
Arka menyeruput kopinya dalam. Ya, sendiri memang lebih menenangkan, juga menerbangkan khayalan dan mendatangkan kenangan, kenangan tentang seorang gadis yang masih mengakar menguasai seluruh sendi-sendi hatinya. Entah dimana cewek itu, tak ada kabar ataupun informasi tentangnya. Terakhir kali yang ia tahu adalah cewek itu pindah sekolah karena pekerjaan dinas ayahnya yang nomaden.
"Hahaha,,,"
Tiba-tiba khayalan itu hilang begitu saja, berganti dengan serangai tawa bahagia dari dua orang remaja yang duduk tak jauh dari tempatnya. Membuat iri saja, tak tahukah mereka bahwa disini ada orang yang sedang merindu?
...💕...
"Hahaha,,, kita ini aneh ya, Pus, temen lama, gak loss kontak juga, satu daerah lagi, tapi baru kali ini kita janjian gini," Sarah tertawa riang, senang sekali karena pada akhirnya bisa bertemu dengan teman dekatnya ini.
Puspa terkekeh, "Kamu yang sibuk, aku sih anak rumahan."
"Ya itu kan dulu, Pus, sekarang mah udah gak sepadet itu," Sarah ngeles, padahal terkadang ia masih dibuat sibuk, yaa ... walupun tentunya sekarang ia sedang ingin mengurangi kesibukannya sebagai aktris. Kalau ia jarang di rumah, bagaimana bisa Arka menganggap statusnya sebagai ibu? Tapi apa yang bisa ia lakukan di rumah? Tak ada pekerjaan apalagi kesenangan. Pasti ... akan sangat membosankan.
"Iya deeh ..." Puspa mengalah. Temannya ini benar-benar tak berubah, masih saja banyak bicara seperti dulu.
"Oh iya, Ra, kamu adik kelasnya Arka, kan? Kalau di sekolah dia gimana?" Sarah mengalihkan perhatiannya pada Rana. Mereka sudah bercerita panjang lebar sejak tadi dan ternyata anak temannya ini satu server dengannya. Hanya bedanya, Rana lebih bisa dibilang konyol daripada cerewet, sejak makan tadi entah sudah berapa kali gadis itu bersendawa. Membuat orang yang melihat ingin tertawa saja. Selalu saja menarik perhatian, untung saja cantik.
"Hmm ... gimana ya, Tan," Rana menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya sama sekali tak gatal.
"Rana jujur gak papa nih, Tan?"
Sarah mengangguk antusias.
"Galak, Tan," jawab gadis itu mantap.
Sarah seketika tertawa, sedang Puspa hanya tersenyum.
"Kirain galaknya cuma sama tante, ternyata di sekolah juga gitu?" tanya Sarah memastikan kembali. Ada sedikit kelegaan di hatinya, masih ada kemungkinan bahwa Arka tak benar-benar membencinya.
"Iya, Rana juga heran kok ada ya, cowok segalak itu."
"Hmm ... gitu, ya?" Sarah menyimpulkan. "Eh, Pus, kamu bisa masak gak?" tanya Sarah tiba-tiba mengubah topik.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu belum bisa masak dan mau minta diajarin," tebak Puspa santai. Hafal sudah ia dengan sikap dan sifat temannya ini.
"Hehehe, tau aja kamu, Pus," Sarah tersenyum lebar.
Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan ....
Semua mata seketika tertuju pada ketiga perempuan itu lagi, nada dering yang unik dengan volume yang teramat keras.
Rana segera memeriksa ponselnya.
"Hehehe, Rana angkat telfon dulu ya, Mi, Tan," pamit Rana lengkap dengan prengesan khasnya.
Rana berdiri dari duduknya kemudian melangkah menuju pintu kafe. Ternyata Vira yang menelfon, padahal tadi ia mengira ini telfon dari Daniel. Yah ....
"Halo, Vir!" sapa Rana sembari mengerahkan tangan membuka pintu kafe.
"Hai, Ra!"
"Kenapa nel ...." baru saja Rana hendak bertanya, tapi tiba-tiba matanya yang menangkap kehadiran seseorang berhasil meruntuhkan dunianya seketika, bibirnya terasa kelu, dadanya kian sesak saja.
Handphone-nya jatuh begitu saja.
