
"Arka!" Bukan Rana namanya kalau tak bertindak sesuka hatinya begini. Nyaring sekali cewek itu memanggil, lengkap dengan lambaian tangan tinggi. Benar-benar menarik perhatian semua orang.
Arka agak tersentak mendengar suara cempreng seorang cewek yang tiba-tiba memanggil namanya itu. Pandangannya langsung tertuju pada seorang cewek. Ditatapnya cewek itu datar, kemudian memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya.
Direspon seperti itu oleh Arka, Rana hanya memanyunkan bibir sekilas, kemudian tanpa gentar berlari kecil ke arah cowok itu. Sedang teman-temannya hanya bisa duduk diam terheran-heran, penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh si kecil pecicilan sahabat mereka. Pun dengan Raja yang hanya bisa mengamati sembari menahan segala rasa yang berkecamuk.
"Arka!!" Rana mempertegas panggilannya langsung di hadapan cowok yang dipanggilnya.
Arka membuang napas kasar. "Kenapa? Apa sih, mau lo?" tanyanya tak bersahabat, pada cewek di hadapannya yang tengah mengadah menatapnya.
"Elo," jawab Rana terdengar penuh percaya diri.
Alih-alih memberi tanggapan, Arka justru mengernyit tak paham.
"Gue mau elo," ucapnya polos sekali, tersenyum lebar bak bidadari. Ia tak peduli, walau ia sendiri menyadari, bahwa dirinya menjadi tontonan gratis seluruh penghuni kantin saat ini.
Mendengar ungkapan gamblang cewek di hadapannya, seketika kernyitan di kening Arka memudar. Ada sesuatu yang bergejolak di hatinya. Tapi sejenak setelah itu, ia langsung melangkahkan kaki menuju ke arah lain. "Omong kosong," ucapnya dingin sekali. Bagaimana ia bisa menyebut dirinya laki-laki, jika janji pun tak bisa ia tepati?
Tak cukup sampai disitu. Tak gentar apalagi takut.
"Perhatian- perhatian!" seru Rana cempreng, tiba-tiba sudah berdiri di atas kursi.
"Hari ini, gue Rana Puspakarina, anak 11 IPA 1, mengakui dengan sebenar-benarnya, bahwa gue jatuh cinta sama seorang cowok dingin dari kelas 12 IPA 3, Arka Airlangga. Dan dengan pengumuman ini, gue selaku cewek penjuang, meminta izin dari dia buat ngedeketin," umumnya mencoba puitis, tapi mungkin percobaannya agak gagal karena keberadaan gelas yang ia gunakan sebagai pengganti mikrofon.
"Izinin!!" teriak Dio tiba-tiba, sembari mengepalkan tangan meninju ke udara.
Dan tak disangka-sangka, sedetik setelah itu kantin diramaikan dengan sorak-sorak para penghuninya, meneriakkan satu kata yang sebelumnya diteriakkan oleh Dio. Seru sekali, cewek tercantik yang biasanya dikejar-kejar, kini justru mengejar seorang cowok dingin bak es batu, yang bahkan sudah terkenal anti sekali dengan cewek cantik.
__ADS_1
Mendengar sorak-sorai dan ungkapan Rana sebelumnya itu, Arka menghentikan langkahnya. Kemudian tak ragu membalikkan badan menatap Rana yang masih mangkring di atas kursi.
"Tapi gue gak butuh diperjuangin," ucap cowok jakung itu dingin tanpa ekspresi.
Mendengar ucapan Arka, Rana turun dari kursinya dan melangkahkan kaki mendekati cowok itu. Senyumnya sama sekali tak memudar. Malahan, hatinya semakin meronta-ronta ingin secepatnya menaklukkan hati cowok itu.
"Ka, ini tantangan, kalo lo emang gak ngasih kesempatan gue buat ngedeketin lo, itu artinya lo takut ... kalo hati lo bakal luluh sama gue." Ditatapnya mata Arka dalam. Ia selalu suka mata itu. Mata yang selalu membuatnya jatuh cinta.
