The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Ungkapan Kepemilikan


__ADS_3

"Hahaha,,, Ka," Rana tersenyum lega, masih melangkah bersama cowok itu. Iya, kini ia merasa aman jika berada di sisi Arka. Tapi di sisi lain, kini semua orang justru berbisik-bisik semakin tak suka, sebab ia pun tahu mendapatkan perhatian Arka adalah impian semua cewek di SMA Tunas Bangsa ini. Dan mungkin, menurut mereka ia bukanlah orang yang pantas untuk itu.


Pandangannya hendak beralih pada semua orang yang sedang menatapnya, tapi kemudian tangan Arka mengalihkan lagi wajahnya agar kembali memandang cowok itu.


"Gak usah ngeliat mereka, liat aja gue. Toh, gue lebih ganteng," ucap cowok itu kemudian menampilkan senyuman lebarnya.


"Hahaha,,," Rana balas tersenyum, tak menyangka Arka benar-benar sudah tak bersikap dingin padanya. Sangat hangat malahan.


"Iya, kan?" tanya Arka, ketika keduanya sudah melewati kerumunan orang, menyisakan keduanya yang berjalan beriringan.


"Eh, apanya?" Rana mendongakkan kepalanya lagi.


"Gantengnya," jawab Arka menyunggingkan senyum lagi, dengan kilatan menggoda pada mata tajamnya.


"Ih, dasar PD!" ucap Rana tak tanggung-tanggung mencubit pinggang cowok itu.


"Aw, hhh,,," Arka hanya menggeliat sedikit, kemudian malah mengeratkan rangkulannya. Seolah-olah sebelumnya ia tak pernah berprilaku dingin pada Rana.


"Eh, kelas Arka udah lewat!" seru Rana menoleh pada ruang yang ia maksud.


"Iya, gak papa. Gue anterin lo sampe ke kelas."


Rana meringis senang. Tentu saja.


"Oh ya, Arka udah liat pengumumannya?" tanya Rana tiba-tiba teringat dengan rencana lomba persahabatan yang akan diadakan di sekolah mereka.


"Hmm,,," Arka segera saja mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto poster pengumuman pada cewek yang sedang dirangkulnya. "Liat deh, siapa yang ngirimin."


Diberi kesempatan sebagus itu, Rana segera saja mengambil alih ponsel Arka. Melakukan apa yang diminta cowok itu. Sekalian bisa observasi sebelum jadi pacar sungguhan.


"Daniel?!" pekik Rana kenal betul dengan kontak tanpa nama itu.


"Ya, mantan lo," jawab Arka malas


"Eh, Daniel ngajakin Arka ketemu?"


"Hm ... niat banget tu anak kayaknya."

__ADS_1


"Terus, Arka mau?" tanya Rana lagi, tiba-tiba takut kalau kedua cowok itu akan terlibat perkelahian lagi.


"Kenapa enggak?"


"Rana pengen ikut!" seru Rana pada cowok jakung itu.


"Ini urusan cowok, Ra." Cowok itu berusaha memberikan pengertian pada Rana.


"Pokoknya Rana pengen ikut!" sungut Rana ngeyel sekali.


"Ya udah. Kita liat aja nanti," ucap Arka pada akhirnya.


"Yeee!" seru Rana riang, kemudian tersenyum licik mengarahkan pandangan pada benda yang masih setia berada dalam genggamannya. Kepo dikit gak papa kan, ya?


Jemarinya kemudian beralih pada ikon back. Klik. Tapi baru saja beranda chat akan ditampilkan, tiba-tiba tangan Arka dengan cepat mengambil alih ponselnya kembali. Membuat bibir Rana seketika cemberut, lengkap dengan helaan napas kecewa.


"Keponya disimpen dulu. Kita udah sampe di kelas lo," ucap Arka melepaskan rangkulan tangannya pada bahu Rana.


"He em," Rana manggut-manggut saja. Tak tahukah Arka, bahwa jiwa keponya sudah terlanjur meronta-ronta?


Ditanya seperti itu Rana lantas mengintip isi kelasnya. Mendapati sudah ada Rena yang duduk manis di tempat duduknya. Cewek itu kemudian manggut-manggut lagi.


