
Pulang sekolah, seperti biasa Arka dan teman-temannya mengendarai motor bersisi-sisian. Masih sibuk bercanda tawa, seolah waktu di sekolah tadi belum cukup bagi mereka. Menikmati sensasi bak raja jalanan, melaju pelan tak ingin berjauhan. Namun, tiba-tiba terdengar suara motor yang sengaja dibuat bersahut-sahutan. Mengusik jiwa Arka yang sesungguhnya sangat menyukai ketenangan.
Brum... Brum...
Rombongan bermotor di belakang mereka sepertinya memang hendak mengganggu. Mengegas tak beraturan, meng klakson tak ada hentinya, bahkan menyalip dan kemudian bermain-main disekitar mereka. Benar-benar mencari gara-gara.
Arka memutar bola matanya jengah. Ia tahu dari mana asal rombongan ini. Sejak terjadi pandemi, sudah lama ia tak terlibat permasalahan dengan SMK yang bertetanggaan dengan sekolahnya ini. Tapi mengapa mereka tiba-tiba seolah hendak mengajak tawuran begini?
Tak ada perkelahian yang serius, hanya suara teriakan bersahut-sahutan saling mengejek antara dua kubu. Jika situasi memanas, Arka cukup mengangkat tangannya saja untuk menahan teman-temannya agar tak terpancing emosi. Begitu saja. Benar-benar hanya memberi perintah dengan semudah itu, dan semuanya akan mematuhinya.
"Apa Lo? Cari mati Lo?! " teriak si Kibo geram karena sejak tadi anak-anak SMK Karya Nusantara ini terus berkeliaran di sekitar motornya. Membuat ia tak leluasa berkendara. Bahkan bergerak pun riskan tentunya, takut-takut disenggol atau juga di serepet.
"Huu ... cemen Lu! Gini aja takut!" teriak salah seorang cowok dari SMK Karya Nusantara. Cowok itu berboncengan dengan Daniel. Sedang Daniel sendiri, ia tak banyak bicara. hanya mengamati bagaimana perawakan-perawakan anak-anak SMA Tunas Bangsa disekitarnya. Entahlah, rasanya hampir sama semua. Hanya satu orang yang ia kenali. Arsya. Ya, ia yakin itu Arsya. Perawakan dan suaranya tidak dapat diragukan lagi.
"Wah, ngajak berantem Lu?!" teriak Arsya berdiri dari posisinya yang sedang dibonceng. Tangannya menunjuk-nunjuk orang yang berteriak tadi. Emosinya tentu tersalut. Tidak ada penyebab, kenapa harus ribut-ribut seperti ini?
Rena mengerutkan kening mengamati apa yang sedang terjadi di hadapan mobilnya. Menyebalkan sekali. Kalau ingin tawuran, kenapa harus di tengah jalan begini?
"Kenapa lagi sih, ini?" kata Vira geram, kemudian berdiri menaiki kursi penumpang tanpa rasa sungkan.
"Rey, Klakson Rey! "serunya pada Rena, berteriak mengimbangi suara motor yang memekakkan telinga.
Rena menurut saja, tanpa kata langsung menekan tombol klaksonnya. Entah apa yang akan dilakukan Vira, yang penting rombongan di depannya ini segera memberi jalan.
Tiiit ... Tiiiiiit ....
Suara kalkson mobil itu terngiang nyaring. Menarik perhatian cowok-cowok yang sedang bersitegang dihadapannya.
"Perhatian, perhatian! Dimohon kepada orang-orang gabut gak ada untung untuk segera memberi jalan. Karena kita, ciwi-ciwi mau lewat, " teriak Vira dengan suara cemprengnya.
Ternganga. Siapa cewek ini sampai Berani-berani menghentikan aksi mereka?Bahkan memberi titah menyingkir pula.
Tak butuh waktu lama, Daniel segera mengenali siapa saja rombongan cewek-cewek itu. Teman-teman Rana. Ia bisa kena masalah kalau tak mau menuruti keinginan mereka. Vira bisa saja mengompori Rana agar mengomelinya, atau justru memberinya pelajaran dengan semakin bersikap cuek. Huh, bisa repot jadinya.
