
Hari ini matahari begitu cerah menyinari. Teriknya terasa hangat. Belum menyengat sebab saat ini masih pagi. Mungkin beberapa jam lagi, akan lebih dari hangat, juga mungkin akan terasa menyengat.
Tapi, hari ini terlalu spesial. Benar-benar terlalu spesial untuk dikeluhkan. Semuanya sangat bersemangat untuk menyambut kedatangannya. Sudah beberapa hari mereka menunggu dan mempersiapkan segalanya. Dan inilah saatnya.
Suasana juga begitu riuh. Lapangan SMA Tunas Bangsa kali ini tak hanya diramaikan oleh siswa-siswi nya, tapi juga siswa-siswi dari sekolah tetangga. Sekolahnya mana lagi kalau bukan SMK Karya Nusantara.
Sesuai rencana para penggerak acara, semuanya sepertinya akan berjalan dengan lancar.
Di depan, Pak Kusma sedang berceramah memberi sambutan. Kemudian dilanjutkan juga dengan sambutan kepala sekolah SMK Karya Nusantara.
Dan... setelah itu, tentu kalian tahu apa saja yang akan terjadi hari ini.
"Arsya, semangat, ya! Aku pasti dukung kamu selalu, kok," ucap Nada pada cowoknya. Saat ini mereka tengah berada di ruang bersiap, beserta dengan pemain-pemain lainnya.
__ADS_1
"Pastinya, Sayang .... Kamu tenang aja, pasti kita bakal menang. Kan, ada kamu yang nyemangatin aku," gombal Arsya, membuat teman-temannya bergidik ngeri mendengarkan betapa recehnya itu.
"Heh, Sya! Jangan ngeliatin Nada muluu .... Entar kalo kita kalah, pokoknya itu salah lo," cecar Dio di ujung sana. Sibuk sekali. Padahal, ia tidak ikut menjadi peserta lomba basket.
"Huss! Ganggu orang pacaran aja lo." Sekarang giliran Arsya yang sewot.
"Oh ya, Yang, Rana mana? Kasian tuh, si Arka. Dari tadi udah nungguin," ucapnya lagi, mengisyaratkan pada Arka yang acuh tak acuh walau mendengar namanya disebut-sebut.
"Eh, nggak tau, ya. Kayaknya belum dateng deh."
Dengan sebotol air putih ditangannya, gadis itu berlari tergesa menyusuri koridor yang lebih ramai dari biasanya. Mungkin, kalau persahabatan kali ini mengadakan lomba orang paling ceroboh, dialah yang akan menjadi pemenangnya. Sudah tahu hari ini adalah hari istimewa, ia malah terlambat berangkat ke sekolah. Mana Arka ikut main lagi.
Padahal, sebelumnya ialah yang bersikeras agar cowok itu untuk sementara tak ikut pertandingan dahulu. Ya ... walaupun ini sudah terhitung tiga hari sejak kejadian itu, ia tetap khawatir kalau-kalau luka di lengan cowok itu jadi tambah parah.
__ADS_1
Tapi Arka tentu saja menolak. Katanya, lomba persahabatan ini diadakan untuk mendamaikan kedua belah pihak. Terkhusus, ia dan Daniel. Jadi akan terasa janggal jika ia malah tidak ikut serta. Walaupun toh, ia dan Daniel sudah berteman baik.
"Eh, hai, Ra! Lo lambat ya?" sapa seorang cowok secara tiba-tiba, tapi berhasil menghentikan langkah Rana.
Rana kemudian menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Raja. Cowok itu sudah mengenakan seragam pemain bulu tangkis, lengkap dengan seperangkat raket di tangannya.
"Eh, iya, Ja. Sorry, gue buru-buru," jawab Rana singkat. Kemudian, tanpa menunggu tanggapan dari Raja, segera melesat lagi hendak menemui Arka.
Diperlakukan seperti ini lagi. Raja menghela napasnya berat. Entah benar atau tidak. Tapi, beberapa hari ini, tepatnya setelah malam itu, ia merasa Rana berbeda. Cewek itu seperti sedang menghindarinya. Padahal ... rasanya ia tidak melakukan kesalahan apa pun.
Cowok itu kemudian melirik raket di tangannya. Harusnya, bukan di sini tempatnya. Tidak, kalau saja keadaan masih sama seperti dulu.
Panjang sekali perjalanan Rana berlari. Di depan pintu ruang persiapan, cewek itu berhenti dengan napas terengah. Mengatur napasnya, kemudian sedikit merapikan rambutnya. Dan ....
__ADS_1
Kreek....