
Marsha tidak tahu, kenapa semakin hari waktu berjalan semakin cepat. Besok rupanya sudah hari terakhir ujian. Dan ada sesuatu yang harus ia lakukan segera. Tentu saja, menyatukan Arka dan Rana serta memisahkan Cewek itu dari Raja.
Ada sejuta rahasia dalam hubungan mereka dan ia akan mengungkapnya satu per satu.
Gadis itu tersenyum miring. Ia tak sabar melihat Ingga kehilangan satu-satu miliknya saat ini. Lagi pula, setelah kejadian itu, Ingga sudah tak terhitung sebagai sepupunya bukan?
...****************...
Ruang ujian itu masih saja hening hingga di saat-saat terakhir. Rana menyocokkan kembali jawabannya. Senyum simpul hinggap pada bibir mungilnya. Ia tak pernah tahu, ternyata kalau kita sudah belajar sebaik mungkin, soal-soal seperti ini menjadi tidak punya harga diri di mata kita. Mudah sekali.
Rana berdiri dari duduknya dengan wajah full senyumnya. Memberikan kertas ujiannya kepada pengawas dengan ceria dan keluar ruangan dengan langkah kecilnya. Ujian terakhirnya, selesai ....
Di tempat duduknya, Nada mengintip kepergian Rana. Ujung bibirnya sedikit terangkat, tapi kemudian ia fokus kembali dengan kertas di hadapannya. Ia tak tahu Rana akan berhasil atau tidak dengan jawabannya, tapi ia tahu gadis itu sudah berjuang bahkan lebih keras darinya. Jika Rana berhasil, hal yang pertama ia lakukan adalah mengikhlaskan. Tentu, hanya itu yang dapat ia lakukan, walau ia ingin lebih. Mengucapkan selamat, mungkin.
Di meja bagian depan, cewek dengan mata tajam itu melirik dengan cepat. Wajahnya terlihat tak suka. Tentu saja, sampai kapan pun ia akan membenci Rana. Cewek itulah yang sudah merebut satu-satunya cintanya. Dan rencananya sudah sukses besar. Gadis itu juga kehilangan cintanya.
Baru saja Rana melangkahkan kakinya keluar kelas indra penglihatannya sudah menangkap keberadaan Marsha yang duduk sendirian di depan kelasnya. Gadis yang merupakan kakak kelasnya itu harusnya masih di kelas saat ini. Ujian akhir harusnya bukan hal yang mudah, kan?
"Marsha?" Tanpa fikir panjang, Rana segera mendatangi cewek itu. Tersenyum ramah dengan bibir mungilnya. "Lo udah selesai ujiannya?"
Marsha menengadahkan kepalanya. Mendapati sebuah senyuman tulus dari Rana. Tapi dari pada hal itu, ada hal yang lebih penting yang ia ingin sampaikan.
"Ra, gue mau bicara sama lo," ucap Marsha seraya bangun dari duduknya. Wajahnya tak bisa menyembunyikan mimik serius itu.
Rana mengernyit. "Mau bicara apa, Sha? Bicara aja," tanggapnya.
Marsha menggandeng lengan cewek di hadapannya itu. "Ini penting banget, Ra. Tapi jangan di sini," katanya kemudian.
__ADS_1
Rana masih mengernyit heran, tapi karena ia penasaran, akhirnya gadis itu menganggukkan kepala juga. Setuju walau tak tahu maksud Marsha apa. Setidaknya, ia tahu gadis itu bukan gadis yang seperti dulu.
...****************...
"Lo mau ngomong apa, Sha?" tanya Rana setelah keduanya duduk bersebelahan di rooftop sekolah. Hanya mereka berdua.
"Lo masih cinta sama Arka kan, Ra?" Marsha tak mau berbasa-basi.
Rana mengernyitkan dahinya kembali. "Nanya nya nggak usah ngaco lah, Sha," ucapnya kemudian memalingkan wajah, tak suka dengan topik semacam ini.
"Ra ..." Marsha menyentuh bahu Rana. "Lo nggak perlu bohongin diri sendiri, Ra. Hidup emang lagi nggak baik-baik aja, tapi gue tau kalian masih sama-sama punya rasa." Cewek itu berusaha membuat Rana memalingkan wajah kepadanya lagi.
