
"Buk, Buk, Ibu liat cewek putih, rambut panjang, terus pendek segini, gak?" tanya Daniel kepada seorang ibu-ibu, lengkap dengan tangan kanan yang memperkirakan tinggi badan Rana.
"Enggak tuh, Mas," jawab si Ibu.
"Oh, makasih, Buk."
Daniel kembali mencari. Sedang di sebelah sana, Arka juga sedang berusaha mencari keberadaan Rana.
"Pak, Pak, liat cewek ini gak?" tanyanya sembari menunjukkan tampilan wajah Rana yang meringis dari layar ponselnya.
"Emm ... enggak tuh, Mas. Siapa tuh, Mas? Artis, ya?" Si Bapak malah ngelantur kemana-mana.
"Bukan, Pak. Ya udah ya, Pak, makasih. Saya permisi dulu." Arka lantas berlalu, tapi kemudian menghentikan langkahnya kembali dan menekan-nekan layar ponselnya.
"Halo, Ra! Coba deh, foto dulu sekitar lo."
"Ha? Arka! Rana nyasar kok malah disuruh foto-foto sih?" gerutu Rana di ujung sana.
"Bukan. Foto aja dulu, terus kirim ke gue biar cepet nemunya. Oke?"
"Oh, iya," jawab Rana polos sekali.
Cowok itu lalu mematikan sambungan telfonnya. Sembari menunggu kiriman foto dari Rana, ia berlalu pergi berusaha mencari.
"Huh ... Rana ke mana sih?" keluh Daniel setelah berlari-lari mencari Rana. Nafasnya masih menderu, begitu pula dengan keningnya yang dihiasi bulir keringat.
"Arka!" panggil cowok itu sembari berlari lagi ke arah seorang cowok berjaket jins yang sebenarnya tak terlalu dekat dengannya. Atau mungkin, bisa dikatakan sama sekali tak dekat.
"Nemu, lo?" tanyanya dengan nafas terengah.
"Enggak, tapi dia ngirim foto ini barusan." Arka, cowok yang diajak bicara, segera saja memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah foto.
__ADS_1
Sekali lagi, kedua remaja SMA itu kembali bertukar pandang, kemudian saling mengangguk dan segera berlari menuju tempat yang mereka tebak sebagai latar di foto itu.
Berlari dan terus berlari. Seperti hendak ditangkap polisi. Hingga akhirnya, keduanya berhenti dengan nafas yang terengah, dengan degup di dada yang berpacu sedemikian rupa.
"Itu bukan?" Daniel memastikan penglihatannya. Kepalanya menoleh pada Arka dan tangan kanannya menunjuk pada seorang cewek yang duduk sendirian di kursi panjang, dengan rambut terurai panjang dan sebuah benda berbentuk telinga beruang berwarna pink bertengger di kepalanya.
"Rana!!" teriak keduanya setelah berada tak jauh di belakang cewek itu.
"Arka, Daniel, hai!" Dan benar saja, cewek yang dipanggil segera saja menolehkan kepalanya. Tapi bukannya terlihat cemas dan gusar, Rana justru terlihat ceria-ceria saja dengan prengesan andalannya.
Geming. Arka dan Daniel masih berusaha mencerna. Tadi bukannya Rana sedang terisak-isak cemas, ya? Tapi sekarang, lihatlah, dia seperti anak TK yang tengah bertamasya.
"Kalian kok lama banget sih? Padahal Rana udah nungguin dari tadi. Nih liat, eskrimnya udah mau cair," ucap cewek itu setelah berdiri, memamerkan dua buah eskrim di kedua tangannya.
"Loh, Ra, tadi katanya nyasar?" Arka masih bingung.
"Hehehe ... prank!" ujar Rana tanpa rasa bersalah.
"Raa ...," keluh Daniel dan Arka bersamaan.
"Abisnya gak enak kalo jalan-jalan sendirian. Maaf yah ... hehehe," prengesnya lagi. "Nah, sebagai permintaan maaf Rana ... eskrim ini buat kalian!" seru Rana sembari menyodorkan kedua eskrim di tangannya.
"Ya udah yuk, let's go!" serunya lagi, setelah kedua cowok yang bersamanya telah menerima sodoran eskrim darinya, walau terlihat sekali keterpaksaan nya sebab wajah tertekuk mereka.
