The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Siapapun, Tolong Gue...


__ADS_3

"Tolong! Tolong! Tolong gue ...!" Vira terus berusaha membuka kenop pintu secara paksa. Ia memperhatikan sekelilingnya. Benar-benar tidak ada apa-apa di sini. Sesuatu yang memungkinkannya untuk memberontak kepada Aldi. Bodoh! Kenapa ia bisa terkurung bersama Aldi di ruangan ini? Di mana Reza? Ah, dasar bejat!


"Udah, Vir ... udah." Dalam satu kali gerakan, Aldi mencekal pergelangan tangan Vira dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukan agresifnya.


"Tolong!" Vira berusaha menolak dengan mendorong tubuh kekar itu darinya. Tapi, rasanya pelukan itu semakin mencekik tubuhnya saja. Ia kalah telak.


"Lepasin gue, Brens*k!"


"Hahaha,,," Aldi tertawa lagi. Puas sekali melihat wajah ketakutan di hadapannya. "Kita nikmati aja malam ini, Vir. Hm?" Cowok itu tersenyum miring.


"Lepasin gu ...." Baru saja Vira mau memberontak lagi, tapi tiba-tiba mulutnya dibekap oleh bibir cowok itu. Ia mencoba melepaskannya, tapi sungguh cowok itu terlalu agresif.


Setetes kristal bening jatuh melalui sudut matanya.


Siapapun, tolong gue ....


...💕...


Begitu keluar dari mobilnya, Zein langsung berlari memasuki pelataran bangunan dengan hingar-bingar dunia malam itu. Diliriknya sebuah mobil dengan plat kendaraan yang sama persis seperti yang diungkapkan Mang Ono. Ia melanjutkan langkahnya tergesa. Begitu benar-benar memasuki bar itu, ia langsung bertanya pada seorang bartender dengan menyebutkan ciri-ciri dan pakaian yang dikenakan Vira.


"Tadi sih, aku ngeliatnya dia duduk di sebelah sana," ucap bartender itu tersenyum manis seraya menunjuk sebuah sofa panjang tanpa seorang pun yang mendudukinya.


"Terimakasih," ucap Zein kemudian langsung berlalu menuju sofa itu. Dan sesampainya di sana, pandangannya langsung tertuju pada sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja. Ponsel milik Vira. Dan tak mungkin gadis itu meninggalkannya secara sengaja. Kecuali ... kecuali seseorang telah membawanya secara paksa atau dalam keadaan tak sadarkan diri.


Dengan mata jelinya, Zein menyusuri setiap orang yang ada. Namun hasilnya nihil. Vira benar-benar tak ada. Sial!


Zein langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah lorong dengan pintu-pintu berjajar di setiap sisinya.


Tanpa basa-basi, cowok itu membuka satu persatu pintu itu. Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada. Dan ...


Bruak!


Ia langsung menutup pintu itu lagi sebab melihat seorang gadis tanpa busana dan seorang pria yang baru saja hendak membuka resleting celananya.


Deg ....


Zein menghentikan langkahnya. Rasanya ia tak asing dengan cowok barusan. Segera saja, walaupun ia enggan pengelihatannya ternodai, ia membalikkan badan dan melangkahkan kaki ke kamar itu lagi.


Bug!

__ADS_1


Begitu memasuki kamar itu, ia langsung mengarahkan tinjunya tepat mengenai wajah cowok di kamar itu. Dugaannya tak salah.


"Anj*ng! Apa mau lo, hah?!" Reza langsung berdiri dari duduknya, sedang cewek yang semendari tadi bersamanya langsung membenamkan diri di dalam selimut.


"Di mana Vira?" Zein menarik kerah baju cowok itu kuat.


"****! Emangnya lo liat gue sama Vira, hah?!"


Bug!


Satu tinjuan keras mengenai wajah cowok itu lagi. Darah seger mengalir dari sudut kiri bibirnya.


"Kasih tau atau lo gue habisin di sini?!"


...💕...


"Enak, kan? Hm?" tanya Aldi setelah baru saja melepaskan lumatannya dari bibir Vira.


Tanpa menjawab, Vira hanya bisa terengah-engah nyaris saja kehabisan napas. Rasanya ia ingin muntah. Tetesan air mata bahkan terus mengalir membasahi wajahnya. Ia, masa depannya, akankah hancur begitu saja saat ini juga?