"Gue balik ke kelas dulu. Entar jam istirahat, gue langsung OTW ke sini," terang Arka.


"Beneran?" Rana mendadak antusias sekali.


"Hm ... kita mulai belajarnya," terangnya tersenyum hangat.


"Yeeey!!" seru Rana meloncat girang. Ia tak suka belajar, tapi kalau dengan Arka, apa sih yang ia tak suka?


"Ya udah. Masuk, gih!" ucap cowok itu, menawarkan senyum hangatnya lagi.


"Masuk nih?" tanya Rana konyol sekali, sembari menunjuk pintu kelasnya. Arka yang ditanya seperti itu, menganggukkan kepada saja.


"Oowh ... oke," simpul Rana kemudian melangkahkan kaki memasuki kelasnya, tapi dengan ujung mata masih sibuk melirik ke arah Arka.


"Beneran masuk nih?" tanya cewek itu lagi, tiba-tiba menongolkan kepalanya dari balik pintu. Untung saja yang diajak bicara belum pergi.

__ADS_1


"Hhh,,," Arka sampai geleng-geleng kepala heran. "Iya, Raa..." katanya masih mengembangkan senyum.


"Hehehe," Rana merenges saja, kemudian dengan riang menghampiri tempat duduknya.


"Hai, Rey!" sapanya riang.


"Hai!" balas Rena menoleh sebentar, kemudian fokus kembali pada ponselnya.


...💕...


Di dalam kelas 12 IPA 3, seorang cowok duduk dengan tangan kanan mengepal di atas meja, memalingkan wajah menghadap jendela di sebelahnya.


Pagi-pagi begini, kenapa sudah segerah ini? Melihat Rana dan Arka berjalan beriringan mesra sekali. Ia cemburu, walau ia tahu ia tak berhak untuk itu.


Bersaing dengan orang yang sama lagi. Dari sekian banyak cowok yang mengejar Rana, kenapa harus Arka yang berhasil mengambil hati gadis itu? Bukannya ia merasa tak sebanding untuk bersaing dengan cowok itu. Hanya saja, bayang-bayang di masa lalu terus saja menghantuinya. Membuatnya semakin merasa bersalah akan semua yang telah terjadi.


"Oy, Boss!! Pagi-pagi udah main umbar mesra lo!" Suara seruan Kibo menyadarkan lamunan Raja. Cowok itu lantas menoleh mendapati Arka yang baru saja masuk ke dalam kelas.


Arka hanya tersenyum tipis, berjalan menuju tempatnya. Tapi ketika matanya bertemu pandang dengan seseorang yang notabene nya adalah mantan sahabatnya dulu, senyumnya hilang dalam sekejap. Berganti dengan tatapan tak bersahabat yang nyatanya dibalas pula dengan tatapan tak bersahabat oleh Raja.


"Ka, truth or dare?" tanya Kibo tiba-tiba, tepat setelah Arka mendaratkan dirinya ke tempat duduknya.


"Dare," jawab Arka malas.


"Ah, gak seru lo, Ka!" Entah apa yang terjadi pada Kibo, tapi tiba-tiba cowok berbadan kerempeng itu merengek seperti seorang and kecil.


Arka menghembuskan napas kesal, memalingkan wajah pada Kibo malas sekali. "Mau nanya apa?" tanya cowok itu pada akhirnya.


"Naah, gitu dong!" ucap Kibo girang sekali.


"Lo ... sama Rana udah resmi pacaran?" tanyanya penuh selidik kemudian. Pertanyaan yang membuat seseorang lain merasa harus mempertajam pendengarannya demi mendengar percakapan penting mereka.


Hening. Arka seketika melirik ke arah seseorang. "Kalau iya kenapa, dan kalau enggak kenapa?" tanyanya datar tanpa ekspresi.


Mendengar jawaban berjenis kelamin pertanyaan yang tak memuaskan dari Arka, Kibo langsung memasang wajah cemberut. "Kalau iya, berarti gak ada yang boleh deketin dia lagi, dan kalau enggak... berarti...."


"Iya atau enggak, kalau gue udah bilang dia punya gue berarti gak bakal ada yang bisa ngerebut dia dari gue."

__ADS_1


__ADS_2