The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Satu Per Satu


__ADS_3

"Aku mau ... malem dimana aku nembak kamu, itu juga sebagai malem perayaan setelah ujian. Inget, gini-gini aku guru privat kamu juga. Aku pengen kamu belajar lebih serius lagi. Biar kita bisa buktiin ke mereka kalau kamu bisa," terang cowok itu tak lupa dengan ulasan senyum yang tercetak jelas pada bibirnya.


Rana menghela napas lemas, kemudian mengerucutkan bibirnya. "Aku harus dapet juara satu ya, Ka, biar bisa resmi jadi pacar kamu? Kalau itu mah ... mustahil."


"Hahaha,,," Seketika saja, Arka melepaskan tawanya sebab mendengar pertanyaan polos Rana.


"Kok malah ketawa?!" rengek Rana bertanya.


"Ya nggak lah, Ra. Kamu pikir aku cowok apaan? Sekalipun usaha aku selama ini gagal, kamu ya kamu. Kan, aku udah bilang, kamu punya aku," tegas Arka lagi.


Senyum Rana seketika mengembang. Cewek itu menghembuskan napas lega. "Hhh ... kirain," ucapnya kemudian tersenyum semakin lebar.


"Iya, tapi belajarnya beneran," ingat Arka lagi.


"Iya-iyaa ... kan ada kamu," ucap Rana kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Arka.


Hening sejenak. Keduanya seperti sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


"Ka," panggil Rana hendak memulai perbincangan lagi.


"Ya, Ra?" sahut Arka sembari mengelus pucuk kepala Rana.


"Tadi sebelum aku ke kelas kamu dan nemuin surat itu, Nada tiba-tiba marah-marah sama aku," ungkap Rana ingin sekali mengurangi beban fikirannya dengan berbagi cerita pada cowok yang sedang bersamanya ini.


"Lho, kenapa? Kok marahnya malah ke kamu," respon Arka yang memang sudah tahu jelas latar belakang alasan sepasang kekasih itu kandas di tengah jalan.


"Inget gak, yang aku jatuh pas kamu lagi sama Alea?" tanya Rana walau sebenarnya sangat malas membahas hal itu.


Arka berdehem canggung. "... Iya."


"Terus, dia nuduh kamu yang ngelaporin mereka?" tanya Arka menyimpulkan.


"He em." Rana manggut-manggut dengan ekspresi sedih. "Katanya, aku yang foto mereka dan ngelaporin ke guru-guru. Padahal Rana mah, mana ada niat gitu ke sahabat sendiri."


"Udah coba kamu jelasin?"

__ADS_1


"Nada bener-bener ngamuk, Ka. Dia gak dengernya ucapan aku sama sekali. Sampe-sampe, muka aku aja dilempar pake buku tadi," ungkap Rana, merasakan sedikit sesak menggelayuti dadanya. Yang dilakukan Nada padanya itu ... jahat.


"Yang bener?" Arka langsung menilik wajah gadisnya cemas. Ditangkupnya kedua pipi Rana dengan tangannya. "Sakit?"


"Sakitnya bukan di sini." Tangan kanan Rana menyentuh punggung tangan Arka yang menangkup pipinya.


"Tapi di sini," ucapnya kemudian. Menyentuh dadanya yang akhir-akhir ini dibuat sesak terus menerus.


Arka kemudian mendekap Rana. "Maaf, aku bukannya ringanin masalah kamu, malah bikin kamu makin banyak pikiran," ucapnya kemudian melepas dekapannya.


Rana manggut-manggut, menatap mata cowok di hadapannya. "Sekarang aku juga udah kehilangan Vira, Ka. Kita udah gak sahabatan lagi.


"Ra? Kok bisa?" tanya Arka tak menyangka, sebab Rana dan Vira sepertinya terlampau dekat untuk sekadar punya masalah atau pun berseteru.


"Ternyata Vira, Ka, yang bikin rahasia Om Wijaya, papanya Rena, yang sering selingkuh bocor. Aku kecewa sama dia.


"Emang dia sengaja ngelakuin itu?" tanya Arka memastikan.

__ADS_1


" ... nggak sih, Ka. Tapi aku kasihan Rena. Vira harusnya bisa jaga rahasia itu dengan baik."


"Ra, tunggu deh." Arka tiba-tiba turun dari ranjang dan melangkah pergi menaiki tangga sedikit terburu-buru. Sekembalinya, cowok itu sudah membawa sebuah leptop di tangannya.


__ADS_2