The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Malam Yang Dinanti


__ADS_3

Arsya memandangi cewek itu cukup lama saat keduanya sudah sampai di belakang kelas, di bawah pohon rindang tempat di mana ia biasanya menghisap rokok tanpa seorang pun yang tau kecuali Arka dan teman-temannya.


Di hadapan Arsya, Nada hanya bisa menundukkan kepalanya. Kedua tangannya meremas pinggiran rok dengan gelisah. Entah mengapa, tapi ia takut dengan Arsya. Ketakutan yang datang tanpa sebab. Tapi nyatanya kakinya tetap mengikuti kemana cowok itu mengajaknya pergi.


Bibir Arsya menyunggingkan senyum samar. Nada mau mengikuti langkahnya sampai ke tempat ini saja, sudah membuatnya sangat bahagia. Ia mendeskripsikannya dengan kata 'lega'. Lega karena itu artinya Nada masih mengindahkan keberadaannya di dalam hati cewek itu. Cowok itu kemudian mulai melangkahkan kakinya maju.


Nada sedikit tersentak oleh gerakan Arsya. Cewek itu spontan saja mengambil langkah mundur.


"Mau ngomong apa?"


"Diem," titah Arsya lirih di antara riuh rintik hujan yang mulai turun ke bumi. "Diem di tempat, Nad," lanjutnya masih melangkah mendekati Nada.


Dan Nada bagaikan mangsa ketakutan yang terhipnotis oleh cowok di hadapannya. Ia hanya takut bahwa Arsya yang di hadapannya bukanlah Arsya yang ia kenal. Setelah kejadian itu Arsya sudah benar-benar tak pernah memunculkan diri di hadapannya kecuali saat ini dan ia tak tahu apa tujuan cowok itu sekarang.

__ADS_1


Usai menyelesaikan langkahnya, cowok itu kemudian benar-benar mengikis jaraknya dan Nada dengan memeluk cewek itu. Mendekapnya hangat seperti hal yang selalu ingin ia lakukan di hari-hari menyesakkan ini.


"Jangan pergi lagi .... Jadi Nada yang gue kenal."


...💕...


Jess jess jess ....


Kedua sudut bibir cowok itu terangkat sempurna, seolah sedang tersenyum pada kembarannya, sebut pantulan yang disediakan cermin di hadapannya.


Usai menyelesaikan semuanya, cowok itu kemudian menuruni tangga segera, sembari menghubungi Rana agar cewek itu bersiap-siap di sana.


"Halo, Ra! .... Udah siap? .... Owh... iya, iya, ini mau berangkat."

__ADS_1


Baru saja mau menutup telpon, tapi kemudian atensi Arka teralihkan oleh seorang wanita berwajah ceria yang berjalan cepat ke arahnya.


"Aduuuh ... ganteng banget anak Mama. Mau ke mana, sih?" celoteh Sarah, sedang Rangga hanya tertawa kecil dalam posisi duduk di sofa ruang keluarga.


"Telponan sama siapa? Rana, ya? Sini, sini, Mama mau bicara." Belum sempat Arka menanggapi, tiba-tiba ponselnya sudah beralih ke genggaman mamanya. Wanita itu kemudian membawa ponsel itu dan duduk di samping suaminya. Mengalihkan ke mode video call.


"Hallo, Ranaaa!! Aduh, cantik banget calon mantu Tante." Suara cempreng wanita itu mulai menggelegar, dan Arka hanya bisa tersenyum paksa kemudian turut mendudukkan dirinya di sofa. Ya, walaupun ini tidak buruk, tapi ia ingin secepatnya bertemu Rana.


Di ujung sana, Rana tertawa kecil menyaksikan keantusiasan orang tua Arka. "Tante bisa aja," ucapnya kemudian tersenyum senang.


"Oh ya, Ra nanti sediain pentungan. Kalau si Arka macem-macem, jangan sungkan-sungkan, langsung aja getok tuh kepalanya."


Rana tertawa lagi.

__ADS_1


"Oh iya, mami kamu mana?" tanya Sarah lagi.


"Ekhm ...," Arka berdeham kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Haruskah ia mengatakan bahwa ia ngebet pengen ketemu Rana?


__ADS_2