"Kasih jalan!" titah Daniel pada teman-temannya, yang langsung dituruti saja oleh mereka.
Arka membuang muka. Sebenarnya siapa yang cemen? Sama cewek doang takut.
"Cabut!" perintahnya sembari memberi kode dengan tangan kiri. Untuk saat ini, tawuran bukan sesuatu yang bisa dipilih sebagai jalan keluar.
Kamar Rena_17.00
Rena sedang menonton TV, begitulah aktivitasnya setiap hari. Bukan karena senang apalagi hobi. Habisnya ya ... mau gimana lagi? Mau main ke rumah teman-temannya pun, masa iya harus setiap hari. Apa tidak keterlaluan namanya?
"Rey? " Panggil seseorang kemudian di susul suara pintu dibuka, membuyarkan lamunan Rena.
"Ma? Kok udah dateng?" tanya Rena. Tumben-tumbenan mamanya sudah datang dijam-jam sore begini. Biasanya wanita karir itu tak pernah menghabiskan malamnya di rumah. Tidur dirumah saja sudah untung-untungan. Apalagi Ayahnya, lebih parah lagi.
"Hhh, kamu gak suka mama pulang cepet?" seloroh Mia, mama Rena. Duduk disamping anak gadisnya itu.
"Kan Mama jarang pulang. Masih jam segini lagi, " Sungut Rena datar, padahal ia sudah ingin memeluk mamanya sedari tadi.
Mia menghela nafas, kemudian menyentuh pundak anaknya dan berkata, "Rey, nanti malem ada makan keluarga. Kamu ikut ya? Kan kamu jarang ikut acara-acara seperti ini." Mia mulai membujuk Rena. Kalau anak tunggalnya itu tak ikut lagi, apa kata keluarga besar Mas Wijaya? Ia bisa dicap sebagai Ibu yang tak bisa mendidik anaknya.
...💕...
"Ra, Papi anter pulang yuk! Entar dicariin Mami lho," Ajak Darren mengelus-elus kepala Rana yang ditidurkan di pangkuannya.
"Emm ... Rana males Pi, " sahut Rana cemberut. Matanya masih fokus mengamati layar televisi dihadapannya.
"Jangan gitu dong, entar kalau Papa kamu marah-marah, bisa geger satu Indonesia," kelakar Papi Rana, membayangkan suami mantan istrinya itu ngamuk dengan wajah merah padam bak tomat busuk.
"Ha ha ha Papi bisa aja. Yaudah deh Rana nurut, tapi maunya dianterin Papi," kekeh Rena bangkit dari posisi tidurnya yang jujur, terasa nyaman sekali. Yaa ... daripada Om Cipto semakin mencecarnya dengan berbagai macam nasehat unfaedah lagi, lebih baik ia pulang saja secepatnya.
...💕...
"Eh, Pak Budi? Gimana kabarnya Pak?" sapa Darren tersenyum ramah pada penjaga rumah Rana. Maklum saja, ia tentu tak asing dengan pria berusia separuh abad itu. Toh, ia juga masih sering mengantarkan Rana pulang jika anak gadis itu habis menginap atau sekadar berkunjung ke rumahnya.
"Eh, pak Darren. Saya baik Pak. Nganterin Non Rana, Pak?" tanya Pak Budi segera membukakan pintu gerbang.
__ADS_1
"Iya Pak. Kok rumahnya keliatan sepi Pak? " Tanya Darren lagi. Sedang Rana hanya mengintip dari jendela, keadaan rumahnya yang memang sedang tak ada mobil di dalam garasi.
"Oh, Bu Puspa sama Pak Cipto sedang pergi Pak. Katanya, mau menghadiri acara makan-makan keluarga besar Pak Walikota," terang Pak Budi.
