
Ting tung ting tung....
Bel istirahat berbunyi. Dalam hati, Rana berteriak girang sekali. Teringat janji Arka di pagi hari tadi.
"Yes!" gumam cewek itu setelah guru mata pelajaran usai mengakhiri pembelajaran dan keluar dari kelas.
"Ke kantin yuk!" ajak Nada tumben-tumbenan antusias sekali. Yaa ... maklum saja, doi nya mungkin sudah menunggu di sana.
"Gue males ah." Vira menyandarkan kepalanya di atas meja. Mengantuk sekali sebab jadwal telfonnya yang teramat padat tadi malam. Lagi pula, ia juga malas melihat Nada dan Arsya yang kelewat bucin.
"Gue juga lagi ada urusan," ucap Rena kemudian langsung berdiri dari duduknya. Berlalu begitu saja meninggalkan teman-temannya.
"Eh, Rey?" Rana dan Nada saling bertukar pandang, sedang Vira sudah sukses memejamkan matanya anteng.
"Ya udah deh." Nada bangkit dari duduknya. "Kamu ikut ke kantin gak, Ra?"
"Enggak deh, gue lagi ada janji, Nad," ucap Rana menatap pintu kelas penuh harap.
"Owh, gitu. Aku duluan ya, Ra." Nada pun berlalu meninggalkan kelas.
Tinggal Rana dan Vira di kelas, termasuk juga beberapa murid lain yang sibuk membaca buku.
Rana memandangi temannya yang terlelap itu sejenak, kemudian dengan malas berdiri dari tempat duduknya, berjalan lesu menujukan pintu kelas. Jangan-jangan Arka lupa kalau sudah ada janji dengannya.
Beberapa menit berlalu. Cowok itu tak kunjung muncul. Rana mondar-mandir di depan kelasnya memandangi layar ponselnya yang menampilkan kontak Arka.
Kok tiba-tiba jaim ya, mau nelpon duluan.
Ia kemudian menggeleng-geleng kepala mengurungkan niatannya. Tapi tiba-tiba jemarinya gatal sekarang ingin mengirimkan pesan pada cowok itu.
Arkanya Rana 😜
Arka dimana?Gak jadi kesini?
ketiknya pada akhirnya, tapi kemudian menggeleng kepala lagi seraya menghapus pesannya.
"Au ah!" sungutnya geram, memasukkan ponselnya ke saku. Kemudian menyedekapkan kedua tangan hendak melangkahkan kaki memasuki kelas.
"Ra!"
Merasa terpanggil, Rana menghentikan langkahnya menoleh ke arah sumber suara. Cewek itu kemudian menyipitkan kedua matanya menelisik. Dari kejauhan, seorang cowok dengan seragam basket, serta baju seragam putih yang ia sampirkan begitu saja di pundaknya berlari dengan langkah panjangnya juga peluh di keningnya.
"Sorry, Ra. Gue abis latihan basket."
__ADS_1
Glek...
Rana meneguk salivanya paksa. Harus banget ya, cowok terlihat berkali-kali lipat lebih seksi kalau sedang keringetan begini?
"Ra, are you okay?" Arka mengernyit. Menghapus peluh dengan punggung tangannya.
"Hhh,,, he em." Rana menggeleng pelan, kemudian menampilkan senyumnya pada cowok itu.
"Yaudah, yuk!" tanpa basa-basi Arka langsung menarik tangan cewek itu entah mau diajak kemana.
"Eh," ucap Rana agak kaget, tapi tetap saja mengikuti langkah Arka sembari tersenyum tipis memandangi tangannya yang digandeng oleh cowok itu.
"Di sini aja ya, Ra. Sejuk, bawaannya adem," kata Arka setelah ia dan Rana duduk di bawah pohon mangga di belakang aula pertemuan milik sekolah.
Sesuai kata Arka, di bawah pohon itu memang terasa amat sejuk sebab dedaunannya yang rindang. Hanya satu yang disayangkan, karena dari masih ingusan hingga beranjak lansia ini pohon itu tak kunjung berbuah juga. Entah apa sebabnya.
"He em. Arka abis latihan basket buat lomba persahabatan nanti?" tanya Rana menoleh pada cowok di sebelahnya yang saat ini sudah kembali mengenakan seragam abu-abu nya lengkap.
"Iya, lomba persahabatannya dadakan, jadi latihannya harus lebih ekstra. Ya udah yuk, kita mulai belajarnya." Arka kemudian mengeluarkan sebuah buku paket berjudul Bahasa Indonesia untuk kelas XII.
Rana seketika menghela napasnya panjang. Bagaimana kalau tiba-tiba Arka elfeel menghadapi kegoblokannya.
