
"Argh ... aw! Pelan-pelan, Ra," rintih Darren merasa kesakitan pada Rana yang tengah mengobati lukanya.
"Saya bener-bener minta maaf, Om." Arka benar-benar menyesali perbuatannya, sedang yang tengah mengolesi obat luka pada ayahnya justru sibuk menahan tawa, melihat sisi Arka yang seperti ini.
"Saya kira ... saya kira Om ini om-om hidung belang yang mau macem-macem sama Rana," ucap Arka kemudian, tertunduk merasa bersalah.
"Huahahaha,,," Bukannya marah, sepasang ayah dan anak gadis itu malah tertawa lepas. Bagaimana tidak? Kok bisa sih, Arka sampai menduga-duga seperti itu?
Arka yang ditertawakan jadi kikuk sendiri, menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Gak papa, Ka, beneran, kamu jangan merasa bersalah sama Om. Yaa ... itung-itung buat ngingetin Om lah, kalau otot-otot Om udah mulai kendor. Jadi harus rajin-rajin olahraga lagi biar bisa jagain anak Om dari om-om hidung belang," ucap Darren merangkul tubuh mungil Rana.
"Papi," Rana menyikut perut papinya, siapa suruh menggodanya begini? Sedang Darren yang perutnya disikut hanya meringis pada anak gadisnya itu.
Arka ikut meringis. "Abisnya ... Dio bilang Om gak punya anak, dan saya pernah liat Om sama Rana jalan ke mall pas itu," terang Arka jujur sekali.
"Hhh,,, ya maklum Dio gak tau, Rana emang gak tinggal di sini. Cuma satu dua kali aja mampir," jelas Darren legowo sekali, mengelus pucuk kepala Rana.
"Ra, kamu ambilin Arka minum dulu gih!" ucap Darren pada Rana.
"Eh, iya-ya, Pi. Tunggu ya, Ka," ucap Rana kemudian berlalu menuju dapur.
"Kamu ..." Darren tiba-tiba memajukan wajahnya pada Arka yang duduk bersebrangan dengannya. "Beneran suka anak saya?" tanyanya dengan raut serius sekali.
Ditanya seperti ini, Arka meneguk salivanya, tapi kemudian dengan penuh keyakinan ia berkata "Iya, Om."
"Serius?" Pria itu semakin menyipitkan matanya.
"Saya serius, Om."
"Oke, saya pegang omongan kamu. Kalau kamu berani nyakitin anak saya, saya pastikan kamu akan habis di tangan saya. Kamu masih berani deketin anak saya?" Darren tak main-main dengan ucapannya. Ia tak ingin melihat Rana menangis lagi hanya karena seorang laki-laki.
"Masih, Om," jawab Arka tapi gentar.
Darren mengangguk-anggukkan kepalanya, terlihat sedang mempertimbangkan keseriusan cowok di hadapannya.
"Oke, kalau gitu saya percayakan Rana sama kamu," ucap Darren kemudian, seraya menyodorkan tangan kanannya, lengkap dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Makasih, Om." Arka menyambut uluran tangan ayah Rana, juga mengembangkan senyum di wajahnya.
"Papi sama Arka lagi ngomongin apa sih? Kok serius banget," seloroh Rana, berjalan membawa nampan berisikan minuman dari arah dapur.
"Enggak, Papi cuma tanya-tanya sama Arka soal alamat rumahnya. Siapa tau kalo Papi lewat, Papi bisa mampir," ucap Darren setelah melepas jabatannya dengan Arka.
"Ooh ... gitu." Rana meletakkan segelas minuman di hadapan ayahnya, kemudian meletakkan milik Arka juga, tak lupa tersenyum manis pada cowok itu.
Arka membalas senyum Rana senang. Ternyata dugaannya sudah keterlaluan salah, Rana bukan cewek cantik yang suka memanfaatkan laki-laki. Dan sekarang, ayah sudah mempercayakan Rana padanya. Cowok itu kemudian menyesap minuman dari Rana.
"Oh ya, Pi, Papi masih inget Tante Sarah? Itu mama tirinya Arka," ucap Rana tiba-tiba teringat pada Tante Sarah.
"Oh, ya?" Darren langsung menanyakan pada Arka.
"Iya, Om," jawab Arka dengan senyum yang ia paksakan, sebab ia masih terlampau tak suka dengan wanita yang disebutkan Rana barusan.
"Ya inget lah Papi. Dulu Papi, Mami, sama Tante Sarah, kan temen sekelas. Lagian dia sahabatnya Mami kamu," Darren berkata pada anaknya, Rana ber-oh ria, sedang Arka sudah mulai merasa kurang nyaman dengan pembahasan tentang nyonya muda di rumahnya itu. Cowok itu kemudian berdeham sembari melirik jam di pergelangan tangannya.
