The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tekanan


__ADS_3

"Aduh, Jaa ... gimana, ya. Gue abis diomeli. abis-abisan sama nyokap bokap gue. Sekarang ceritanya gue lagi disuruh merenung di kamar. Gak boleh keluar-keluar. Ya kali gue malah keluar bareng lo."


Di ujung sana Raja malah tertawa terbahak-bahak.


"Loh? Kok malah ketawa sih?" Rana cemberut. "Orang gue lagi dapet musibah juga," ucapnya lagi.


"Eh, lo serius, Ra?" tanya Raja setelah berhenti dari tawanya.


"Ya serius lah. Ngapain juga gue bohongin lo?"


"Hehehe, abisnya gue fikir tante Puspa mana mungkin bisa marah. Orang kalem banget gitu kok."


Rana memutar bola mata jengah. Itulah yang tak habis ia fikir semendari tadi. Maminya bukan orang yang mudah tersulut emosi begini.


"Terus, berarti dari pulang sekolah lo belum makan?"


"Ya belum lah."


"Jujur aja, Ra, pasti lo sebenernya laper banget, kan, tapi gengsi mau keluar ngambil makanan di luar kamar lo? Gue jamin, pembantu lo pasti udah nyediain tu makanan dari tadi."


Mendengar ucapan Raja barusan, ia jadi penasaran apakah bi Esih benar melakukan apa yang dikatakan Raja. Ia lantas membuka sedikit pintu kamarnya. Dan benar, sudah ada nampan berisikan makanan di meja deket pintu kamarnya.


"Bener kan, apa kata gue?"


"Kok lo tau, Ja?" tanya Rana sembari menutup pintu kamarnya lagi.


"Pengalaman, gue mah. Udah deh, lu pokoknya siap-siap aja. Nyokap bokap lo biar gue yang urus. Lagi pula lo lagi banyak masalah, kan? Gue adalah tempat curhat terbaik. Itu sih kata karyawan di klinik bokap gue."


"Tapi, Ja...."


"Udah."


Tuut....


Saluran telepon kemudian dimatikan oleh Raja.


Rana hanya bisa menghela napas, kemudian berbaring di ranjangnya. Keadaannya masih lengkap mengenakan seragam tadi pagi. Sebenarnya ia adalah tipe cewek yang mager untuk jalan-jalan, tapi kalau tidak begitu ia pasti akan mati kebosanan di dalam kamar dihinggapi rasa bersalah yang semakin menjadi-jadi. Pun oleh cacing-cacing laknat di perutnya.

__ADS_1


...💕...


"Kita mau kemana?" tanya Rana setelah duduk di dalam mobil Raja, bersebelahan dengan cowok itu. Entah jurus apa yang dilakukan cowok itu terhadap kedua orang tuanya. Ia tidak tahu. Intinya, Raja berhasil membawanya hengkang dari dalam rumah yang kini menurutnya terasa begitu menyebalkan. Tak ada yang percaya padanya. Tak ada yang bertanya asal kejadiannya. Tak ada juga yang peduli bagaimana keadaan hatinya.


"Surprise," ucap Raja mengembangkan senyum andalannya.


"Hmm ... okey. Awas kalau gak bisa puasin hati gue," ancam Rana sembari mengikat rambutnya asal.


Raja tak menanggapi, justru sibuk mengamati kegiatan Rana. Kalau bidadarinya seindah ini, bagaimana bisa ia mengalah lagi?


"Cabut, Ja!" seru Rana setelah mengikat rambutnya.


"Siap!" sahut Raja kemudian melaju dengan mobilnya sportnya.


"Yaelah, gue kira lo mau ngajak gue ke mana," ucap Rana mengerucutkan bibir mungilnya. Keduanya kini duduk berhadap-hadapan di sebuah warung makan di pinggir jalan. Tanpa atap, tanpa kemewahan seperti yang biasa dipancarkan oleh seorang Raja Algatra.


"Udah, nikmati aja. Kasian tuh, perut lo, dari tadi udah teriak-teriak minta tolong."


"Huh, padahal ceritanya gue lagi mau belajar jadi cewek matre. Eh ternyata lo gak asik banget, Ja," ucap Rana sembari mengaduk semangkuk baso di hadapannya.


Klatak!


