akhir ini udah lama banget tinggal sama Ingga, yang lo juga yang jagain."
Arka mengernyit, tapi berusaha merespon tenang. "Tau dari mana lo?"