Rana masih tetap dalam posisinya. Sudah lama ia menyiapkan diri untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Tapi kenapa ini begitu sulit jika sudah benar-benar dihadapi? Dia begitu naif untuk berbohong lagi.
"Arka itu cintanya sama lo, Ra. Dia gak pernah ada niat buat nyakitin lo. Dia cuma harus ...."
"Dia nggak pernah ngelakuin itu, Ra. Bukan dia yang ngelakuin. Arka gak mungkin kayak gitu."
Rana tertegun sejenak, tapi tentu saja ia tak langsung percaya. "Kalau bukan dia yang hamilin, terus kenapa dia yang harus tanggung jawab? Gak mungkin kan, dia rela-rela ninggalin gue demi anak haram yang bukan darah dagingnya?" Keadaan semakin bersitegang.
"Itu bukan anak Arka, Ra. Bukan juga anak Ingga."
Rana mengernyit lagi. "Maksud lo?"
"Emang bener, Ingga itu cinta pertama Arka, jadi mungkin dia punya sesuatu yang lo nggak punya. Kenangan yang lebih, karena mereka dulu sahabatan. Simpati yang lebih, karena Arka tau apa yang udah dialami sama Ingga. Dan Ingga manfaatin itu semua buat ngelakuin kebohongan besar ke Arka."
Rana terdiam. Entah kenapa, ucapan Marsha sukses membuat sebuah lubang kecil di hatinya semakin terpukul. Benar, Ingga punya sesuatu yang ia tak punya.
__ADS_1
"Bayi itu adalah keponakan Ingga, Ra. Emang Ingga pernah berhubungan di luar nikah sebelumnya. Tapi itu bukan anak Ingga, dan bukan juga Arka pelakunya."
"Bukan Arka?" tanya Rana. Dan entah mengapa, ada sedikit kelegaan yang menjalar di sela-sela hatinya.
"Ingga dateng ke Arka dan bilang kalau bayi itu adalah hasil kecelakaan, yang Arka juga tau jelas kejadiannya karena dia yang bantu Ingga ngasih pelajaran ke pelakunya. Arka gak mungkin nolak, Ra. Dia naif dan terlalu baik. Gak mungkin dia tega ngeliat bayi itu tumbuh tanpa seorang ayah."
"Kok lo bisa tau?" Tanpa sengaja, kedua tangan Rana mengepal. Ia semakin geram dengan iblis itu. Ia juga merasa kasihan dengan Arka. Ternyata keadaannya tidaklah semudah itu.
"Gue sepupu Ingga," jawab Marsha tak terlalu bersemangat. "Erlan itu anak Tante gue yang emang sosialita banget dan nggak terlalu peduli sama anaknya."
"Terus pelakunya ... siapa?" Rana menelengkan kepalanya. Ia tidak tahu bisa mempercayai informasi ini atau tidak. Tapi setidaknya, itu yang bisa ia lakukan untuk sementara.
Marsha menggenggam kedua tangan Rana perlahan, menelungkupkannya dan meyakinkan diri untuk segera mengatakanya.
"Gue minta maaf banget kalau informasi ini bakal bikin lo kaget, Ra. Orang itu adalah ... pacar lo, Raja."
Rana tertegun sejenak, tapi kemudian ia segera menarik tangannya dari genggaman Marsha dan berdiri. "Lo jangan coba ngehasut gue ya, Sha! Gak mungkin Raja kayak gitu."
Marsha ikut berdiri juga. Sudah tahu bahwa ini mungkin akan terjadi. "Gue gak boh ..."
"Udah, cukup! Sekarang lo pergi gak, dari sini?!" usir Rana, tak bisa menahan diri.
Marsha hendak menjelaskan, tapi ia memundurkan langkahnya. "Ya udah, Ra. Gue cuma pengen ngasih tau lo, supaya lo hati-hati sama ...."
"Pergi!" usir Rana lebih tegas lagi.
Marsha menghela napas, dan kemudian memutuskan pergi. Tak ada yang bisa ia paksakan di sini.
__ADS_1
Rana mendaratkan dirinya dengan lemas di kursi, menutupi wajahnya frustasi. Tolong katakan padanya, semua informasi ini bohong, kan?