The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Kericuhan


__ADS_3

"Hhh, salah apa lo bilang? Gak usah sok suci so polos, Ra! Semenjak lo dateng, lo udah ngerubah keadaan di sekolah ini. Gak ada yang namanya cewek-cewek cantik karena kata cowok-cowok yang cantik tuh ya cuma elo. Kita semua cuma perusak pemandangan di mata mereka. Hidup lo tentram banget, tapi lo gak sadar hubungan cewek-cewek lain rusak gara-gara diem-diem cowok mereka suka sama lo, diem-diem nyimpen foto lo di hp mereka, dan diem-diem stalk ig lo. Lo gak sadar, kan? Makanya kita semua harus nyadarin lo!"


"... Lo harus sadar...." Marsha mendorong-dorong kepala Rana dengan jari telunjuknya. "Lo tuh, cuma boneka barbie yang gak punya otak!"


Dug!


Rana mendesis kesakitan. Kepalanya sampai terbentur mading gara-gara ulah Marsha.


......................


"Loh, Rana mana sih? Kok lama amat," ucap Vira bersandar di dinding, berjarak cukup jauh dengan tempat Rana berada.


"Gua periksa deh," Raja tiba-tiba mengajukan diri. Merasa ada yang tidak beres dengan suasana ramai di pagi hari ini. Tanpa menunggu persetujuan, cowok itu lantas melangkahkan kaki menghampiri gerombolan tempat Rana berada. Dan anehnya, semakin ia mendekati, semakin terdengar suara rusuh di sana.


"Rana?" panggil cowok itu setelah berhasil menyingkirkan siswa-siswi yang memenuhi jalan. Terkejut mendapati Rana tengah berjongkok menutupi wajah di tengah-tengah gerombolan.


Pandangannya kemudian tertuju pada selebaran kertas yang berhamburan di sekitar cewek itu.


"Ra, lo gak papa, kan?"


Mendengar suara Raja, buru-buru Rana menghapus air matanya, berdiri dari posisi jongkoknya dan segera memanfaatkan kesempatan yang ada. Berlari pergi meninggalkan pembulian yang menimpa dirinya. Menuju ke tempat yang entah ia sendiri tak tahu.


"Ra!" panggil Raja. "Sya, ini semua pekerjaan lo, ya?" tuduh cowok itu pada cewek di hadapannya.


...💕...


Di parkiran SMA Tunas Bangsa yang sudah terlampau sepi, Arka memarkirkan motor KLX-nya mulus. Kemudian melepaskan helmnya dan tak lupa pula cowok berjaket jins itu menyugar rambutnya.


Setelah turun dari motornya, cowok itu lantas melangkahkan kaki meninggalkan area parkiran, dengan kedua sudut bibir yang tertangkat tak seperti biasanya.


Arka menyipitkan kedua matanya sesampai di area koridor sekolah, melihat Raja yang terlihat sedang dilanda emosi. Tapi ia tak menghentikan langkah sama sekali. Sedikit penasaran dengan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Ngaku aja lo! Lo kan, yang nempelin semua ini?!" tuduh Raja, pada cewek di hadapannya yang tengah menyedekapkan kedua tangan angkuh.


"Gue udah bilang, bukan gue," tegas Marsha memutar bola matanya jengah.


"Halah! Ngaku aja lo!" Vira mendorong Marsha sebal sekali.


"Heh! Lo cabe-cabean jangan kurang ajar, ya!" Marsha langsung balas mendorong Vira.


"Heh, Kuntilanak! Berani-beraninya lo bilang gue cabe-cabean! Lo tuh, kayak neneek sihir!" Vira juga tak terima.


"Dasar cewek gila!" Marsha yang sudah tidak sabar, lantas menjambak rambut panjang Vira.


"Oo... nantangin gue ya lo!" Vira balas menjambak. Dan terjadilah aksi jambak-jambakan diantara keduanya.


Raja mengacak-acak rambutnya frustasi. Bingung tak tahu cara untuk mengatasi masalah ini.


Arka menghentikan langkah tepat di samping Raja. Namun, pandangannya tertuju pada selebaran kertas yang terhampar berantakan dimana-mana. Diambilnya selembar kertas dari lantai dan dibacanya. Kepalanya kemudian menoleh pada mading di sebelahnya, mengamati jajaran kertas yang tertempel di sana. Rana Puspakarina.


......................


Langkah cowok itu bersegera sekali. Menaiki satu persatu tangga SMA Tunas Bangsa. Menuju ke pelataran tertinggi di sekolah ini. Rahangnya mengatup rapat. Seolah ada kobaran api yang membakar dada dan kepalanya sehingga ikut berkobar.


Kring...


Bel apel berbunyi, tapi cowok jakung itu sama sekali tak berniat menghentikan langkahnya. Kedua tangannya yang terlanjur mengepal semakin mengepal dan mengepal, menahan emosi yang semakin bergejolak di hati.


...💕...


"Udah!" bentak Raja berusaha memisahkan Vira dan Marsha sebab bel apel pagi telah berbunyi.


"Lo apa-apaan coba!"

__ADS_1


"Heh! Dasar lo*te!"


"Heh! Lo yang lo*te!"


"Gue sumpahin lo janda seumur hidup!"


"Gue sumpahin lo mandul tuju turunan!"


Pertengkaran kedua cewek itu masih belum berakhir. Umpatan dan sumpah serapah tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka.


Raja benar-benar bingung harus berbuat apa, begitu pula dengan Arsya dan Nada. Meskipun sudah dipisah, mereka akan saling menyerang lagi.


Tapi kemudian cowok itu melihat kedatangan seorang cowok ke arah tempat terjadinya kericuhan. Dan Raja tahu pasti, cowok itu berpengaruh sekali untuk menghentikan ulah Marsha.


"Ndra! Lo urusin nih, cewek lo! Gue udah capek," teriak Raja benar-benar menyerah tak bisa mengatasi.


Andra yang dipanggil, hanya bisa menghela napas jengeh. Tapi semalas apa pun ia mengurusi hal-hal seperti ini, ia akan tetap melakukannya, karena ini adalah tanggung jawabnya.


"Marsha!" Dengan suara agak meninggi, cowok itu seketika sukses menghentikan kericuhan yang ada, lebih tepatnya menghentikan pergerakan Marsha yang langsung menjauh dari Vira dan memperbaiki keadaan dirinya yang sudah acakadul tak keruan, menatap nyalang pada cowok yang barusan membentaknya.


"Udah ribut-ribut nya? Gak dengar kalian, bel apel udah bunyi?!" bentak Andra tak menghiraukan tatapan nyalang cewek itu.


"Tapi dia yang...."


"Udah, gak usah tapi-tapi! Gue gak mau ada kejadian lagi," tegas Andra memotong ucapan Vira.


Vira menelan salivanya. Ternyata Andra kalau udah galak serem juga.


"Semuanya bubar! Sya, ikut gue," ucap cowok itu meraih tangan Marsha.


"Gak usah sentuh-sentuh gue!" Marsha menghempaskan tangan Andra kasar.

__ADS_1


"Jangan ikut campur lagi urusan gue. Lo sendiri kan, yang minta kita udahan?" ucap cewek itu, terlihat penuh dendam dan kesedihan. Benar-benar sisi lain dibalik seorang Marsha si cewek ratu bullying.


__ADS_2