
Hari ini sekolah tampak lebih santai dari biasanya. Tidak ada lagi rentetan murid yang duduk di teras sekolah dengan giat mempelajari buku mereka. Ujian sudah selesai. Hari Kamis ini, adalah hari pembebasan mereka dari beban yang mereka pikul selama lebih dari seminggu ini. Dan ya, mereka tahu mereka harus menikmatinya, walau hanya dengan mondar-mandir di sekolah. Entah bersuit-suit ria, atau pesta besar di kantin Bu Ratih. Intinya, mereka tinggal menunggu hasilnya saja dan tidak perlu terlalu memikirkannya.
Tongkrongan Arka juga tampak ramai. Arsya sudah lebih baik dari pada sebelumnya. Sebelumnya, saat mengajak Nada bertemu di belakang sekolah, cowok itu mendapat penolakan lagi. Bahkan, tamparan Nada tak segan mampir ke wajah tampannya. Tapi sekarang, sebab nasihat dari teman-temannya, ia merasa lebih tenang. Mencintai bukan berarti memiliki. Juga bukan berarti harus bersama sepanjang hari. Kalau hadirnya dalam hidup Nada hanya sebagai perusak, maka ia memang tak berhak untuk memasukinya lagi.
"Arka mana ya, bro? Jam segini belum nongol juga. Padahal, gue kan mau nagih THJ. Kan seru tuh, dia seneng, kita juga ikut seneng," ucap Dio cengingas-cengingis, toleh kanan toleh kiri, berharap yang dibicarakan segera menampakkan batang hidungnya.
"Eh? Apaan THJ, Yo?" tanya Kibo mengernyit.
"T-H-J, dalam kurung, Tunjangan Hari ... Jadian! He ... he ... he ...," jelas Dio kemudian tertawa.
"Owalah ... tak kiro opo." Kibo manggut-manggut, kemudian menyisir sekitarnya, juga berharap menemukan Arka.
"La Ibu Negaranya mana? Cocok tuh, minta sama si Rana kalau Arka nya kagak ada," timpal Arsya turut senang kalau ada traktiran besar-besaran.
Bersamaan dengan pertanyaan Arsya, seorang cewek turun dari sebuah mobil dengan tas imut berwarna pink-nya. Tersenyum manis pada seorang pria yang masih berada di dalam mobil itu, seseorang yang mengantarkannya.
"Dadah, Kak Zein! Makasih, yaa ...," ucap cewek itu, terlalu jelas untuk tak mengakibatkan dirinya menjadi pusat perhatian anggota tongkrongan di sekitar parkiran motor tak jauh dari tempatnya berdiri.
Usai memusatkan perhatian pada cewek itu, seluruh anggota tongkrongan kini beralih menoleh pada Dio yang tampak lemas. Cowok itu menghela napas panjang, kemudian menampakkan senyum terpaksanya.
"Kalau Vira gak mau, gue mau kok, jadi pacar lo, Yo," ucap Kibo menepuk bahu Dio, kemudian menggeleng pelan, dan tersenyum menguatkan.
Plak!
Satu tepukan sukses menamplok jidat cowok itu, membuatnya meringis sebab rasa sakit, sekaligus menertawakan ucapannya sendiri.
"Gak diem, lo gue cincang abis ini ...," desis Dio, kemudian bersiul-siul, mencoba mengabaikan seorang gadis yang sedang berjalan melewati tongkrongan mereka.
__ADS_1
"Vir! Vira!" panggil Arsya berencana menanyakan keberadaan Rana pada cewek itu.
Vira menghentikan langkahnya. "Kenapa?" tanya cewek itu, 190° berbeda dari ekspresi sebelumnya.
"Rana mana? Kita mau minta traktiran abis jadian, nih...," ucap Arsya kemudian menampilkan senyum terlebarnya.
Sejenak, Vira terdiam tanpa kata. Namun kemudian, ia menatap Arsya tak suka. "Ya mana gue tau. Lo kira gue emaknya?" ketus cewek itu kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan tongkrongan itu tanpa mengindahkan ekspresi penuh tanya mereka.
"Gila, si Ratu gosip sensi amat perasaan ...," gumam Arsya hanya bisa geleng-geleng kepala.
...💕...
