
Hari-hari berlalu seperti biasanya. Secara lahiriah, kejadian di taman bermain itu mungkin sudah terlupakan, tapi secara kasat mata, sesungguhnya kejadian itu masih mencekal otak mereka, memenjarakan hati mereka. Pada cinta, rindu, cemburu, juga dendam. Hanya diri sendiri yang boleh tau.
"Ra, hari ini ada ulangan ya emangnya?" tanya cowok dengan mata sayup itu pada cewek di sebelahnya, melirik sekilas sembari mengemudikan mobil.
Hening. Seolah cowok itu sedang berbicara dengan angin. Hanya ada suara lembaran buku yang dibolak-balik dengan tenang.
"Ra," panggil Raja sedikit lebih keras. Mendengus samar, pertanda keadaan hatinya sedang tidak baik.
"Hemm..." Rana masih membolak-balikan lembar pada buku yang dibawanya.
"Ada ulangan, ya?" Raja mengulangi pertanyaan jelas.
"Enggak, sayang ..." jawab Rana terdengar terpaksa, seolah pertanyaan cowok itu begitu mengganggu bagi kedua telinganya.
...****************...
Di sepanjang koridor sekolah ketukan sepatu cewek itu terdengar begitu jelas. Entah karena keadaan yang begitu hening atau ini hanya karena semua orang sedang menghentikan langkahnya untuk sementara waktu. Melihat dua pasangan yang saling berjalan berlawanan, dan mungkin akan bersimpang di tengah jalan.
__ADS_1
Ingga memeluk lengan Arka mesra. Tersenyum percaya diri seolah ia adalah satu-satunya bidadari di dunia ini. Sedang Arka? Cowok itu hanya berjalan lurus dengan wajah tanpa ekspresinya. Tidak terganggu oleh keberadaan Ingga, juga tidak terganggu dengan keberadaan sepasang kekasih di depan sana.
Rana masih sibuk dengan bukunya. Kakinya tetap melangkah dengan yakin, seyakin ia akan menjadi juara terbaik di semester ini.
Raja menyipitkan matanya. Merangkul pundak Rana posesif. Ya, entah siapa sebenarnya yang ada di hati cewek itu, setidaknya Rana tetap miliknya.
Dan benar saja. Tepat sebelum kedua pasangan itu benar-benar saling melewati, Ingga menghentikan bunyi ketukan sepatunya. Menatap Rana dari atas hingga bawah dengan kedua mata tajamnya.
"Hai... Ra?" sapanya tanpa menunjukkan wajah keramahtamahan.
Rana menghentikan langkahnya. Mendengus malas. Menegakkan kepalanya dan menatap wajah cewek itu. Sepertinya hidupnya tidak akan tenang kalau masih ada cewek ini di sekitarnya.
Rana tertawa lirih. Benar-benar menurunkan bukunya.
"Rebutan juara apa? juara lomba main lato-lato? Sorry, gue gak level main gituan," ucapnya sinis, melirik tajam pada cowok di sebelah Ingga, kemudian berpaling acuh tak acuh melangkah pergi begitu saja.
"What?!" Ingga membalikkan badan geram. "Cewek gak jelas!!" teriaknya. Tapi kemudian menyadari ia sedang menjadi tontonan.
__ADS_1
"Liatin apa?!" bentaknya dengan wajah masamnya. Dan saat ia membalikkan badan, ternyata Arka sudah melangkah duluan meninggalkannya.
"Arka!!" Cewek itu berteriak geram. Wajahnya cemberut dan memerah.
Belum ada jawaban. Menimbulkan ia semakin menjadi bahan tertawaan.
"Arkaa...!!" Sembari menggertak-gertakkan kakinya, cewek itu berteriak lebih keras lagi.
Arka menghentikan langkahnya. Tangan kanannya mengangkat, menggosok telinganya sekilas, kemudian baru membalikkan badan dengan wajah datarnya. "Kenapa?"
"Kamu kok ninggalin aku?!" Ingga semakin cemberut.
"Ya udah, tinggal jalan aja kenapa?" ucap Arka acuh tak acuh. Dan kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Tidak peduli dengan desiran suara tawa yang ditujukan orang-orang untuk Ingga. Persetan dengan semuanya!
...****************...
Jam istirahat sudah tiba. Karena Rana merasa buku-buku yang ia pinjam sudah waktunya diganti dengan buku lain, maka Rana memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Entah mengapa sekarang ia bisa merasakan apa yang dulu dikatakan Nada benar. Perpustakaan adalah tempat terbaik bagi sebagian orang.
__ADS_1
Rana tersenyum dalam kepalanya yang tertunduk membereskan buku-bukunya. Ia tahu, ketiga orang itu sedang memperhatikannya. Ia senang. Itu cukup, walaupun ia tak bertatapan langsung dengan mereka. Lagi pula ia terlalu pengecut. Ia tahu, kalau ia menegakkan kepala dan menawarkan senyum pada mereka, bukan balasan yang sama yang akan ia dapatkan. Melainkan mereka akan memalingkan kepala.
Ia kemudian keluar. Berjalan di Koridor sendirian. Tapi tepat sebelum ia benar-benar memasuki ruang perpustakaan, seseorang menarik lengannya.