The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Hujan Tangis


__ADS_3

Sesampai di rumah Vira, Rana langsung menghampiri Mang Ono yang tengah berjaga di posnya.


"Lho? Non Rana?" Mang Ono seketika berdiri dari duduknya. Wajahnya sedikit terkejut melihat keadaan sahabat majikannya yang entah sudah seperti apa. Pria itu lantas terburu-buru membukakan gerbang gagah rumah Vira.


"Panggilin Vira ya, Mang. Bilang, saya mau bicara sebentar," pinta Rana sesak. Saking merasa bersalahnya, ia bahkan ragu untuk memijakkan kakinya ke dalam rumah Vira.


"Baik, Non." Mang Ono lantas tergopoh-gopoh menuju rumah majikannya.


"Tunggu di sini, Ra." Arka menarik tubuh Rana untuk berteduh di pos penjaga rumah Vira.


Rana menurut saja. Pupil matanya terus menatap pintu rumah Vira cemas. Dalam hati ia terus berdoa; semoga Vira bersedia memberikan kesempatan padanya. Kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


1 menit ...

__ADS_1


2 menit ...


3 menit ...


Bola mata Raja seketika berbinar melihat pintu bercat putih itu akhirnya terbuka. Tanpa memedulikan larangan dari Arka, cewek yang masih berseragam lengkap putih abu-abu itu berlari menuju teras rumah Vira. Mengabaikan tetesan hujan yang dengan serempak mengguyur basah tubuhnya.


Sesampai di sana, malang memang tidak dinyana. Ternyata yang keluar bukanlah Vira, melainkan Mang Ono yang kemudian berkata, "Maaf, Non, Non Vira lagi gak mau ketemu. Katanya, Non disuruh pergi saja." Wajah pria itu terlihat iba. Tapi apa boleh buat? Toh, ini bukan sesuatu yang dapat ia ikut campuri.


Masih di bawah guyuran hujan yang menyamarkan cucuran air matanya, Rana mengangguk mengiyakan, lalu membiarkan Mang Ono pergi setengah berlari menuju pos penjagaanya.


Di tempatnya, Arka hendak melangkah menyusul Rana, tapi kemudian langkahnya terhenti sebab menyadari pintu rumah itu akhirnya terbuka lagi. Dan kali ini, benar orang itulah yang ditunggu semendari tadi.


"Vir ..." Rana seketika berbinar mendapati Vira yang akhirnya keluar. Ada secercah harapan yang ia selipkan di antara semua kesesakkan.

__ADS_1


"Ngapain lo ke sini?! Bisik tau gak?!" 190° berubah. Vira bukanlah Syavira Syivanya yang ia kenal. Seakan-akan tak punya rasa kasihan, gadis itu menatap Rana nyalang, dengan dahi berkerut tak bersahabat.


"Vir, gue cuma mau minta maaf," ungkap Rana, semakin merasakan tenggorokannya tercekat. Di antara semua kemungkinan yang ada, ia tak pernah mengharapkan respon seperti ini yang akan diberikan Vira padanya.


"Minta maaf?" Vira sedikit melunakkan tubuhnya. Dahinya tak lagi berkerut. Tapi kemudian, sesuatu yang ada di dalam hatinya memberontak. Seolah menolak untuk memaafkan kesalahan Rana.


Rana terisak. "Gue minta maaf, Vir. Gue yang salah. Harusnya gue gak langsung percaya sama tuduhan Rena. Harusnya ...," Rana menggantung kalimatnya. Gadis itu kembali terisak, menahan sesak yang terus menggerogoti dada. "... Harusnya, gue percaya sama lo. Harusnya, gue gak percaya sama dia, orang yang justru udah setega ini sama gue."


Vira memejamkan matanya. Menahan sesak yang tiba-tiba merambat masuk ke rongga dadanya. Kedua tangannya mengepal. Menahan diri agar tak melangkah maju dan memaafkan cewek yang sudah basah kuyup oleh hujan dan air mata itu.


"Ini semua salah Rena, Vir.... Ternyata dia yang udah bikin gue dibuli satu sekolah waktu itu ... hiks ... hiks ... hiks ...."


"Udah! Stop!! Gue gak peduli lagi! Sekarang, gue mau tidur siang!" bentak Vira seolah tanpa rasa kasihan, kemudian menutup pintu kasar, sehingga menimbulkan gebrakan yang begitu keras.

__ADS_1


Rana yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menjatuhkan dirinya menangis putus asa. Dari sekian hari yang penuh kepedihan bagi Rana, ia harap, ini adalah hari yang terpedih. Sebab jika ada yang lebih menyesakkan, ia tak tahu lagi bagaimana cara menanggungnya.


"Kita pulang ya, Ra." Arka memeluk Rana ke dekapannya. Membiarkan keduanya diguyur hujan bersama-sama.


__ADS_2