Satu pukulan garpu hinggap di dahi cowok itu.


"Jangan main-main sama duda muda yang tajirnya gak ada obat," ucap Rana, berdiri memegang garpu sembari menyipitkan kedua matanya. "Itu papi gue," ucapnya lagi kemudian duduk kembali.


"What?! Om Cipto?" Raja terkejut sekaligus tak menyangka.


"Ya enggak lah. Nyokap gue lo anggep apa?" ucap Rana acuh tak acuh sembari menyeruput minya.


"Terus?" tanya Raja kepo.


"Hmm ... papi Darren. Itu bokap tiri gue. Nikah sama mami gue setelah papa Cipto ninggalin mami pas gue masih bayi," begitu mudah Rana menceritakan kisah hidupnya pada cowok ini. Seperti yang kalian duga, Raja mudah sekali mengambil hati semua orang. Ramah dan hangat.


"Loh, terus, kok ampe sekarang om Cipto masih sama nyokap lo?" tanya Raja lagi.


"Pas gue umur lima tahunan, papa Cipto pulang. Jadi mami sama papi Darren pisah. Tapi gue biasanya masih sering ke rumah papi Darren sih," ungkap Rana lagi.

__ADS_1


"Owh, gitu. Berarti lo lebih deket ke papi Darren dari pada om Cipto?" tanya Raja menyimpulkan.


Rana hanya tersenyum menanggapi, kemudian menyeruput kuah terakhir di mangkuknya.


"Hhh,,, baru liat, gue, cewek cantik se bobrok elo," kekeh Raja jujur sekali.


"Ahh ... seger," ucap Rana setengah menaruh mangkuknya. "Ngeledek lu, ya?" ujarnya lagi.


"Hhh, unik aja. Ya udah yuk, Ra. Gue gak mau bawa anak orang pulang ampe larut malem."


"Santuy aja lah. Kalau pintu udah dikunci, gue tetep bisa kok, manjat sampe ke kamar gue," canda Rana kemudian mengembangkan senyum.


"Bisa aja lo."


...💕...


"Berenti dulu, Ja!" ucap Rana saat dalam perjalanan pulang. Mobil tengah melintasi sebuah jembatan panjang dengan pagar besi di sepanjang sisinya.


Raja menurut saja walau tak tahu tujuan Rana apa.


Tanpa kata, Rana membuka pintu mobil itu.


"Ra!" Raja menahan tangan Rana yang hendak keluar dari mobil. "Lo gak mau bunuh diri, kan?" tanya Raja was-was.


"Hhh, apaan sih? Sembarangan aja kalau ngomong," ucap Rana tersenyum sembari mengibaskan tangan Raja. Gadis itu kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah pagar besi di sisi jembatan.


Raja yang khawatir, segera mengikuti Rana guna berjaga-jaga.


Hening. Keduanya hanya berdiri bersisian di samping pagar besi, memandang langit malam juga aliran sungai di bawah jembatan.


"Gue kadang ngerasa gue adalah beban dalam keluarga gue," ucap Rana sembari menengadah menatap langit, sedang Raja menatap wajah gadis itu, bersiap mendengarkan semua keluh kesah Rana.


"Gue bodoh. Dari kecil gue selalu dapet peringkat terakhir. Papa gue seorang pengacara yang memprioritaskan image dan nama baiknya. Adik gue pinter, berprestasi, dan gak pernah hengkang dari posisi pertama. Papa selalu banding-bandingin kita. Makan malem bersama rasanya kayak di neraka. Gak ada enaknya." Mata Rana mulai berkaca-kaca.


Raja yang simpatik, merengkuh bahu cewek itu. " Tetep kuat, Ra. Bukan cuma lo yang ada di posisi gini," ucap Raja mengelus bahu Rana. "Gue tiga bersaudara. Dua kakak gue laki- laki semua. Lulusan luar negeri hasil beasiswa sepenuhnya karena prestasi. Gue yang menurut orang-orang pinter, masih gak ada apa-apanya. Bokap selalu nuntut gue, tapi gue gak selalu bisa memenuhi keinginannya."


Dari jauh, sebuah motor KLX mulai mengurangi kelajuan. Mengamati cukup lama, kemudian melaju secepat kilat menembus angin malam.

__ADS_1


__ADS_2