Arka terdiam sejenak mencerna perkataan cewek di hadapannya. Sorak-sorai seluruh penghuni kantin juga berhenti sejenak, menanti tanggapan dari si cowok dingin yang sering dijuluki sebagai preman sekolah mereka.
"Gue terima. Tapi lo harus mastiin, kalo lo bakal berenti ketika gue udah sama cewek lain."
"Oke. Deal?" Rana bersemangat sekali menyodorkan tangannya.
"Deal." Arka menyambut uluran tangan cewek mungil di hadapannya. Dan dari sinilah, semuanya bermula.
...💕...
Rana masih senyum-senyum sendiri meskipun di depan, Bu Rahayu sedang mendongeng panjang lebar mengenai sejarah Indonesia. Tapi kemudian, tiba-tiba ia merasa perutnya seperti dililit oleh ular anakonda--Untung bukan emaknya konda.
"Duh, Vir! Cacing di perut gue lagi ngelakuin pemberontakan nih," lapor Rana lirih, dengan tangan menyentuh perut, mules.
"Kenapa lagi? Perasaan lo udah ngabisin bakso gue juga deh," tanggap Vira lirih juga.
"Justru itu. Panggilan alam, ini."
"Dih, tanggung. Bentar lagi selesai. Tahan dulu, deh," saran Vira.
__ADS_1
"Udah di pucuk. Kalo tiba-tiba anak krakatau gue meletus, emang lo mau tanggung jawab?"
"Ya udah deh, serah lu. Tapi gue males nganterin."
"Beres," ucap Rana lirih, kemudian mengangkat tangan kanannya hendak meminta izin.
"Kenapa, Rana?" ternyata Bu Rahayu yang ternyata memiliki tingkat kepekaan tinggi.
"Perut saya, Bu." Cewek itu memegang perutnya, menahan segala rasa yang berkecamuk menjadi satu. "Mau ada tsunami," lanjutnya jujur sekali.
Melihat tingkah Rana yang sudah seperti cacing kepanasan, ditambah lagi jawaban apa adanya ala-ala cewek itu, sontak saja suara tawa meramaikan suasana kelas yang sebelumnya sangat suntuk.
"Ya udah, kamu ke toilet aja dulu," ucap Bu Rahayu dengan ekspresi ibu bercampur geli.
Mendengar perizinan dari Bu Rahayu, Rana spontan saja berdiri dari duduknya, kemudian lari terbirit-birit keluar dari ruang kelasnya itu.
Dasar Rana! Semuanya hanya bisa geleng-geleng sembari menahan tawa.
...💕...
"Na na na na .... "
Setelah cukup lama menjadi salah satu penunggu toilet sekolah, Rana akhirnya melangkahkan kaki hendak keluar dari area toilet. Tapi kemudian, langkahnya terhenti sebab melihat segerombolan cewek yang menatapnya sinis, berniat sekali mengintimidasinya di tempat terjorok sekaligus ternyaman ini.
"Gue gak nyangka. Pertama lo masuk ke sini, ngeliat keramahan lo ke semua orang, awalnya gue ngira lo cewek polosan yang baik-baik," ucap si Ratu Bullying, Marsha, menyedekapkan kedua tangan di depan dada.
"Tapi ternyata ... pikiran gue salah besar. Karena nyatanya, lo bukan cewek polosan, apa lagi cewek baik-baik," lanjutnya menusuk sekali.
__ADS_1
"Eh, lo kalo ngomong jangan sembarangan, ya?" Rana yang hanya seorang diri, masih kukuh dengan sifat anti rasa takutnya.
"Gue gak pernah ngomong sembarangan. Penilaian gue udah tentu relevan. Lo baru aja pendatang di sini, tapi bisa-bisanya lo udah nyebabin tawuran segede itu sama SMK sebelah. Dan ... gak cuma sampai disitu, lo dan keluarga lo bahkan dateng ke rumah Pak Kusma buat nyogok, supaya ulah lo gak dipermasalahin lebih panjang lagi. Sampai di sini, lo udah paham kalo lo tuh emang serendah itu?"