Arka masih mengerjap-ngerjapkan matanya saat Indra pendengarnya menangkap bunyi-bunyian nyaring yang amat mengganggu pagi hari buruknya. Bunyi-bunyian yang semakin memperburuk suasana hatinya. Tangannya kemudian menyerobot ponsel sialan itu dari atas nakas. Untuk bergerak saja, perlu tenaga yang harus ia paksakan keluarnya.
"Argh ... ssss ...," desis cowok itu, merasakan ngilu di setiap tulangnya, juga perih yang nyaris membuat kulitnya mati rasa. Ia bagaikan mayat hidup yang berhasil selamat dari ujian kematian. Remuk redam semua. Tidak ada yang selamat dari siksaan ayahnya.
Ah, sialan!
Arka mengacak-acak rambutnya frustasi, kemudian hendak menekan tombol power pada benda pipih itu. Tapi baru saja jarinya menyentuh tombol itu, suara nyaring yang semenjak tadi mengganggunya kini terngiang lagi. Dasar ponsel tak berguna!
"Halo, Ngga?" Diangkatnya telpon itu tanpa melihat siapa gerangan yang menelpon.
Sejenak, telpon itu belum juga mengeluarkan suaranya. Tapi kemudian ....
"Ka? Ngelantur, ya? Ini si Dio ... bukan si Angga. Si Angga mah, udah gak deket ama kita. Mana traktirannyaa? Perut gue udah ...."
Belum selesai Dio berbicara, Arka memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Cowok itu kemudian melemparkan ponselnya kasar ke kasur di sebelahnya. Ia berhutang banyak sekali penjelasan, termasuk pada teman-temannya. Dan ia tahu, sampai kapan pun, ia tak akan bisa menjelaskannya.
__ADS_1
Cowok itu kemudian bangkit dari posisi tidurnya. Melirik kaca yang tersedia di kamarnya. Gila, bahkan dirinya sendiri tak dapat mengenali siapa cowok yang berada di sana. Jangankan terlihat tampan, terlihat seperti manusia hidup saja ia masih ragu untuk menyimpulkannya.
Ia menyandarkan dirinya pada sandaran ranjangnya. Pandangannya kemudian teralih pada beberapa bingkai yang terletak di atas nakasnya. Bagaikan magnet yang menarik besi ke arahnya, salah satu gambar berbingkai di atas sana begitu menyedot Arka ke dalamnya. Membawa Arka pada masa-masa perjuangan Rana dalam menggapainya. Dan ya, Rana pernah berhasil, tapi tidak selamanya. Tapi semoga Rana tetap bisa bahagia.
Tangan cowok itu hendak menggapai gambar berbingkai itu, tapi tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Menampilkan nama seorang cewek yang berhasil kembali ke kehidupannya setelah pergi nyaris tanpa jejak, selain sebuah belenggu yang mengikatnya.
"Halo?" ujar Arka setelah mengangkat telfon itu.
"Halo, Ka! Kamu di mana? Ini aku udah di perjalanan ke sekolah, mau ngurus berkas-berkas buat sekolah lagi. Bisa kan, kamu bantuin aku nanti?" tanya cewek itu di ujung sana.
Arka terdiam sejenak. Cewek itu memejamkan matanya selama 0,5 detik, kemudian menghela napasnya samar. "Sorry, gak bisa," jawab cowok itu lirih, tak setegas biasanya.
"Loh? Arka? Kamu kenapa?" Dan Ingga terlalu peka untuk tak paham bahwa keadaan cowok itu sedang tak baik-baik saja. Cewek itu kemudian mengubah panggilan ke mode Video call.
"Ya ampun! Arka? Kamu kok bisa lebam-lebam gitu? Abis berantem?" rentet Ingga, terlalu terkejut melihat wajah Arka yang sudah tak keruan parahnya.
"Gak papa," lirih Arka, tapi tetap saja keadaannya menunjukkan jawaban yang sebaliknya.
"Oke, abis ini aku langsung ke rumah kamu aja, ya? Kamu tenang aja."
"Ja ...." Baru saja Arka mau menolak, Ingga sudah terlebih dahulu memutuskan sambungan telepon mereka. Membuat Arka menghela napas kasar untuk kesekian kalinya.
"Arka! Arkaa!"
Arka mendongakkan kepalanya pasrah. Suara teman-temannya yang memangil namanya terlalu jelas untuk ia abaikan.
"Woy! Bangun, woy!" teriak Kibo tiba-tiba sudah membuka pintu kamarnya dan masuk begitu saja.
__ADS_1