The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Hari Penuh Kejutan


__ADS_3

Parkiran SMA Tunas Bangsa


Sebuah mobil sport baru saja terparkir mulus di parkiran luas itu, menampilkan cowok yang terlihat semakin keren dengan sebuah kacamata hitam yang bertengger di matanya. Bersamaan dengan itu, dua mobil mewah juga baru saja memasuki area pelataran SMA Tunas Bangsa.


Raja melepas kacamatanya, tahu pasti siapa kedua cewek yang hendak turun dari kedua mobil itu. Senyumnya mengembang. Ia lantas membuka pintu mobilnya dan turun dari kendaraan beroda empat itu.


Tak butuh waktu lama, pintu kedua mobil itu pun ikut terbuka. Benar-benar menampilkan kedua cewek yang ditebak oleh Raja. Keduanya saling melempar senyum, kemudian....


"Viraa!!" pekik Rana berlari riang, kemudian memeluk temannya erat sekali. Benar-benar terlihat seperti anak TK yang baru saja bertemu ibunya sepulang keluar kota.


"Heh, Ngatiyem! Kenape lagi lo?"


"Hehehe, gak kenapa-napa sih," jawab Rana setelah melepas pelukannya, dengan senyum tersipu-sipu sendiri. Hedeh.


"Duh, prik banget ni bocah." Vira terheran-heran.


"Ra! Vir!" panggil Raja melambaikan tangannya.


Vira membalas dengan senyuman, kemudian menarik tangan temannya yang masih senyum-senyum sendiri seperti orang lagi kesambet.


"Hai, Ja!" sapa Vira setelah menghampiri cowok itu.


"Hai!" balas Raja, sekilas melirik wajah Rana yang terlihat cantik sekali dengan senyuman yang senantiasa nangkring di bibirnya.


Brum... brumm....


Sebuah motor tiba-tiba menyita perhatian mereka, membuat mereka ternganga tak menyangka sebab mendapati sahabat mereka sedang dibonceng oleh cowok terbebal di sekolah ini.


"Nada?" ucap Vira dan Rana bersamaan, kemudian menutup mulut mereka yang terlanjur ternganga lebar.

__ADS_1


Nada yang menjadi sebab ternganga nya kedua mulut temannya malah hanya menyikapinya santai. Turun dari motor Arsya dengan senyuman yang terbit di wajahnya.


"Halo, Bro! Wassap!" sapa Arsya kemudian turun dari motornya.


"Arsya! Lo benar-benar udah nyantet temen gue, ya?" Vira heboh sendiri.


"Nad, ini beneran lo, kan?" tanya Rana masih dengan ekspresi melongo.


"Vir, siapa bilang Nada bakal nolak gue? Iya kan, Sayang?" ucap Arsya meletakkan tangan kanannya pada bahu Nada, tersenyum menatap cewek itu.


Nada menoleh pada Arsya. Mengukir senyum dan membalas tatapannya.


"Kalian ... pacaran?" tanya Rana dan Vira bersamaan, semakin membulatkan mata tak menyangka.


"Iya," jawab Arsya, mengelus pucuk kepala Nada. Suka sekali memanas-manasi para jomblo di hadapannya.


"Nad, lo sehat kan?" Vira masih berusaha mencerna segalanya.


Nada tertawa kecil. "Enggak, Ra, Vir, kita beneran pacaran kok. Nanti aku ceritain semuanya," ucap Nada tersenyum, menjawab ketidakpercayaan kedua temannya.


Rana dan Vira menelan ludahnya. Susah payah berusaha mencerna.


"Udah ah. Yuk cabut, Sayang! Keburu apel," ucap Arsya, menggamit tangan Nada dan melangkahkan kaki acuh tak acuh dengan respon teman-teman Nada.


Vira dan Rana saling bertukar pandang, menaik-turunkan kedua bahu mereka dan geleng-geleng kepala, tapi kemudian mengikuti langkah sepasang couple baru itu. Begitu pun dengan Raja, ia hanya mengedikkan bahu dan mengembangkan senyum. Berjalan bersisian dengan Rana dan Vira.


"Eh, ada pengumuman apa sih? Kok pada ngumpul di depan mading?" ucap Arsya, menghentikan langkah kakinya, juga menghentikan langkah kaki ketiga remaja yang berjalan di belakangnya.


"Iya, ya, jangan-jangan ada gosip baru," ucap Vira tiba-tiba antusias sekali.

