
"Pak, saya cuma mau ketemu sama Rana," ucap Daniel menatap tak bersahabat pada bapak penjaga sekolah di hadapannya. Bagaimana ia tidak geram? Dari tadi ia bicara baik-baik, tapi bapak ini tetap kukuh tak mau membukakan gerbang SMA Tunas Bangsa untuknya. Dan lihatlah sekarang, beberapa teman bawaannya sedang sibuk menggedor-gedor pintu gerbang itu.
"Kalau Bapak gak mau bukain gerbang ini sekarang juga, saya bakal manggil gank saya yang lain buat ke sini," ancam Daniel lagi.
Pak Uus semakin panik. Mana tampangnya serem-serem lagi. "Gak bisa, kalau saya membiarkan kalian masuk, kalian pasti akan buat masalah nanti," ucap pak Uus agak terbata.
"Buka aja, Pak." Tiba-tiba suara berwibawa seorang cowok membuat semuanya geming seketika. Cowok itu berjalan angkuh, diikuti gerombolan cowok-cowok di belakangnya.
"Tapi ...."
"Buka aja, Pak. Biar saya yang urus, " ucap Arka jelas. Matanya menatap lurus pada Daniel. Cowok ini ... pasti mentan pacarnya Rana. Jadi, dia anak SMK Karya Nusantara ya.
Daniel menatap Arka sengit. Songong sekali cowok ini. Benar-benar membuatnya ingin cepat-cepat menghabisi.
Sreeek...., pintu gerbang dibuka, membuat kedua belah pihak bisa dengan jelas saling menatap tajam.
Arsya merutuki diri sendiri dalam hati. Dulu ia dan Daniel cukup dekat walau tak bisa dibilang bersahabat, tapi ia tak suka jika dipertemukan lagi dengan keadaan seperti ini.
Setelah cukup lama menatap Daniel, Arka beralih pada masing-masing wajah kesembilan teman-teman bawaannya. Jhh, bertemu lagi dengan Regy dan kawan-kawan. Sepertinya, dunia memang begitu sempit.
"Mau apa lo dateng ke sini?" Arka akhirnya bersuara, memecahkan keheningan yang mencekam sebelumnya.
"Gue cuma mau ketemu sama Rana. Jadi, gue harap kali ini lo gak ikut campur lagi," ucap Daniel gagah berani, tak peduli walau saat ini kelompoknya sedang kalah jumlah.
Arka terdiam sebelum menjawab. Ikut campur? Benar juga kata cowok ini. Kemarin ia sudah terlalu banyak ikut campur dengan urusan Rana dan cowok brengsek ini.
"Yo! Panggilin Rana!" titah Arka tak perlu basa-basi.
"Siap!" sahut Dio kemudian segera berlari mencari keberadaan si cantik pendatang baru di sekolah mereka.
Dio berlari, semua mata tertuju padanya.
"Hhh,,," Anak-anak SMK Karya Nusantara tak bisa menahan tawa melihat adegan si gendut itu. Seperti tak ada orang lain saja, bisa-bisanya Arka menyuruh orang segemuk itu.
"Ada yang lucu?!" gertak Arka malas.
Digertak seperti itu, membuat teman-teman Daniel langsung terdiam. Siapa suruh macam-macam di depan premannya SMA Tunas Bangsa.
__ADS_1
"Sya, lama ya, gue gak ketemu sama lo. Gimana kabar lo? Baik, kan?" Daniel tiba-tiba menyapa Arsya. Membuat semua orang langsung menatap keduanya secara bergantian.
"Hhh, baik. Lo gimana?" tanya Arsya balik. Dalam hati merasa lega, untung Daniel cukup dewasa untuk tak lantas menganggapnya musuh karena sudah berpihak pada Arka.
"Baik, cuma ... ada sedikit masalah," ucap Daniel kemudian berpaling menatap Arka. Tangannya mengepal. Benar-benar tak sabar untuk segera menghabisi cowok di hadapannya ini.
"Gue juga udah lama gak ketemu sama elo, Ka. Gimana kabar lo sama sohib lo itu?" Regy tiba-tiba ikut bersuara.
Dada Arka semakin bergemuruh. Emosinya seketika meningkat demi mendengar pertanyaan Regy barusan. kedua tangannya mengepal. Kenapa harus membawa-bawa bocah brengsek itu segala?
...💕...
"Ra!" panggil Dio sembari berlari menaiki tangga. Kata anak-anak, Rana dan teman-temannya sedang berada di rooftop sekolah. Huh, benar-benar menguras tenaga. Berlari, kemudian ngos-ngosan. Berlari lagi, ngos-ngosan lagi. Awas saja nanti, pokoknya ia harus meminta pertanggungjawaban dari Arka untuk mentraktir semua makanan kesukaannya.
Sesampai di rooftop, ternyata usahanya tak berbuah kecewa. Ada Rana and the gengs di sini. Buru-buru ia menghampiri mereka.
