The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Memilih Pergi


__ADS_3

"Bener, Vir?" potong Rana menuntut jawaban. Dari wajahnya, sudah terlihat ada rasa kecewa yang menghantam dadanya ganas. Kalau Vira tidak melakukannya, pasti temannya itu langsung membantah dan tak perlu terbata-bata begini.


Vira menundukkan kepalanya. Gadis itu mengangguk pelan. "Maaf, Rey, gue keceplosan waktu itu. Gak sengaja," ucapnya pada akhirnya.


"Lo keceplosan atau emang niat mau nyebar aib?!" bentak Rena tak sungkan-sungkan melampiaskan amarahnya. Harusnya Vira tau, kalau semua curhatannya itu tak boleh dijadikan bahan dunia pergosipannya.


"Maaf, Rey... gue tau gue salah. Tapi gue bener-bener gak tau kalau jadinya sampe kayak gini. Gue cuma ngobrol sama Naumy. Cuma sama dia doang. Gue juga gak kepikiran kalo dia bakal nyebarin ke yang lain," mohon Vira penuh pinta. Dalam hati ia benar-benar merutuki dirinya. Kenapa hobinya tidak ada yang berguna.


"Halah! Maaf lo gak ada gunanya tau!" Rena benar-benar sudah di ujung tanduk.


"Rey, Vira udah minta maaf. Dia gak sengaja," tutur Rana, tak tega melihat wajah Vira yang memelas ditambah dengan matanya yang berlinang.


Vira menoleh ke arah Rana dan mengangguk pelan. Meyakinkan sahabatnya itu bahwa ia benar-benar telah menyesali perbuatannya.

__ADS_1


"Jangan terlalu baik, Ra. Jangan mau dibohongi sama ular kayak dia."


"Tapi, Rey ...."


"Lo gak inget, Ra, kertas ulangan sama rapor lo yang ditempel di mading waktu itu. Emangnya lo gak curiga, kalau dia juga dalangnya?" potong Rena mengingatkan.


"Nggak, Ra. Gue gak mungkin ngelakuin itu ke elo," bantah Vira. Bagaimana bisa Rena menuduhnya seperti itu. Sesuatu yang jelas tak mungkin ia lakukan. Mana mungkin ia berbuat sesengaja itu untuk menyakiti Rana.


"Ra! Gila lo, ya?! Mana mungkin gue ngelakuin itu. Bisa-bisanya lo percaya tuduhan ngawur Rena." Sekarang, giliran Vira yang dibuat meradang. Tuduhan tanpa bukti seperti ini, bisa-bisanya Rana langsung percaya begitu saja. Padahal, dalam persahabatan mereka selama ini, ia paling sayang dengan Rana.


"Gue gak ngawur, Vir. Emang, lo bisa buktiin kalo yang ngelakuin itu bukan elo?" tuntut Rena dengan tatapan sinisnya.


"Bisa!" jawab Vira penuh keyakinan. Lagi pula, dia memang bukan pelakunya. Kelepasan karena asyik bergosip ia memang bisa saja. Tapi kalau sampai membuat Rana menjadi bahan bulian, mana mungkin ia tega.

__ADS_1


"Apa?!" tanya Rena sama-sama emosinya.


Vira menoleh ke arah Rana. Menatap mata temannya itu dalam. "Lo percaya kan, Ra, sama gue, kalau gue gak mungkin ngelakuin itu semua ke elo?" tanyanya berharap penuh pada Rana.


Rana menundukkan kepalanya lagi. Dari kedua pelupuk matanya, buliran bening mulai keluar. Sembari menahan sesak yang menggelayuti dada, gadis itu menggeleng pelan. Sebuah jawaban yang sama sekali tak diharapkan oleh Vira.


Vira terdiam memejamkan matanya. Bahkan, ditusuk belati tertajam sedunia pun, rasanya tak akan sesakit ini.


"Oke, ya udah. Anggep aja gue pelakunya.


Rena diam tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Sedang di sebelahnya, Rana hanya bisa menangis batin tanpa bisa mengeluarkan suara.


Merasa tak ada lagi yang perlu dipertahankan apalagi diperjuangkan, Vira membalikkan tubuhnya. Berjalan maju meninggalkan mereka. Kristal bening yang semendari tadi ditahannya akhirnya menetes juga. Tapi, harus bagaimana lagi? Apa yang bisa didapatkan dari sebuah hubungan tanpa kepercayaan?

__ADS_1


__ADS_2