Darren hanya manggut-manggut, seolah tak merasakan kesakitan apa-apa. Padahal hatinya bagai disayat sebilah pedang nan tajam. Entahlah ... sampai saat ini juga ia belum bisa melupakan Puspa. Padahal sudah lebih dari sepuluh tahun lalu ia bercerai dengan perempuan bersuara merdu itu.
Mendengar kabar itu, Rana tak ragu langsung keluar dari dalam mobil Papinya. Setidaknya, kalau begini ia bisa sedikit terhindar dari rangkaian kultum harian ayahnya yang menyebalkan.
"ya udah Pi, Rana masuk dulu ya, " ucap Rana setelah berdiri disamping Pak Budi
Pak Budi melongo, matanya melebar memandang majikannya itu dari atas hingga bawah. Benar-benar seperti orang-orangan sawah.
"Non Rana... pakai baju Pak Darren? "
"He he he, iya Pak. Habisnya Rana gak bawa baju pas kesana. Tapi bagus kan, Pak?" kekeh Rana kemudian berputar-putar pecicilan. Semakin memperlihatkan bahwa bajunya sangat kedodoran.
"Ba, bagus sih," respon Pak Budi sembari menggaruk-garuk kepalanya yang sedang tak gatal.
"Hhh, masuk sana Ra! Memangnya kamu gak ada jadwal daring malem ini? " Darren mengingatkan. Kalau tidak diingatkan, bisa-bisa bocah itu malah sibuk menonton drama Korea.
...💕...
Rumah sedang sepi. Ayah dan ibunya sedang menghadiri acara makan malam, sedang kakaknya di rumah ayah tirinya. Tadinya ia senang sekali, bisa mengerjakan PR dengan tenang tanpa gangguan suara kakaknya yang sering berjingkat-jingkat atau berteriak histeris karena kebaperan. Tapi lihat sekarang, tidak ada orangnya bahkan handphone-nya saja sudah cukup membuat kesal.
Dhira memijit pelipisnya geram. Sedang mengerjakan soal-soal matematika dengan serius tapi suara nyanyian lagu "gundul-gundul pacul" terus saja terngiang-ngiang memekakkan telinganya. Membuat ia tak fokus saja. Pasti itu suara nada dering dari handphone kakaknya.
Dhira menggebrak mejanya geram. Kalau begini terus otaknya bisa jadi buntu, seperti otak kakaknya. Benar-benar menyebalkan. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan segera melenggang menuju kamar super berantakan milik kakaknya.
Ditatapnya ponsel itu tajam. Kalau boleh, ia ingin membanting benda itu sekarang. Tercetak nama "Niel" Di layar ponsel itu. Dasar tukang bucin! Gerutunya geram kemudian menolak panggilan dari cowok itu.
"Pantas saja, " ucapnya lagi tersenyum licik, kemudian jemarinya dengan lincah memblokir nomor itu tanpa pikir panjang.
Siapa suruh tak mau belajar.
"Dhira?" Tak disangka-sangka ternyata Rana sudah berdiri di ambang pintu kamarnya itu. Menatap adiknya dengan tanda tanya besar. Sedang apa bocah dewasa itu di sini?
Dhira tak terkejut apalagi salah tingkah. Ia terlanjur pandai mengatur emosi terlebih lagi ekspresi. Jadi ia hanya memandangi kakaknya dari atas hingga bawah.
Jemarinya segera menekan tombol kembali pada ponsel kakaknya, menghapus riwayat, dan meletakkannya lagi.
"Dhira, ngapa .... "
"Matiin alarm." Dhira enggan menunggu pertanyaan kakak nya selesai dilontarkan.
"Ooo .... " Bibir Rana membulat. Percaya saja dengan perkataan adiknya.
"Mama sama Papa lagi ada makan malam sama keluarganya Kak Rena," Terang Dhira sambil melangkah hendak keluar dari kamar kakaknya.
"Udah tau," sahut Rana kemudian menjulurkan lidahnya. Gemar sekali mengganggu adiknya yang minim ekspresi ini.
"O," singkat Dhira, kemudian memasuki kamarnya.
