The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Rencana


__ADS_3

Rana merasakan dadanya bergemuruh seketika. Sesuatu seolah hendak keluar dari jantungnya itu. Namun, saat ia menyadari siapa orang yang menarik dirinya, perasaan itu seketika sirna. Entah apa yang ia harapkan sebelumnya.


"Arsya?" Kedua alisnya terangkat. Kenapa Arsya terlihat serius sekali? Lagipula, sudah lama mereka jarang berkomunikasi.


"Gue mau ngomong, Ra, sebentar. Boleh?" tanya Arsya, kemudian matanya melirik ke arah jalan menuju ruang UKS, satu-satunya ruang yang sedang sepi di sekitar sini.


...****************...


"Mau ngomong apa, Sya?" tanya Rana setelah duduk di salah satu brankar ruangan itu. Ia terlihat santai, walau pupil matanya terus menuju ke suatu tempat. Mengingatkannya pada cowok brengsek itu.


"Kalian kenapa, Ra?" tanya Arsya langsung saja. Memilih memosisikan diri dengan bersandar pada dinding di sampingnya.


Rana memalingkan wajahnya. Memfokuskan diri pada cowok itu. "Kalian siapa? Jangan ngebuat gue bingung, Sya. Terlalu banyak orang yang berubah dalam hidup gue, yang gue sendiri gak tau penjelasannya." Dan entah kenapa, ia justru melampiaskan amarahnya pada cowok tak bersalah di hadapannya.


Arsya sedikit mengernyit, tapi tak apalah. Ia pernah menerima sikap yang lebih buruk dari pada ini.

__ADS_1


"Emm ... lo sama Nada, mungkin?" tanyanya, dengan mimik wajah yang sudah kembali santai.


Rana tak langsung menjawab. Pandangannya sedikit tertunduk. Bukan hanya hubungannya dengan Nada yang entah kemana. Semuanya. Semua orang yang lebih dari dekat dengannya.


".... Lo sendiri inget kenapa lo putus sama Nada, kan?" Rana menegakkan kembali kepalanya. Ia harus lebih berlapang dada untuk menerima semuanya.


Arsya sedikit tersentak dengan pertanyaan Rana. Kejadian itu adalah sesuatu yang paling ia sesali dalam hidupnya. "Emm ... ya," jawabnya pada akhirnya.


"Apa?" tanya gadis mungil itu serta merta, tapi dengan ekspresi lebih santai sebab tak mau membuat Arsya terlalu merasa bersalah.


"Nah, itu." Belum selesai Arsya menjawab, Rana sudah menyambung kalimatnya kembali. Kemudian, dia menceritakan semua yang terjadi di hari itu dan setelahnya. Terlalu banyak kesahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Nada. Dan ia tak bisa menjelaskannya.


"Kayaknya gue udah punya tersangka buat kasus lo ini deh, Ra." Jemari Arsya bermain pada dagunya. Yakin ini adalah ulah seseorang itu.


"Siapa?" tanya Rana sedikit lebih antusias.

__ADS_1


"Nanti," jawab Arsya. "Gue udah punya dugaan, tapi belum tentu dugaan gue bener. Jadi, biarin gue nemuin siapa pelakunya dulu."


Rana menghela napas berat. "Terus gimana masalahnya bakal selesai, Arsya?" Dan ia juga terlalu takut persahabatannya terlalu retak untuk diperbaiki.


"Serahin aja semuanya ke gue. Lo tinggal terima jadi. Oke?" Senyuman cowok itu mengembang. Terlihat yakin sekali. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menerbitkan senyum Nada kembali.


"... Oke."


...****************...


Ingga duduk di kursi panjang itu sendirian. Mengawasi Arka yang sedang bermain basket dengan teman-temannya. Ia memasang posisi menopang dagunya dengan malas. Cowok itu semakin sering acuh tak acuh padanya. Dan ia semakin bosan dibuatnya.


"Huh...." Ia menghela napasnya lagi. Memalingkan wajahnya mencari pemandangan yang lebih bisa menyenangkan hatinya.


Kedua iris matanya menyipit. Di sana, beberapa cewek sedang bergerombol, menghabiskan waktu bersama. Namun, ia tak suka dengan pemandangan itu. Tapi kenapa? Yah ... benar, karena harusnya ia yang ada di sana, begitu menurutnya.

__ADS_1


Senyum miringnya tercetak begitu saja. Sesuatu yang menarik akan segera terjadi beberapa hari ke depan.


__ADS_2