"Om, Ra, maaf tapi kayaknya saya harus pamit deh. Tadi saya cuma izin mau nganterin Rana pulang, jadi sekarang harus balik lagi ke sekolah."
"Oh iya-iya, dari pada guru kamu nyariin. Ra, anterin Arka ke depan. Papi mau istirahat dulu," ucap Darren menampilkan senyum lebarnya, beralih pada posisi bersandar di sofa.
"Saya pulang dulu, Om, dan sekali lagi saya minta maaf," ucap Arka setelah bangkit dari duduknya.
"Udaah, itung-itung pemanasan. Oh ya, makasih," ucap Darren seolah-olah sedang menggantung kata.
Arka menaikan kedua alisnya tak mengerti. "Makasih ... untuk?" tanya cowok itu pada akhirnya, sedang Rana menelengkan kepalanya pada papinya turut tak paham.
"Makasih gak harus ada alasan, kan?" ucap Darren kemudian menampilkan prengesannya lagi.
"Ih, Papi apaan sih? Kirain apaan," sungut Rana mengerucutkan bibirnya, sedangkan Arka mengembangkan senyum pada ayah cewek itu, sedikit-banyak mengerti maksud dari ucapannya.
"Mari, Om," ucap Arka, kemudian berjalan beriringan dengan Rana yang sudah tak mengenakan seragam sekolah.
Dalam perjalanan menuju pintu keluar, kedua remaja itu tiba-tiba dihinggapi kecanggungan yang entah asalnya dari mana. Rana yang banyak tingkah, kini justru bungkam seribu bahasa, apalagi Arka yang irit bicara? Keduanya seolah sedang menetralkan detak jantung masing-masing. Masih terbayang adegan ketika mereka berpelukan di rooftop tadi.
"Ra."
__ADS_1
"Ka."
"Eh, hahaha,,," tawa kedua remaja itu bersamaan, kemudian salting sendiri seperti bingung harus bagaimana.
"Emm ... Ra, gua kemaren udah berlebihan banget, sampe gitu ke elo." Arka menoleh pada cewek di sampingnya.
"Hahaha,,, gak papa, lagian salah Rana sendiri. Kan Arka udah bilang gak mau diganggu." Rana menampilkan prengesannya.
Arka hanya menanggapi dengan senyum simpul, kemudian berkata, "Ya bukan gitu sih. Oh ya, Ra, kalau misalnya gue jadi guru privat lo, menurut lo gimana?"
"Beneran?" Rana auto otomatis langsung antusias kalau ia punya guru privat seganteng Arka. Bisa jadi otaknya akan seencer otak manusia pada umumnya.
"Ya kalo lo mau."
"Mauuu!!" sahut Rana seketika, benar-benar tak mau melewatkan kesempatan emas. Sambil belajar, sekalian menjalankan misi. Hehehe.
"Hhh,,," Sudut bibir Arka terangkat, benar-benar berapi-api cewek yang di sebelahnya ini.
"Nanti, Arka bilangin temen Rana, ya. Rana baik-baik aja," ucap Rana setelah keduanya sudah melewati pintu rumah. Berdiri di teras rumah Darren.
"Iya, yang penting besok jangan gak sekolah," ucap Arka, 190% berbeda dengan Arka yang dingin dan ketus sebelumnya.
"Hahaha,,, siap, Bos!" Rana memasang posisi hormat ala-ala Pak Budi, security rumahnya.
Arka menggeleng-gelengkan kepala tersenyum. "Oh ya, Ra, sebenernya ... gue masih gak ngerti."
"Gak ngerti kenapa?"
"Kenapa rumah lo... ada dua? Soalnya setau gue..."
"Ka," belum selesai Arka menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Rana memanggilnya. "Sini deh!" ucapannya kemudian, memberi isyarat agar Arka bersedia membungkuk menyelaraskan ketinggian mereka.
Arka yang terlanjur penasaran, menurut saja. Kedua matanya menyipit.
"Ceritanya panjaaaang...."
Arka meneguk salivanya paksa. Merasakan desah nafas Rana di telinganya.
__ADS_1
"Nanti aja, ya. Nomor Rana belum ganti kok," bisik Rana lagi, kemudian menjauhkan wajahnya dari telinga Arka.
Arka masih geming. Kalau dipancing begini, bagaimana ia bisa memastikan kalau imannya tak akan goyah? Ditolehkannya kepalanya pada cewek di sampingnya. Menampilkan prengesan andalan. Cantik sekali.