"Cuma O? Dasar nenek-nenek!" ledek Rana lirih. Heran sekali adiknya bisa sekaku ini. Seperti orang dewasa. Padahal seingatnya, ia dulu tak begitu. Paling-paling cemberut kalau sudah diceramahi Papa. Itu saja.
"Oh ya, jangan berisik! Aku lagi belajar." Dhira tiba-tiba menongolkan kepalanya lagi. Membuat Rana kaget saja, tapi kemudian masuk lagi tanpa menunggu respon dari kakaknya.
"Huh!" dengus Rana, kemudian memasuki kamarnya, berganti baju dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ia menatap langit-langit kamarnya,sedang pikirannya melayang entah kemana. Sejujurnya ia juga bosan jika harus di rumah terus, sementara teman-temannya sedang bersenang-senang di sekolah. Ia rindu masa-masa itu, dimana kesedihannya bisa terlupakan dengan mudah. Walau hanya sementara.
...💕...
Daniel membanting HP nya di kasur. Sudah seharian ini ia sibuk menenangkan pikirannya yang semakin tak keruan. Hari ini ia tidak keluar rumah sama sekali. Padahal biasanya ia paling tak betah berdiam diri di dalam rumah.
Seharian ia mencoba menghubungi Rana untuk menanyakan perihal foto itu. Tapi lihat sekarang, tiba-tiba pacarnya itu memblokir nomornya. Benar-benar membuatnya semakin geram. Secuek-cueknya Rana, semalas-malasnya cewek itu membalas pesannya, bahkan juga sering menolak panggilannya, ia sama sekali tak pernah memblokir kontak cowoknya sendiri.
Pasti ini ada apa-apanya. Tak mungkin tak ada alasan untuk hal sejanggal ini.
Daniel segera bangkit dari posisi duduknya. Disambarnya kunci motor dari atas meja disebelah ranjangnya. Ia harus menemui Rana sekarang juga.
__ADS_1
"Ha ha ha, jadi ya begitulah, Rena ini sudah mulai sekolah tatap muka dari sebulan lalu. Dan dari yang saya lihat semuanya berjalan lancar," celoteh Pak Wijaya, ayah Rena. Sembari menepuk-nepuk pelan pundak anak tunggalnya.
Rana hanya tersenyum singkat, kemudian memasang wajah datar lagi. Seperti biasa, ayahnya pasti sedang pencitraan mengenai kedekatannya dengan keluarganya. Maklum saja, makan malam kali ini tak cuma dihadiri keluarga besarnya tapi juga dihadiri teman-teman lama ayahnya yang terhitung orang-orang terpandang di negeri ini. Termasuk Om Cipto, ayah Rana.
Tak hanya sampai disitu, bahkan ayahnya sejak tadi terus menggenggam atau mengelus-elus punggung tangan ibunya. Mengumbar kemesraan seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Oh ya Cip, mana Rana dan Dhira? Kenapa tidak hadir diacara malam ini?" tanya Pak Wijaya.
"Dhira sedang belajar tadi, jadi dia tak ingin diganggu. Kalau Rana ya ... kau tau sendirilah. Dia sedang bersama teman-temannya. Biasa, anak muda, " dusta Cipto sangat tak mengenakkan jika mengatakan anak itu sedang berada dirumah mantan ayah tirinya. Apa kata semua orang? Bisa-bisa ia dicap sebagai ayah yang kurang memperhatikan anaknya. Padahal ia sudah sering menasihati, sangat malahan. Awas saja jika sepulang dari acara ini anak itu masih belum berada dirumah. Ia sudah siap mendatangi Darren si kurang ajar itu.
Rena menggerutu dalam hati. Dimana sih, Rana? Kenapa ia tak datang? Masa iya dia jalan-jalan sama yang lain. Huh! Ini curang namanya.
"Emm, permisi Pa, Rena mau ke toilet dulu, " ujarnya kemudian melenggang menuju ke luar ruang pertemuan. Bodoh amat jika ada orang yang memperhatikannya dan mengetahui kebohongannya soal izin ke toilet.
