
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membawa angin masuk melalui jendela, menerpa wajah sendu Rana. Tangannya menggenggam piala itu, sedikit lemas. Ia sudah mendapatkan benda ini, tapi mengapa ia tak merasakan bahagia? Lantas, apa sebenarnya yang ia cari?
"Rana mau langsung pulang ke rumah atau mampir ke rumah Tante dulu?" tanya Sarah, sukses membuat gadis itu menolehkan kepalanya, mengenyahkan lamunannya.
"Bisa tolong anter ke rumah Papi aja, Tante? Lagian di rumah juga gak ada orang," jelas Rana kemudian memperlihatkan senyuman dari bibir tipisnya.
"Okey, Ra. Apasih yang nggak buat kamu?" Sarah kemudian tertawa. Rana terkekeh.
"Puspa pasti bangga banget kalau kamu kasih tau deh. Mau nelpon sekarang, atau gimana?" tanya Sarah.
Rana tersenyum. Benar juga. "Enggak, Tante. Nanti aja," ucapnya, selaras dengan apa yang ada dipikirannya sebab rasanya tak etis kalau ia menyampaikannya secara tak langsung.
__ADS_1
Tak sampai menunggu lama, mobil itu akhirnya sampai di depan rumah Darren, Papi Rana. Gerbang rumah serta mobil kesayangan yang terparkir di garasinya, menunjukkan bahwa pria itu sedang ada dirumah. Ya, tentu saja, ia sudah mengatakannya terlebih dahulu, bahwa ia akan datang ke sini.
Rana turun dari mobil kedua orang tua Arka itu, mengucapkan terimakasih lalu kemudian berdiri di depan gerbang hingga mobil itu benar-benar sudah pergi. Senyumnya kemudian memudar seiring dengan kepergian kendaraan beroda empat itu. Ia sedang bertanya-tanya, apa yang tengah dibicarakan kedua orang tadi? Sebuah konflik atau cumbu rayu?
"Rana!"
Gadis itu menolehkan kepalanya, seorang pria dengan wajah tampan agak seperti bayi itu kini sedang berjalan ke arahnya. Tampak bersemangat sekali. Dadanya yang putih dan bugar dibiarkan pelontos begitu saja. Ada sedikit perubahan, sepertinya ada beberapa otot yang sudah memudar. Rana terkekeh, pasti ayahnya akhir-akhir ini tak sering berolahraga seperti biasanya.
"Papi gemukan," ucapnya pada akhirnya. Tapi kemudian pria itu sudah terlebih dahulu mendekap dirinya. Membuatnya tak bisa melanjutkan ledekannya.
Rana terdiam dalam dekapan pria itu. Ada sesuatu yang meluap-luap melalui dadanya, menuju ke atas seolah berontak ingin keluar. "Pi, maafin Rana," ucapnya terputus. Harusnya ia lebih sering mengunjungi ayahnya. Pria ini pasti sangat tersiksa oleh kesepian.
__ADS_1
...****************...
Gadis itu berjalan perlahan di tengah koridor yang sudah semakin sepi, sendirian. Acara sudah sedari tadi selesai, menyisakan beberapa petugas dan panitia yang kini tengah membereskan sisa-sisa kekacauan acara. Beberapa murid tampak berbahagia dengan seragam penuh warna mereka. Pandangannya kemudian teralihkan pada segerombolan pemuda yang masih asik bercanda tawa, lengkap dengan peralatan warna ditangan mereka.
"Nad!" panggil salah satu diantara mereka. Seorang cowok dengan tubuh bontotnya. Tau saja Nada sedang mengawasi ke arah mereka.
Belum sempat Nada menjawab, cowok itu sudah terlebih dahulu melanjutkan bicaranya. Ah, ralat, mungkin ini lebih tepat bila disebut sebagai teriakan.
"Ditingguin Arsya diparkiran!" Cowok bernama Dio itu kemudian meringis dengan bangganya. Disambut dengan tawaan teman-temannya. Seragamnya juga penuh warna, padahal ia masih punya satu tahun lagi.
Nada langsung memalingkan wajahnya. Mempercepat langkahnya. Ia agak geleng-geleng. Ngomong-ngomong, kasian sekali Dio. Setelah ini mayoritas teman setongkrongannya akan meninggalkannya, menuju ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
__ADS_1
"Nad?"
Nada menghentikan langkah kakinya setelah sampai di parkiran. Benar saja, seorang cowok sedang menunggunya. Tampak kusut dengan seragam berantakan dan penuh warnanya. Tatapannya masih sama seperti dulu, hanya sekarang terlihat lebih tegas. Lebih dewasa.