The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Papa-paba...


__ADS_3

Daniel melepaskan jaketnya kemudian memakaikan pada Rana. Cowok itu kemudian melayangkan pandangannya pada langit malam yang tak henti mengguyur bumi dengan air matanya, lalu beralih pada Rana yang masih belum berganti pada posisinya; duduk menangis tersedu-sedu.


"Udah, Ra ... lo ngapain nangis di sini?" tanyanya ada sedikit perasaan terluka melihat Rana yang semenyedihkan ini. "Di mana Arka?"


Dan Rana bagaikan korban yang mendapatkan naungannya. "Arka selingkuh .., Daniel! Gue di selingkuhin ...," rintihnya di antara sela-sela tangisnya.


"Arka? Selingkuh?" tanya Daniel tak percaya.


"Iyaa ...!!" teriak Rana, air matanya sudah tersamarkan oleh guyuran hujan, tapi siapapun akan tahu bahwa gadis itu sedang nelangsa dan menderita.


"Ya udah, gue anter lo pulang dulu. Lo ceritain semuanya nanti. Oke?" Daniel menyentuh pundak Rana lagi, meyakinkan gadis itu bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Sebab, Arka tak mungkin melakukannya.


...💕...

__ADS_1


Motor Arka berhenti pada sebuah rumah dengan aksen interior yang khas. Rumah itu terbuat dari kayu, tapi siapa pun akan tahu bahwa kayu itu lebih berharga dari berton-ton sak semen yang biasa digunakan untuk membangun sebuah rumah. Aroma khas kayu gaharu menguar saat Arka baru saja turun dari motornya. Arka tau, Om Husein, ayah Ingga, lebih tau dari siapa pun tentang interior kelas atas.


"Ka, masuk dulu, ya. Kamu kedinginan, Erlan apalagi. Bantu aku urusi dia," pinta Ingga, mencoba menenangkan tangisan bocah yang dibawanya.


"Gue udah bilang, elo sendiri yang ngotot," kata Arka, tapi tangannya tak urung meraih bocah itu ke dalam naungannya, menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah Ingga.


"Cup ... cup ... cup ...," ucap cowok itu. Setahunya, beginilah cara orang-orang saat mencoba menenangkan bayi yang tengah rewel. Ia merasakan tubuh bocah itu yang dingin sekali. Ingga memang gila, membiarkan anaknya nyaris membeku dalam guyuran air hujan tengah malam.


"Ini, Ka, bajunya," ucap cewek itu, berjalan ke arah Arka yang sedang mondar-mandir menimang Erlan di ruang tamu. Tangannya membawa beberapa buah baju, tak lupa pula jaket berbulu tebal untuk bocah itu.


"Aku mau mandi dulu. Tolong ya, Ka. Kamarnya ada di sana," ucap cewek itu lagi, kemudian bergegas pergi begitu saja. Meninggalkan Arka menuju dapur rumahnya.


Arka menghela napas. Ia terlanjur tak bisa menolak. Dengan langkah panjang, cowok dengan tubuh basah kuyup itu berjalan menuju kamar yang dimaksud oleh Ingga. Takut bocah dalam dekapannya lebih kedinginan lagi.

__ADS_1


Sesampainya di sana, ia langsung meletakkan bocah itu di ranjang. Lalu mengganti pakaiannya. Diamatinya wajah polos itu sejenak, sebelum ia menggendongnya lagi.


"Erlan ... jangan nangis, Papa ada di sini," ucap Arka di antara riuh rintik hujan yang masih deras mengguyur bumi.


"Papa-paba," celoteh bocah itu tiba-tiba berhenti dari tangisnya. Menimbulkan senyum getir menghiasi wajah sendu Arka.


...💕...


Rana masih menangis tersedu saat motor Daniel berhenti tepat di depan rumahnya. Ia kemudian turun dan memberikan jaket milik Daniel. Sedikit-banyak ia telah menceritakan semua kejadian yang dilihatnya pada cowok itu, dan ia tahu, Daniel pasti akan membantunya memecahkan masalah ini. Ia masih tak percaya, Arka menghianatinya begitu saja. Ia masih tak ingin menerima, Arka direnggut orang lain darinya. Dan pasti, Arka tak akan sejahat itu padanya. Mungkin saja cowok itu dijebak, dan hanya kemungkinan itulah yang sanggup ia percaya.


"Lo udah mau pulang, Nil?" tanya Rana di antara isak tangisnya.


"Sorry, Ra, gue masih harus jemput cewek gue," ucap Daniel, dan ucapan itu terasa seperti sambaran petir bagi Rana. Di saat terburuk seperti ini Daniel datang, dan tanpa sadar ia telah menjadikan Daniel suatu naungan tersendiri. Dimana ia sendiri telah lupa, ia sendirilah yang meninggalkan cowok itu.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Rana, raut wajahnya tak memancarkan ekspresi apa-apa.


"Gea, gue mencoba ngebuka hati gue buat dia dan gue berhasil."


__ADS_2