"Rana!" panggil Dio dengan nafas terengah-engah.
Ke empat gadis yang berada di rooftop itu langsung mengalihkan perhatian pada Dio. Kenapa si Gentong ini tiba-tiba ke sini? Bikin kaget saja. Vira berdecak pinggang.
Dio berusaha menstabilkan nafasnya. Perjuangan mencari keberadaan Rana benar-benar melelahkan. Kalau tugasnya begini terus setiap harinya, ia bisa menjamin kalau badannya akan semungil Rana.
"Ra, ada yang nyariin elo," ucap Dio pada akhirnya.
"Ha? Siapa?" tanya Rana spontan, dengan wajah sembab karena habis menangis.
"Gak tau. Intinya dari SMK Karya Nusantara."
"Kayaknya Daniel deh, Ra." Rena langsung menyimpulkan. "Dia pasti udah gak diizinin masuk ke rumah elo. Jadi, jalan satu-satunya supaya dia bisa ketemu lo ya ... di sekolah ini," ungkapnya lagi.
"Buruan, Ra. Gue gak mau perang dunia ke-tiga pecah di bawah," ucap Dio tergesa.
Rana diam tak menjawab, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pinggiran rooftop.
"Raa!!" panggil Vira tiba-tiba.
Rana spontan menoleh.
__ADS_1
"Jangan bunuh diri! Laki-laki gak cuma Daniel kok," teriak Vira, hendak menyusul langkah Rana.
"Cuma mau ngintip, Vir. Ya kali bunuh diri." Nada angkat bicara. Mana mungkin Rana sampai mau bunuh diri hanya gara-gara diselingkuhi cowok bengal seperti Daniel.
"Yo, bilangin, gue gak mau lagi ketemu sama dia, jangan coba-coba nemuin gue lagi," ujar Rana pada akhirnya, sembari menatap ke arah gerbang jauh di bawah sana. Daniel berhadap-hadapan dengan Arka, lengkap dengan pion-pion di belakang mereka yang siap sedia untuk menyerbu.
Entahlah ia harus bagaimana sekarang. Intinya, ia tidak ingin bertemu dengan Daniel lagi.
"Tapi, Ra ...."
"Udah, Yo, lo bilang aja ke mereka. Rana lagi gak stabil sekarang." Rena memotong ucapan Dio.
"Ya udah deh, kalau gitu," ucap Dio kemudian, lengkap dengan helaan napas dan wajah kecewa.
"Tapi gimana kalo mereka tetep kekeuh?" tanya Dio tak mau menyerah begitu saja.
"Ya udah, gue juga ikut. Gue harus kasih pelajaran sama cowok brengsek itu. Berani-beraninya nyelingkuhin sahabat gue," ucap Vira dengan tangan kanan yang mengepal dan ditinjukan ke telapak tangan kirinya berulang-ulang.
Dio berlari sekencang-kencangnya menuju gerbang sekolah. Di belakangnya, Vira berjalan dengan santai. Ingin tertawa sebenarnya, melihat Dio berlari seperti ini. Larinya setengah mati tapi seperti tak kunjung sampai. Ah, siapa suruh langkah kakinya kecil sekali. Dasar gentong.
Sesampai di gerbang utama SMA Tunas Bangsa, seluruh mata langsung tertuju pada keduanya. Yang dicari Rana, kenapa yang datang malah Vira?
"Ka, Rana bilang dia gak mau lagi ketemu sama dia," ucap Dio kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Daniel. "Katanya, jangan coba-coba lagi nemuin dia," ucap Dio lagi.
Daniel tertegun. Rana tak mau melihatnya lagi. Pasti cewek itu sudah sangat membencinya.
"Lo denger kan, apa kata Dio? Jangan bilang ... lo budek beneran," ucap Arka terdengar puas sekali dengan apa yang barusan ia dengar.
"Hhh, lo bohongin gue, ya?" Daniel melangkah maju ke depan. "Gue gak bakal percaya kalau bukan Rana sendiri yang ngomong ke gue," ucapnya lagi setelah berdiri lebih dekat di hadapan Arka. Kini, keduanya hanya berjarak satu langkah.
"Kenapa juga gue bohongin elo. Lagian, gue juga gak heran kalau Rana sampai gak mau lagi ketemu sama lo. Tukang selingkuh ... mana pantes dimaafin," ucap Arka membuat keadaan semakin panas.
"Lo gak usah ikut campur, ya! Lo tuh bukan siapa-siapa dia!" gertak Daniel menarik kerah seragam cowok di hadapannya.
"Hhh,,," Dengan santai, Arka menghempaskan tangan Daniel begitu saja. "Tante Puspa udah nitipin dia ke gue. Siapa bilang gue bukan siapa-siapa?"
Di ujung sana, Vira spontan ternganga lalu menutup mulutnya. What!! Ghosip terbaru hari ini. Mama Rana nitipin Rana ke Arka. Jangan-jangan ... mereka udah pacaran.
__ADS_1