Suara pintu yang berusaha dibuka paksa lantas memberikan secercah harapan padanya.


"Vir! Vira! Buka, Vir!" teriak seseorang dari luar dengan suara terengah, disusul suara dobrakan-dobrakan pintu.


Di luar, Zein terus berusaha mendobrak pintu itu sekuat tenaga. Ia yakin, barusan Vira sedang memanggil namanya.


"Vir! Vira!" panggilnya lagi, kemudian berhenti dan menstabilkan nafasnya sembari mengumpulkan semua tenaganya. Dimundurkannya kakinya beberapa langkah, berharap kali ini pintu sial*n itu berhasil dibuka paksa.


Satu ....


Dua ....


Tiga!


Zein berlari. Menumpukan semua tenaganya pada bahu kanannya.


Bruak!


Matanya seketika melebar mendapati dugaannya ternyata benar. Segera saja, Zein melayangkan tinjuan penuh kemarahannya tepat mengenai kepala cowok yang tengah memeluk paksa Vira itu.

__ADS_1


Satu kali pukulan tepat sasaran, Aldi langsung melepaskan bibir Vira. Tangannya kemudian menyentuh kepala bagian belakangnya yang terasa nyeri. Sial*n! Harusnya ia menaruh penjaga di depan tadi.


Menyadari setitik kelengahan, Vira langsung melepaskan diri dari cowok itu. Didorongnya kuat- kuat tubuh itu dan segera menjauh, menyandarkan diri ke dinding.


Kak Zein, harusnya Vira nurut apa kata Kak Zein, batinnya benar-benar terisak.


Bruak!


Zein langsung menendang tubuh cowok itu dari belakang. Kemarahannya sudah kepalang berada di pucuk kepala. Dengan beringas, Zein melayangkan tinjuan tanpa henti kepada Aldi.


"Lo ngapain Vira, hah?!" tanyanya tanpa memberikan jeda pada serangan pukulannya.


Sedang Aldi, cowok itu hendak melawan, tapi nyatanya ia benar-benar tak punya kesempatan.


Di pojok, Vira hanya bisa menyaksikan pertengkaran itu dengan air mata yang terus mengalir, dengan napas yang terus menderu dan dengan jantung yang berpacu sangat cepat.


"Bajing*n kayak lo emang udah gak pantes hidup!" Zein melayangkan pukulan terakhirnya pada perut cowok itu melampiaskan segala emosi.


Bugg!!


"Argh ...," Aldi menggerang. Darah segar keluar dari mulutnya tanpa bisa dicegah. Tulangnya serasa berpindah tempat. Sakit sekali.


"Kak Zein ...," panggil Vira di sela-sela tangisnya. Dipeluknya lututnya erat-erat. Berusaha menyembunyikan tangannya yang masih bergetar tak keruan.


Usai menghabisi cowok yang kini sudah terkapar di lantai, Zein lantas segera menghampiri Vira.


"Vir!" panggilnya, tapi kemudian segera menghentikan langkah sebab melihat punggung Vira yang sedang dalam keadaan terekspos.


Dilepasnya jaket levis-nya dan melanjutkan langkahnya mendekati gadis itu.


"Vir," ucapnya setelah memasangkan jaketnya ke punggung gadis itu.


"Gak papa, ada Kak Zein di sini," disentuhnya kedua bahu Vira dan menatapnya teduh.


"Kak Zein ...." Vira mendongakkan kepalanya. Kemudian, dipeluknya cowok di hadapannya itu guna melepaskan semua ketakutan yang menyesakkan dadanya.


"Gak papa ... ada Kak Zein di sini." Zein mengelus punggung cewek itu, berusaha menenangkannya.


"Ayo kita pulang, Vir," ucap cowok itu kemudian.

__ADS_1


Vira melepaskan pelukannya, kemudian mengangguk dengan wajah sebabnya. Zein lantas membantu Vira berdiri dan merangkul pundaknya seolah mengatakan, bahwa Vira akan aman bersamanya.


Sebelum benar-benar pergi dari ruangan hina itu, Vira menatap nyalang tubuh Aldi yang sudah tak sadarkan diri. Pandangannya kemudian teralih pada kamera yang masih bertengger di sana.


__ADS_2