The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tuntutan Penjelasan


__ADS_3

Rana menggeleng--gelengkan kepala merajuk. "Pokoknya jelasin sekarang!" rengekan lagi.


"Iya, iya, oke. Sini coba." Arka meminta Rana agar duduk di sampingnya, bersandar pada sandaran ranjang. Rana menurut saja.


"Tanya satu-satu. Aku gak bakal bohongin kamu," ucap cowok itu kemudian. Merangkul bahu Rana dekat ke arahnya.


Rana terdiam sejenak sembari mencoba menghilangkan sesenggukannya. "Siapa Alea? Arka cuek ke semua cewek, terus kenapa ke Alea nggak?" tanyanya.


Arka menghela napasnya, kemudian sudut bibirnya terangkat juga. "Alea itu adik temen aku di Bandung. Dulu, aku sama temen-temen aku emang sering ke Bandung. Nginep di rumahnya. Ya ... karena dia pendatang baru di sini, dan kakaknya juga udah temen dari lama, masa iya, aku gak bantuin dia? Lagian, aku cuma bantu nganterin dia ke ruang guru pas baru dateng aja, kok."


"Arka sering ke Bandung? Sengaja ya, biar bisa ketemu Alea terus?" sungut Rana cemberut. Sudah tak mau menyembunyikan kecemburuannya lagi.


"Ya bukan lah, Ra. Dulu kita emang sering healing ke sana. Ya sekedar tour ke luar kota aja. Ya kadang ndaki gunung segala."


"Terus, waktu kemarin malem Rana nelpon Arka, kenapa Arka bilang lagi di rumah temen? Jujur, Arka lagi di rumah Alea, kan?" tuntut Rana lagi.


"Iya ... itu emang di rumah Alea. Tapi aku ke sana bukan buat ketemu dia, kok."

__ADS_1


"Terus? Ketemu neneknya?" Rana masih belum puas juga.


Arka justru dibuat terkekeh. "Ya aku mau ketemu temen aku lah, Ra .... Dia baru dateng dari Bandung, jadi gak enak kalo minta ketemunya di tempat lain."


"Jangan bo'ong! Nama temen Arka siapa? Terus, nomor baru yang di WA Arka itu nomornya siapa? Nomornya Alea, kan?"


Arka mau tak mau mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya yang sengaja tak dikancing. Memperlihatkan kaos hitam polos sebagai baju dalamnya.


"Ini." Setelah dibukanya aplikasi itu, ia menyodorkannya di hadapan Rana. "... Namanya Rian, kakaknya Alea."


"Masa?! Waktu itu belum ada namanya. Cepet banget Arka ngegantinya," cecar Rana masih belum puas juga.


"Halo, Rian?" sapanya tak lupa mengaktifkan mode loudspeaker.


"Ya? Gimana, Ka?" suara seorang cowok akhirnya terdengar dari ujung sana.


"Sorry ganggu. Nih, cewek gua mau bicara sama lo." Arka menyodorkan ponselnya pada Rana.

__ADS_1


"Halo! Ini beneran laki-laki, kan?" tanya Rana tanpa sungkan-sungkan dengan suara cemprengnya, setelah mengambil alih benda gepeng itu dari tangan Arka.


"I-iya," jawab Rian di ujung sana, terdengar sedikit bingung mencerna pertanyaan cewek itu.


"Bukan bencong, kan?" tanya Rana lagi.


"Bu-bukan lah!"


"Oh, ya udah." Rana langsung mematikan sambungan telepon tanpa basa-basi lagi.


Di tempatnya, Arka malah tertawa mendengarkan pertanyaan-pertanyaan Rana yang random. Pasti, di sana Rian bingung setengah mati.


"Loh, kok malah ketawa?" tanya Rana masih merengut.


"Kenapa pake tanya dia bencong apa bukan segala?" tanya cowok itu kemudian tertawa lagi.


"Ya siapa tau Arka doyan bencong," jawab Rana sekenanya. Tapi kemudian, ia memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Tetep aja, harus ada alasan yang tepat buat Arka malem-malem dateng ke rumah Alea. Kan, besok-besok bisa. Si Rian itu entar juga ikut nongkrong di tongkrongan Arka. Harus banget ya, didatengin malam itu juga? Jangan-jangan, Arka mau ngelamar Alea, ya?!" posesifnya menatap Arka penuh curiga.


__ADS_2