The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Ke Rumah Arka


__ADS_3

"Udah ah, Mi. Rana mau keluar dulu, beli HP. Bisa repot kalau gak cepet-cepet beli," ucap Rana berdiri dari duduknya kemudian segera menyambar kunci mobil. "Rana bawa mobil sendiri ya, Mi. Abis itu mau mampir ke rumah Papi."


"Eh, kok sendiri sih. Jangan dong. Mami gak tega liat kamu nyetir mobil sendiri."


"Ya terus buat apa Rana belajar nyetir mobil, Mami?"


"Jangan dong, Raaa .... Baruu aja kemarin belajarnya. Kalau kenapa-napa gimana? Udah deh, biar dianterin sama Pak Budi aja," bujuk Puspa tak ingin anak gadisnya kenapa-napa. Disekitar sini mana ada yang jual beli nyawa.


"Hmm ... oke, deh." Rana mengalah. Benar juga kata maminya. Kemarin saat belajar menyetir saja ia sudah hampir menabrak seekor anak kucing. Apalagi kalau tak ada yang mendampinginya. Mungkin nanti beruang atau harimau yang akan menjadi korban.


"Tapi Rana boleh ya, ke rumah Papi? Hari ini kan Minggu. Udah jadwal Rana ke rumah Papi."


"Hmm ... oke deh, tapi jangan nginep ya. Pokoknya sore harus udah ada di rumah."


"Beres, Mii ...," ucap Rana memainkan kedua jempol tangannya.


"Hhh, iya. Ini, pake kartu Mami aja. Oh ya, nanti kalau udah beli, langsung telfon Mami, ya!" ujar Puspa sembari menyodorkan kartu kreditnya pada Rana.


"He em," Rana manggut-manggut saja sembari menerima kartu kredit Maminya.


"Inget loh, yaa ... langsung telfon Mami."


"Iya, Maamiii ...." Rana kemudian mencium pipi maminya manja.


...💕...


"Pak Budi, anterin Rana ke rumah Papi ya, Pak," ucap Rana setelah masuk ke dalam mobil. Ditangannya sudah ada paper bag berisikan ponsel yang baru saja ia beli.


"Siap, Non," sahut Pak Budi seperti biasanya.


"Halo, Mi!" sesuai permintaan Maminya, ia langsung menelfon setelah membela ponsel.


"Halo, Ra! Gimana? Udah beli, HPnya?" tanya Puspa di seberang sana.


"Udah, Mi. Ini Rana mau OTW ke rumah Papi."


"Oh iya. Nanti tolong beliin brownies terus anterin ke rumah Tante Sarah ya ...."


"Ha? Brownies? Ke rumah Tante Sarah? Kenapa, Mi?" tanya Rana spontan saja. Tumben-tumbenan maminya ini menyuruhnya begini.


"Udaah. Anterin aja," ucap Mami kekeuh.


"Brownies aja nih, Mi? Gak sekalian sama parsel buah, bunga, biji-bijian, sayur-sayuran, bumbu-bumbu, biar lengkap gitu?" kelakar Rana. Apa-apaan maminya ini? habis ini kan ia sudah bilang mau ke rumah Papi, kenapa pula tiba-tiba disuruh begini?


"Ya kalau kamu mau bawa sebegitu banyak, ya gak papa. Bagus malahan," kekeh Mami di ujung sana.


"Iih, Mami mah. Kan, Rana mau...."

__ADS_1


"Udah, anterin aja," potong Mami.


"Mam .... "


"Udah dulu ya, Ra. Mami masih mau ada urusan."


"Tapi, Mi...."


Tuuuuut ....


Baru saja Rana mau mangelak Mami sudah langsung mematikan saluran telepon saja.


"Waduh, ketemu Arka lagi deh gue," ucap Rana menepuk jidatnya pelan. Mau ditaruh dimana mukanya jika bertemu dengan cowok itu? Menangis histeris gara-gara diselingkuhi cowoknya. Apanya yang bisa dibanggakan?


💕


Lapangan basket


"Ka!" panggil Dio sembari berusaha merebut alih kendali bola basket dari cowok di hadapannya.


Arka tak menyahut. Pasti Dio sedang mencoba memecah konsentrasinya agar bisa mengambil alih bola. Disekitarnya kini juga ada Morgan dan Juned yang siap memegang kendali bola.


"Ka! Lo ada hubungan ya, sama si Rana?" tanya Dio tiba-tiba," Laju banget lu. Tiba-tiba udah peluk-peluk gitu."


"Maksud lo?" spontan, Arka menghentikan aktivitasnya. Kenapa Dio tiba-tiba bertanya seperti itu?


Dio tertawa ria. Tumben-tumbenan Arka bisa dikibulin begini. Padahal, ia hanya bercanda saja. Idenya pun datang sangat tiba-tiba dan terucap begitu saja. Ah, jangan-jangan Arka tertarik dengan Rana. Rana cantik sih, tapi justru itu yang membuat hal itu terasa tak mungkin.


Bagaimana bisa seorang cowok yang anti sekali dengan cewek berwajah amat cantik tiba-tiba menelan kembali ludahnya. Arka pernah bilang padanya dan teman-teman seganknya, "Kalau ada orang yang paling gua benci di dunia ini, itu ibu tiri gue. Dan kalau ada manusia yang paling gak gue sukai, itu cewek-cewek cantik yang sejenis sama Tante Sarah. Tukang manfaatin laki-laki."


