The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Terlampau Kesakitan


__ADS_3

Usai menemani Rena cukup lama, Rana menghampiri Arka yang masih setia menunggu di sana. Air matanya sudah kering tak berbekas. Hanya tersisa perih yang menyiksanya kian detik kian menjadi.


"Ra," ucap Arka menyadari kedatangan Rana. Sejak tadi, ia menunggu di sini dengan hati bertanya-tanya. Kenapa Vira pulang lebih dahulu dengan air mata yang berderai kemana-mana?


"Anter Rana ke rumah Papi ya, Ka," pinta gadis itu setelah berhenti tepat di depan Arka. Walau dengan wajah sayu, ia berusaha menyunggingkan senyum untuk cowok itu.


Arka mengamati wajah Rana lekat. Tangan kanannya kemudian menangkup pipi Rana.


"Kalau mau cerita, inget, aku selalu ada," ucapnya mengelus pipi Rana lembut. Menimbulkan senyuman yang lebih indah dari sebelumnya. Cowok itu akhirnya memutuskan untuk meredam rasa penasarannya lebih dahulu.


Rana mengangguk. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin bertemu Papi.


Tak butuh waktu lama, kedua remaja itu segera beralih menuju rumah ayah Rana. Rana sudah menghubungi ayahnya yang sering tak ada di rumah itu. Dan karena mengetahui anak kesayangannya akan datang ke rumah, duda tampan yang sedang berada di kantor itu segera bergegas pulang ke rumah. Biasanya, apalagi kalau Rana sampai menelponnya saat jam kerja begini, berarti gadis itu sedang menghadapi masalah.


"Arka pulang aja, ya. Kalau masih keburu, jangan sampe bolos," ucap Rana usai turun dari motor Arka.


"Beneran gak papa?" tanya Arka dengan wajah khawatirnya.

__ADS_1


"Gak papa. Papi juga udah di dalem, kok."


...💕...


Di sebuah kamar di lantai dua rumah itu, seorang cowok meregangkan otot-otot punggungnya setelah akhirnya menyelesaikan tugas-tugas pendataannya pada layar laptop di hadapannya.


Ia lelah sekali. Akhir-akhir ini ia memang dibuat sibuk dengan pekerjaannya. Di rumah sakit ia sudah semakin sibuk, sedang ia sudah terlanjur menyanggupi permintaan Dr. Broto tempo lalu. Tentu ia tak enak hati untuk melepaskan tanggung jawab itu begitu saja.


Alis dokter muda itu kini dibuat tertaut. Malam sudah larut, tapi telinganya sayup-sayup mendengar isak tangis tertahan dari seorang gadis.


Zein yang yakin sekali bahwa itu adalah suara tangis Vira, segera berdiri dan berjalan menuju jendela itu. Tanpa menunggu lama lagi, ia membuka sempurna gorden jendela yang menutupi penglihatannya dari sosok gadis tetangga rumahnya selama ini.


Dan ternyata tebakannya benar. Dari sini, dilihatnya jendela Vira yang terbuka sempurna, dengan lampu yang dimatikan secara sengaja. Menampilkan seluit tubuh Vira yang sesenggukan dan memeluk erat lututnya. Membiarkan angin malam masuk menembus tulangnya.


Di balik jendela kamar itu Zein menatap gadis itu lekat. Andai ia bisa dan memang punya keberanian yang luar biasa, ia pastikan sekarang juga akan mendekap Vira ke dalam pelukannya. Menghapus air matanya dan mengatakan, bahwa dunia tidak selalu jahat.


Ah, tapi enyahlah. Sadarlah dia bahwa dirinya bukan siapa-siapa Vira.

__ADS_1


Tapi kemudian, karena tak sanggup memendam kekhawatiran, cowok itu akhirnya mengeluarkan ponselnya. Tanpa permisi jemarinya segera mengetikkan pesan untuk gadis itu.


...💕...


Di kamarnya, Vira masih sesenggukan menahan sesak yang terlalu keras menghantam dadanya dengan tega.


Kenapa? Kenapa dunia ini begitu jahat padanya? Dulu, ia selalu berkeyakinan, kalau ia memang tidak punya keberuntungan dalam dunia percintaan maka dalam dunia pertemanan ia harus menjadi orang paling beruntung. Orang paling bahagia sedunia. Tapi nyatanya tidak. Dunia seolah mengutuknya sejak ia dilahirkan ke dunia.


Dredd ... dredd ....


Sebuah getaran pada ponsel di sebelahnya membuat gadis itu lantas menoleh ke arah benda itu. Sebuah pesan dari nama yang masih belum bisa ia hapuskan dari dalam hatinya.


"Jangan nangis. Seorang gadis kuat tidak dilahirkan untuk menangisi kesedihannya."


Vira menolehkan kepala pada jendela kamar rumah cowok itu. Dari balik jendela, tergambar seluit seorang pria tengah memandanginya.


Vira memeluk ponselnya pada dekapannya. Dalam keadaan sangat jatuh pun, ia masih bisa merasakan debaran itu.

__ADS_1


__ADS_2