Buru-buru gadis malang itu berjongkok untuk memungut ponselnya yang sudah terpisah-pisah raganya, sama seperti keadaannya saat ini, bahkan lebih parah lagi. Ia hancur, hancur berkeping-keping.
"Rana?" Daniel langsung berdiri dari duduknya. Kenapa tiba-tiba Rana ada disini?
"Sini, Ra, biar aku bantu." Cowok itu segera menghampiri Rana dan berjongkok di hadapannya, sedang cewek yang semendari tadi bersamanya kini ikut berdiri, air mukanya berubah tak bersahabat.
"Gak usah! Gak usah pura-pura baik lagi!" bentak Rana kemudian berdiri kukuh, sama sekali tak ingin terlihat lemah. Digenggamnya ponsel kesayangannya yang sudah retak dimana-mana.
"Aku bisa jelasin, Ra, ini gak seperti apa yang kamu pikirin," Daniel turut berdiri, berusaha meraih pergelangan tangan Rana.
"Gak ada yang perlu dijelasin, semuanya udah jelas!" ketus Rana menjauhkan tangannya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, semua pandangan kini terpusat pada ketiga remaja itu.
Perselingkuhan yang bodoh! Begitu fikiran orang-orang karena yang diselingkuhi jauh lebih cantik dari pada si wanita selingkuhan.
"Udahlah, Nil! Lo tuh selalu disia-siain sama dia, buat apa lo perjuangin dia terus?" ucap Gea, selingkuhan Daniel. Ia menatap tajam pada Rana. Betapa bodohnya Rana, Daniel yang sejak dulu ia kejar-kejar malah dicampakan begitu saja olehnya.
Hati Rana semakin sesak mendengar ucapan cewek itu, apa yang barusan dikatakan cewek itu? Menyia-nyiakan Daniel? Kapan? Selama ini Daniel tak pernah mengeluh apapun padanya. Ahh, sudahlah! Pelupuk matanya sudah tak sanggup untuk menahan air mata yang memberontak ingin keluar.
"Udah, mulai sekarang kita putus!" tegas Rana kemudian bersegera melangkah secepat mungkin. Jangan, Ia tak boleh lemah dan menangisi pria jahat seperti Daniel di depan umum begini. Ia tak selemah itu.
Daniel segera mengejar Rana, betapa buruknya ia sekarang, kemarin sensitif sekali bila Rana terlihat dekat dengan cowok lain dan sekarang, ia sendiri yang mengkhianati cewek itu.
"Aku bisa jelasin, Ra!"
Rana tak peduli, cewek itu semakin mempercepat langkahnya yang justru rasanya semakin kecil saja.
Tess! Satu bulir air mata sudah terloloskan begitu saja, air mata yang menjadi saksi dari segalanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis karena seorang pria, pria yang berjanji akan selalu melindunginya tetapi kini justru melukainya sedalam-dalamnya.
."Rana!" panggil Daniel hendak meraih tangan Rana yang sudah semakin dekat dari gapaiannya.
Bruak!!
Sangking terburu-burunya Rana, ia sampai menabrak dada seorang cowok. Ia tak tahu itu siapa, tapi aromanya terasa tak asing.
Air matanya sudah mengalir tanpa henti, tanpa mengangkat wajahnya dari dada cowok itu, ia menangis tersedu-sedu. Ia tak ingin ada yang melihat bahwa ia menangis, menangis karena di selingkuhi. Ia tak ingin dikasihani oleh semua orang yang ada disini. Jadi, ia memutuskan menjadikan dada itu sebagai benteng pertahanannya.
"Ra! Aku bisa jelasin, Ra," bujuk Daniel menggapai tangan Rana. Hatinya benar-benar gelisah, siapa cowok ini? Apa hubungan cowok ini dengan Rana?
"Lepasin! Aku gak mau ketemu kamu lagi!" bentak Rana menarik tangannya segera.
"Ra, tapi aku bisa jelasin semuanya. Ini cuma salah paham," Daniel pantang mundur. Ia masih sangat mencintai Rana. Ia tak mau dan tak akan pernah bisa kehilangan Rana dalam hidupnya.
"Budeg ya, lo? Gak denger, dia bilang apa?"
__ADS_1
Rana spontan mendongakkan kepalanya, menatap wajah cowok yang semendari tadi menjadi sandarannya.