...💕...


Mobil Rana berhenti di depan sebuah rumah. Bukan rumah papinya. Ini rumah Tante Sarah. Papinya ternyata sedang tak ada di rumah. Jadi, ia langsung saja melaksanakan permintaan maminya. Mengantar brownies ke rumah Tante Sarah. Dan semoga saja Arka tak ada di rumah.


"Maaf, Non Rana, saya habis dapet SMS dari Nyonya. Katanya, suruh pulang duluan. Nanti Non Rana naik taksi saja."


Rana langsung mengernyit, tadi sepertinya khawatir sekali kalau anaknya kenapa-napa. Dan sekarang? Tiba-tiba saja menyuruh Pak Budi pulang duluan.


"Yaudah deh, Pak, kalau gitu. Hati-hati di jalan ya, Pak," ucap Rana kemudian keluar dari mobil.


"Siap, Non," dari dalam mobil Pak Budi menyahut dengan posisi sigap seperti biasanya.


"Siap, Pak," balas Rana tak lupa dengan posisi hormat.


Pak Budi mengedipkan sebelah matanya, kemudian segera menyalakan mobil dan meninggalkan anak majikannya itu.


Rana mengamati rumah itu. Megah dan mewah. Tak jauh berbeda dengan rumah Rena. Tak heran sih, setahunya ayah Arka memiliki perusahaan produsen film. Makanya cowok itu tetap terlihat berwibawa walau dengan penampilan berantakan ala cowok berandalan. Kharismanya orang kaya.

__ADS_1


Gerbang rumah itu terbuka lebar, seperti sengaja mempersilahkannya masuk


Ting tung ... ting tung....


Rana memencet bel rumah itu.


Kreek...


Baru sekali pencet, pintu sudah langsung terbuka saja. Memunculkan wajah Tante Sarah yang tersenyum bahagia.


"Rana? Masuk, Ra! Udah Tante tungguin dari tadi," ujar Sarah sembari merangkul bahu Rana dan mengajaknya masuk.


"Nunggu?" tanya Rana spontan.


"Hehehe, iya. Tante yang bilang ke Mami kamu supaya kamu main kesini." Sarah terkekeh puas sekali.


"Berarti brownies-nya?"


"Cuma perantara," jawab Sarah kemudian meraih kotak brownies dari tangan Rana.


"Duduk, Ra. Tante masuk dulu ya. Kamu jangan langsung pulang! Tante lagi gak ada temen, makanya nyuruh kamu kesini."


Rana mengerucutkan bibir mungilnya pura-pura merajuk. Mau nyuruh main ke rumah pakai rencana beginian segala. Kan, sayang kalau brownies-nya gak kemakan. Hehehe.


Tante Sarah hanya meringis senang, kemudian tetap berlalu meninggalkan Rana di ruang tamu sendirian.


Rana tak segera duduk menuruti kata Tante Sarah. Ia mengamati ruang tamu yang luas itu. Simple, tetapi tetap tak menanggalkan kesan mewahnya.


Di dinding ruang itu terpajang beberapa foto dan lukisan karya pelukis ternama. Di ujung masing-masing lukisan ada tanda tangan dan nama pelukisnya. Rana tak asing. Ia adalah salah satu pengagum seniman-seniman itu. Ia suka menggambar dan melukis sejak dulu, walau tak ada yang tahu.


Pandangan Rana kemudian terhenti pada sebuah lukisan. Kakinya langsung saja melangkah mendekati lukisan itu. Keluarga kecil yang terlihat bahagia, dengan seorang ayah yang tersenyum bahagia berjongkok merangkul bahu istrinya, sedang diantara keduanya ada anak yang tersenyum ceria menatap ibunya.


Jemari Rana menyentuh ujung figura lukisan itu. Sosok ibu di lukisan ini terlihat sangat nyata. Tersenyum penuh bahagia menghadap kearahnya. Lukisan siapa ini? Sama sekali tak ada nama pelukisnya. Hanya ada sebuah ukiran tahun 2010.


"Ra?" tiba-tiba suara tante Sarah menyadarkannya. Wanita itu sudah berdiri di sampingnya.


"Eh, Tante." Rana langsung menoleh pada teman maminya itu.


Sarah turut mengamati lukisan yang semendari tadi diamati oleh Rana. Jemarinya kemudian menyentuh permukaan lukisan itu.


"Ini Om Rangga, papanya Arka," ucap Sarah sembari menunjuk sosok ayah yang ada di lukisan itu, "Ini Arka," ucapnya lagi, menunjuk sosok anak lelaki yang ada dalam lukisan, "Kalau yang ini ... ini mamanya Arka." Jemari Sarah bergetar, menyentuh wajah sosok wanita yang seolah tersenyum kearahnya.


Rana mengamati lagi wajah wanita dalam lukisan itu, kemudian mengalihkan pandangan mengamati wajah cantik Tante Sarah. Tak ada kemiripan. Sama sekali tak ada.


"Ini bukan Tante, Ra. Ini mama kandungnya Arka. Lukisan ini dibuat seminggu sebelum beliau meninggal."


Rana terhenyak. Sorot mata Arka yang kesepian langsung saja melayang dalam benaknya. Apa karena ini, atau ada sebab lain yang membuat Arka begitu menutup diri?

__ADS_1


"Sini, Ra. Tante pengen minta bantuan sama kamu," ucap Sarah mengamit tangan Rana dan mengajaknya duduk di sofa.


__ADS_2