"Eh ... gak boleh gitu." Arka mengacak-acak pucuk kepala Rana. "Harus semangat. Gue yakin kok sama lo," ucapnya lengkap dengan sunggingan senyum dibibirnya.
...💕...
"Loh, Yang, temen-temen kamu kemana semua?" tanya cowok itu menyisir sekitar kantin mencari teman-teman Nada.
"Hemm ... lagi gak pengen ke kantin katanya," jawab Nada setelah menyeruput minumannya.
"Owh gitu ... tapi bagus deh." Arsya menelengkan kepalanya, bertumpu pada tangan tersenyum memandangi wajah pacarnya.
"Bagus kenapa?" Nada balik menatap Arsya, memasang posisi yang sama dengan cowok di sampingnya itu.
"Ya bagus, jadinya gak ada setan di antara kita," ucap Arsya menampilkan prengesannya.
"Loh, emang temen-temen aku setan?" Nada mengernyit.
"Hahaha,,, kan kalau kita berdua-duaan yang ketiganya itu setan."
"Kan temen aku ada tiga."
"Naah ... berarti setannya ada tiga."
__ADS_1
...💕...
Jam istirahat belumlah berakhir, tapi cowok itu sudah berjalan hendak masuk ke dalam kelas dengan kedua tangan sibuk dengan cemilan, tangan kiri yang memegang serta tangan kanan yang menyuapkan ke mulut penggilingannya. Benar-benar kerja sama yang bagus nan kompak.
Kriuk... kriuk..., kunyah Dio berjalan acuh tak acuh pada sekitarnya. Ia malas makan di tongkrongan. Hanya gara-gara ia jomblo, semua teman-temannya lantas sering sekali meledek nya.
Arsya dan Arka kenapa juga risain dari profesi itu? Tinggalah ia dan Kibo yang menjadi bulan-bulanan di tongkrongan. Sangking lamanya menjomblo, sampai disarankan mencari janda kembang saja. Asalkan tidak macam-macam dengan istri orang.
"Eh, ngapain ni bocah ngebo di sini? Sendirian lagi." Dio tersenyum jahat, mendapati Vira yang tertidur pulas bersandar pada meja. Didekatkannya bibirnya pada telinga cewek itu.
"Marrobbuka? Siapa Tuhanmu?"
Vira mengernyit. Cewek itu tak sepenuhnya tertidur. Siapa Tuhanmu? Memangnya dia sudah mati apa? Eh, apa?! Udah mati?
Kedua netra gadis itu segera saja membelalak. Semakin terkejut tatkala mendapati seorang cowok berwajah bulat berada tepat di hadapan wajahnya, lengkap dengan prengesan lebarnya.
"Paagi dunia tipu-tipuuu!!"
"Heh! Ngajak tawur lo!" Vira auto naik tensi, segera beralih ke posisi duduk tegaknya.
"Eh, stop!" Kedua tangan Dio maju ke depan menghentikan Vira agar tak nyerocos duluan. Dan cara itu berhasil. Tapi tiba-tiba cowok itu bernyanyi, "... Kau mencuri hatiku-hatiku... stop! Kau mencuri hatiku...," nyanyinya cempreng lengkap dengan goyangan ala-alanya.
Bibir Vira spontan terangkat sewot. "His, ganggu orang tidur aja," ucapnya ketus, kemudian memalingkan wajah setengah mengantuk.
"Ellah, Vir." Dio mendaratkan bokongnya di tempat duduk sebelah Vira, alias tempatnya Rana. "Lo tuh harusnya berterimakasih ama gue. Emang lo mau dibangunin anak-anak sekelas terus dibully mati-matian?"
"Ya tapi gak gitu konsepnya, Dioo ...."
"Lagian lo tumben-tumbenan gak ke kantin. Kenape lo? Gak dikasih uang jajan?"
"Dih! Ya kagak lah. Ya kali bokap gue tega. Bokap-nyokap gue kalau masalah makan, pokoknya harus number one."
"Hehehe,,, sama dong," prenges Dio. "Lah terus kenapa?"
"Kenapa apanya?" Vira menopang dagunya menatap lurus ke arah papan tulis.
"Kenapa gak ke kantin? Diet?"
"Bukan." Vira menggeleng lemas. "Temen gue pada bucin. Males gue, entar endingnya jadi obat nyamuk."
"Lah, gue kira lo jagonya. Kemaren dianter si ini, sekarang yang itu, besok yaa ... beda lagi," gurau Dio.
"Ya keliatannya gitu. Toh, nyatanya gue jomblo."
__ADS_1