__ADS_1


"Hmm ... atau, jangan-jangan ada drakor yang baru rilis," ucap Rana dengan mata membulat, menatapi koridor sekolah yang terasa penuh akibat terjadinya perpadatan siswa-siswi di setiap mading di sepanjang jalan.


"Drakor gundulmu kui!" ucap Vira, menatap sewot pada Rana.


"Hehehe," Rana meringis saja.


"Ya udah, sana, Yem! Lo kan kecil tuh, jadi lo bisa nyelip ke dalem gerombolan buat liat tu isi mading," ucap Vira dengan jiwa kepo meronta-ronta.


"Oke, siip!" ucap Rana menyodorkan kedua jari jempolnya, kemudian berlari riang ke arah gerombolan.


Geser sana. Geser sini. Dorong-dorong. Menyelinap. Dan akhirnya, ia sudah berada tepat di hadapan mading.


Tapi kemudian, raut wajahnya yang tadinya riang berubah seratus sembilan puluh derajat dalam waktu sekejap. Senyumnya yang ia kembangkan sedari tadi bangun pagi, seketika hilang ditelan gelapnya malam. Mendapati kertas ulangan bahasa indonesia nya yang di pertontonkan di seluruh mading di sekolah ini. Dengan getir, serta tangan yang bergetar, ia merobek kertas itu dari mading.


"Loh, kenapa dirobek? Ternyata lo punya malu juga, ya?" ucap seorang cewek di antara gerombolan siswa-siswi.


Mendengar suara itu, Rana lantas membalikkan badan, menatapi satu persatu wajah orang yang sedang mengerumuninya dengan tatapan menghina dan bisik-bisik ria. Ia meneguk ludahnya gentar, mendapati Marsha berdiri tepat di hadapannya, dengan sudut bibir sebelah terangkat menyeringai.


"Hahaha,,," tawa jahat Marsha menggelegar dimana-mana, terlebih di kedua telinga Rana, disusul tawa menghina dari yang lain. "Dasar Stupid! Bahasa Indonesia aja sempet-sempetnya lo bisa dapet nol, gimana pelajaran yang lain? Jawabannya gak masuk akal banget lagi," cecar Marsha puas sekali.


Rana menundukkan kepalanya. Meremas kertas menyebalkan di tangannya. Ia tak punya bantahan sama sekali. Ia memang bodoh. Dan kertas ulangan di tangannya, memang benar adalah miliknya.


"Hhh,,, mau sok-sokan deketin Arka lagi. Sadar diri lah, Bego! Dia tuh jenius, nilainya aja gak pernah min dari angka 90. Lagi pula seleranya dia pasti cewek yang jenius juga. Bukan kayak lo, yang ... IQ-nya jong-kok!" ucap Marsha penuh penekanan, dengan jari telunjuk yang ia ketuk-ketukkan di kening Rana. Sedang Rana hanya bisa diam saja. Betul kata Marsha.


"Oh ya, nilai rapor lo juga bagus banget, Ra." Marsha mengarahkan pandangannya pada mading di sebelah Rana. "Tujuh puluh lima semua. Hhh, senakal-nakalnya gue, gue gak pernah dapet nilai standar kayak gitu. Dari kelas satu peringkatnya selalu sama lagi. Selalu jadi peringkat ke terakhir."


Rana langsung menoleh pada mading di sebelahnya. Seketika matanya membulat mendapati isi buku rapornya menjadi pajangan juga. Tangannya langsung merobeki kertas-kertas tempelan itu dengan brutal. Tiba-tiba ia terisak. Air matanya benar-benar sudah tak bisa ditahan.


"Awas!" teriak Rana hendak memaksa pergi dari dalam kerumunan.

__ADS_1


"Kenapa? Uuu ... cup cup cup. Mau laporan, ya, sama cowok-cowok inceran lo? Siapa sih? Arka? Raja? Atau ... lo sebenernya masih ada hubungan sama mantan lo itu, tapi pengen dapetin Arka biar jadi girl famous di sekolah ini," cecar Marsha sinis sekali.


"Stop! Gue salah apa sih sama kalian semua, sampe kalian tega ngelakuin ini semua ke gue?" Dengan suara terisak dan air mata yang sudah terlanjur mengalir deras, cewek itu akhirnya bersuara. Apa salahnya? Bukankah kemampuan otak setiap orang itu berbeda-beda? Memangnya siapa yang ingin ditakdirkan punya otak sebodoh dirinya?


__ADS_2