
"Arkaa!!" sapa cewek itu tampak kian ceria. Ya iyalah dia ceria. Kan, lagi terpesona.
Arka yang disapa justru mengalihkan pandangannya, dan dengan langkah cepat cowok itu berjalan menuju dapur. Panik sendiri seolah tanpa alasan.
"Eh, Arka kenapa?" Rana menatap kepergian cowok itu dengan tanda tanya besar pada raut wajahnya.
Usai memasuki dapur, cewek itu berhenti samping sebuah meja. Dengan kedua tangannya ia bertumpu pada meja itu. Iya, ia bingung mau ngapain. Tadinya ia tidak punya tujuan untuk ke dapur. Dilihatnya sebuah gelas lebar berisi air di hadapannya. Tanpa fikir panjang, ia segera meneguknya.
"Arkaa!!"
Byurr!!
Tiba-tiba Arka menyemburkan air yang satu detik lalu sudah menempati rongga mulutnya.
"Air apaan ini, Ma?" tanyanya pada akhirnya, sebab merasakan rasa yang aneh pada lidah dan sekujur mulutnya.
"Air kobokan. Hehehe." Sarah menampilkan senyum terlebarnya dengan rasa bersalah. Hanya sedikit, tapi.
"Apa?" Arka buru-buru membuka pintu kulkas, mengambil sebotol air, membuka tutupnya, dan segera meneguknya.
__ADS_1
...💕...
Di ruang keluarga, Rana dibuat menunggu lagi, sembari memasang wajah tertekuk sebab kalian tahu sendiri sebagaimana mood-nya cewek PMS. Buruk sekali. Rana mengurut-urut perutnya yang masih terasa nyeri.
Tap tap tap....
Tapi, cukup dengan mendengar suara derap langkah seseorang, cewek itu mengembangkan senyumnya lagi. Ujung matanya melirik siapa yang datang. Lalu mendapati Arka yang tengah berjalan dengan sebuah piring di tangan kanannya dan segelas air di tangan kirinya. Dan Rana, sengaja sekali cewek itu memasang wajah ditekuknya lagi. Ahh, dasar cewek.
"Ra." Cowok itu duduk di sebelah Rana. Menaruh semua bawaannya di meja.
Rana balas dengan memanyunkan bibirnya. Menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Arka sih ... dipanggil malah nyelonong pergi," sungut Rana masih cemberut.
"Kan mau ngambil ini .... Perut kamu masih sakit?" tanyanya tak mau memperpanjang masalah dia yang ngeloyor pergi.
"He em." Rana manggut-manggut, masih dengan tangan memegangi bagian perutnya.
"Ya udah. Makan, yuk," ajak Arka membujuk.
__ADS_1
"Males," ucap Rana apa adanya.
"Eh, sini deh, Ra." Cowok itu meraih tangan Rana.
"Ha, kenapa?" tanya Rana tapi tetap menurut saja dengan ucapan Arka. Mengalihkan sejenak punggungnya dari sandaran sofa. Menyampingkan tubuhnya menghadap Arka.
"Nggak papa sih ...," begitu jawab Arka, tapi tangan kanannya sedang meraih jeday yang dikenakan Rana dan melepaskannya tak perlu waktu lama.
Sedang yang dilakukan Rana, ia hanya bisa terdiam dengan dada berkoar-koar, dag dig dug, sebab kini cowok di hadapannya sedang merapikan rambut panjangnya dengan sorot mata hangat cowok itu. Dan tentu, cewek manapun akan dibuat semakin jatuh cinta dengan perlakuan seperti ini.
"Nah ... aku lebih seneng liat kamu kayak gini," ucap Arka usai menyelesaikan aktifitasnya. Menatap Rana dengan senyum terukir di bibirnya.
"Arkaaa ... Rana sayang Arka deh. Arka sayang gak sama Rana?" pertanyaan itu tiba-tiba mengalir begitu saja dari bibir cewek itu. Ia hanya takut kehilangan Arka. Takut, bahwa pada akhirnya Arka bukanlah miliknya.
Masih dengan senyum hangatnya Arka berkata, "Kalo aku bilang gak sayang, emang kamu percaya?"
"Emm ...." Rana sedikit berfikir. ".... Nggak," ucapnya pada akhirnya, dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna.
Arka jadi terkekeh oleh jawaban Rana. Cowok itu kemudian mengacak rambut pada pucuk kepala Rana. "Kalau gak sayang, kayaknya mah aku gak bakalan mau tawuran waktu itu," ucapnya sembari menarik tangannya.
__ADS_1
"Eh?" Rana menahan tangan Arka. "Emang, sejak kapan Arka sayang sama Rana?"