"Ra?" Panggilnya setelah sukses menelfon Rana.
"Ya, sayang!" sahut Rana girang. Pas sekali karena ia sedang gabut dan akunnya juga sepi.
"Gue lagi di acara makan malem nih, kok lo gak deteng sih? Bokap Lo bilang, lo lagi jalan-jalan bareng temen. Bener tuh? "
"Ha? Jalan-jalan? Bareng temen? Enggaklah, orang gue baru aja pulang dari rumah Papi kok."
"Oo ... gue kira kalian jalan-jalan gak ngajak gue. Udah dulu ya Ra, gue izinnya ke toilet ini tadi, " kata Rena tanpa bertele-tele segera menutup telfonnya. Sebenarnya bukan karena ingin secepatnya kembali, tapi ia hanya ingin sendiri. Jika saja tidak segera dimatikan, Rana pasti akan langsung berceloteh tentang adegan-adegan pada drama korea yang sedang ditontonnya saat ini.
Dan disinilah ia sekarang,duduk merenung sendiri di teras ruang pertemuan.
Mungkin jika dilukis ia akan menjadi pemandangan yang indah. Gaun merah yang berkesan mewah, dan rambut bergelombang indah yang ditata dengan sedemikian apik. Dandanannya pun tak kalah cantik.
Ya, begitulah, ini acara formal yang dibungkus dengan acara keluarga. Lihat saja didalamnya, semua orang sengaja menggunakan topeng untuk menutupi jati dirinya sendiri.
"Hai, Rena!" sapa seorang cowok tiba-tiba sudah duduk di samping Rena. Membuatnya agak terkejut karena ia tidak mengenal siapa laki-laki itu.
"Eh, Hai!" balas Rena agak canggung. Ia agak tercenung menatap wajah pria itu. Tatapan hangat bersahabat, hidung mancung, rahang tegas, kulit putih bersih, dan senyum yang mengembang ramah. Devinisi tampan sesungguhnya.
"Hei, kok malah ngelamun," ucap cowok itu melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Rena.
"Eh, maaf. Emm ... siapa ya?" tanya Rena agak kikuk. Kok bisa, cowok ini mengenalnya?
"Hhh ... padahal tadi udah perkenalan di dalem. Tapi gak papa deh, mungkin lo lagi gak nyimak." Cowok itu kemudian menyodorkan tangan kanannya.
"Raja. Anak dokter Broto, temen bokap lo, " ucapnya akrab. Tak berniat bermanis-manis atau berlaku sopan di hadapan anak walikota ini. Lagi pula cewek ini sepertinya seumuran dengannya, malah mungkin juga adik kelasnya.
"Rena," ucap Rena menyambut uluran tangan cowok itu.
"Di dalem sumpek ya, pantes aja lo gak betah." Raja memulai obrolan.
"Ya gitu deh, acara keluarga yang berbau politik," kekeh Rena tersenyum getir.
"Sekolah di SMA Tunas Bangsa?" tanya Raja dengan senyum yang sepertinya memang sering ia kembangkan secara cuma-cuma.
"Iya. Lo?"
"Sama, tapi gue belum pengen masuk dulu, "
"Bukan gara-gara takut jarum suntik, kan? " tanya Rena tiba-tiba teringat sahabat karibnya. Si mungil Rana.
"Hhh, ya enggak lah. Gue mah udah divaksin. Sekarang gue malahan, yang nge vaksin orang-orang," kekeh Raja.
"Eh, maksudnya?"
"Iya. Gue dikasih kepercayaan sama bokap buat megang tempat prakteknya. Bokap gue sekarang lagi sibuk di Rumah sakit. Yaa ... Itung-itung buat pengalamanlah. "
"Owh ya?"
Wihh... cogan baru nih temen-temen. Kalau dibandingin sama Daniel dan Arka, kira-kira ganteng mana yaa....
Oke, makasih udah baca cerita ini ya .... Kuharap kalian seneng dan gak bosen-bosen.
__ADS_1
See you