Rana kemudian berjalan mendahului mereka. Dan lagi-lagi, dengan terpaksa kedua cowok itu tetap menuruti kemauannya. Lihat gajah, jerapah, monyet, singa, harimau, bahkan tak lupa ia sempatkan melihat hewan yang sering disebut-sebut oleh kaum cewek, yakni buaya. Cewek mungil itu mengoceh dan berlari sesukanya.
Tak hanya sampai disitu, ia juga mengajak ke wahana permainan yang tak jauh letaknya. Arka dan Daniel menurut saja. Apa yang mau diperbuat kalau Rana sudah bertingkah begini?
Sesampai di wahana permainan, bukannya mengajak naik roller coaster, kincir angin, atau masuk rumah hantu, Rana justru mengajak mereka main mancing-mancingan bersama anak-anak TK.
Kali ini Arka dan Daniel tak mau ikut-ikutan tersebab terlalu banyak anak-anak dan ibu-ibu di sana. Keduanya hanya duduk menyelonjorkan kaki di rerumputan. Tetap setia memperhatikan Rana yang terlihat sama sekali tak ada lelahnya. Ceria sekali bermain bersama anak-anak yang padahal tak seumuran dengannya. Ah, terserah Rana deh.
__ADS_1
"Nil, waktu lo pacaran sama dia, dia emang suka gini, ya?" Arka membuka percakapan. Ia baru menemukan jawabannya sendiri, kenapa Rana membohonginya tadi. Cewek itu ingin ia dan Daniel berteman, bukannya bertengkar apalagi sampai tawuran seperti kejadian lalu lagi. Jadi, apa susahnya ia mencoba?
"Hhh, kenapa? Lo capek?" Daniel menoleh pada Arka yang masih menatap lurus pada Rana.
"Gua cuma khawatir. Lagi pula menurut gue ... kata capek itu gak ada, kalau kita bener-bener menyukai sesuatu."
"Jhh,,, bangsat lo, Ka! Yang lo bicarain ini mantan gue. Lo lupa?" Daniel mengalihkan pandangannya dari cowok di sebelahnya. Kembali memperhatikan Rana yang tak pernah membosankan bagi netranya.
Arka tertawa kecil. "Masih punya rasa, ya? Terus, kenapa sekarang lo cuma jadi sahabatnya?" tanya Arka, mencoba memupuskan rasa penasarannya selama ini.
"Gue sayang sama dia, Ka. Tapi terkadang, cinta ada kadaluarsanya. Dan selama dia masih ngasih gue tempat, walaupun cuma sebagai sahabat, gue pasti gak bakal nyia-nyiain itu."
Geming. Arka justru hening tanpa sepatah kata. Pandangannya jatuh pada rerumputan hijau di hadapan kakinya.
"Lo sendiri gimana? Kalian udah resmi pacaran?"
"Belum." Pandangan Arka hendak mengarah kepada Rana kembali. Menyapu seluruh orang yang berada di sekitar pemancingan. Kenapa jadi bertambah ramai? Dimana Rana?
"Nunggu apa lagi? Nunggu gue bisa ngebuat dia nyaman lagi?" canda Daniel.
"Nil." Arka mengernyit. masih mencari si mungil berbando pink. "Rana kok tiba-tiba ngilang, ya?" tanyanya segera bangkit dari posisinya.
"Hah? Masa sih?" Daniel ikut bangkit. Mencari wajah Rana di antara pengunjung lainnya.
Tanpa perlu aba-aba, kedua cowok itu segera bergerak mencari. Memastikan keberadaan dan keselamatan Rana untuk kesekian kali.
"Telpon, Ka!" ucap Daniel sembari masih bergerak dan menyapu sekitar berusaha mencari.
"Gak diangkat," jawab Arka, sekilas melihat langit yang sudah mulai gelap. Kali ini, firasatnya mengatakan kalau ia harus lebih bergegas mencari.
Sial! Kenapa suasana jadi padat sekali? Hal itu menyulitkan pergerakan mereka.
__ADS_1
"Ka, sorry, gue lupa," ucap Daniel tiba-tiba memperlihatkan layar ponselnya. Sebuah pelacak yang sudah ia atur semenjak ia masih berpacaran dengan Rana.
Arka mengamati sebentar. Kemudian, keduanya segera berlari menuju tempat yang ditunjukkan oleh pelacak milik Daniel.