
Suara musik memenuhi ruangan itu. Merebak sedang tidak terlalu bar-bar. Buku-buku di atas meja belajarnya berantakan, termasuk sebuah bingkai foto yang dibiarkan tersungkur begitu saja. Sedangkan cowok itu kini menatap layar ponsel di atas ranjang tempat tidurnya.
Pikirannya masih melayang pada kejadian di sekolah tadi. Ia kemudian mengacak-acak rambutnya. Kenapa harus Raja?
Dengan satu kali gerakan, cowok itu membatalkan blokirannya pada sebuah akun.
...💕...
Dhira sudah pulang ke kamarnya saat Rana hendak ke kamar mandi guna melakukan rutinitas menjelang tidurnya. Tapi, karena ia bukan tipe cewek yang pemberani, maka ia membawa teman untuk masuk ke sana. Sebuah benda pipih serba guna yang selalu menemani hari-harinya.
Dengan mulut penuh busa cewek itu bersenandung sedang. Tidak sekeras biasanya. Lagi pula, selain rencana Dhira, apa yang bisa membuatnya bersemangat. Ia kemudian berkumur, juga mengusapkan air pada wajahnya.
"You have to be strong girl, Ra!" gumamnya pada diri sendiri. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
+628**********
Lo tau kenapa Arka tinggalin lu?
Rana mengernyit. Siapa sih ... batinnya. Tapi belum sempat ia membalas tiba-tiba sebuah foto masuk ke dalam beranda chat itu. Foto cowok yang sangat ia kenal. Ia terkejut. Bukan, bukan karena ketampanannya lagi. Melainkan ... siapa bayi yang ia gendong itu? Lalu kenapa harus ada Ingga di sana? Terlihat sibuk sekali mengurusi bayi berpipi bakpao itu.
^^^Anda
^^^
^^^Lo siapa?
^^^
Jemari Rana bergetar mengetikkan dua kata itu. Sebuah pikiran tak masuk akal merasuki otaknya. Terlalu tak masuk akal, walau ia sering berpikir di luar nalar.
Tapi, lama ia menunggu, nomor itu sama sekali tak menjawab pesannya. Jangankan dijawab, dilihat saja tidak. Ia meletakkan ponselnya kembali. Menatap dirinya di dalam cermin.
"Jangan. Jangan bilang Arka emang seburuk itu ...."
Setelah selesai dengan aktivitas-nya, gadis itu melangkah gontai ke ranjangnya. Tidak, ia sungguh tak ingin mempercayai prasangkanya. Tapi, adakah alasan atau kemungkinan lain yang lebih baik? Adik Ingga mungkin? Tapi sungguh, itu terlalu masuk akal jika menjadi alasan Arka meninggalkannya begitu saja.
Rana menenggelamkan dirinya ke ranjang. Ditatapnya mata tajam itu lagi. Sejahat itukah pria itu? Menghamili gadis seusianya?
Ah... Rana menutupi dirinya dengan selimut. Ia tak ingin menangis lagi. Ia rindu bagaimana rasanya tidur nyenyak tanpa bayangan senyum Arka bersama cewek lain. Tapi, kalau dipikir-pikir... memang, lebih baik Arka bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi ....
Rana mencoba memejamkan matanya paksa. Tapi, belum saja ia berhasil melelapkan dirinya, sebuah dering ponsel mengalihkan perhatiannya lagi. Dan kini ia semakin di buat terkejut oleh apa yang ditampilkan benda pipih itu. Arka menelponnya. Padahal, sebelumnya cowok itu memblokir koneksi Whatsapp dengan dirinya.
Rana terdiam menatapi ponsel itu. Semua rasa berkecamuk. Marah, benci, bingung, perih, juga rindu. Dan ia memilih membiarkan dering ponsel itu berhenti tanpa tindak lanjut darinya.
__ADS_1
Arkanya Rana
Angkat, Ra
Please....
Rana masih geming menatap pesan itu. Ponselnya berdering lagi. Tapi, seper sekian detik dari itu, dengan mudahnya ia menekan sebuah tombol pada benda pipih itu. Memadamkan deringnya, juga semua gejolak yang ada di dadanya.
"Apaan sih...," ucapnya nyaris tanpa volume, kemudian menutup matanya dan terlelap.
...💕...
Hari-hari liburan semester ini gadis itu habiskan dengan tumpukan buku yang dipilihkan adiknya. Ya, ini adalah tuntutan yang harus dipenuhi oleh Rana karena sudah menyetujui permintaan adiknya. Ini adalah janji, dan ia sadar inilah saatnya ia membuktikan pada semuanya.
Sedangkan Dhira, gadis kelas 5 SD itu memilih rebahan di ranjang kakaknya, sekalian mengawasi keseriusan kakaknya dalam menjalani misi ini.
Gundul-gundul pacul-cul gemblengan....
"Kak, telfon dari pacar Kakak," ucap Dhira menyodorkan benda pipih milik Rana.
"Siapa?" tanya Rana tanpa mengalihkan perhatiannya dari lembaran demi lembaran di hadapannya.
"Kak ...." Dhira memasang wajah malas, baru kemudian Rana akhirnya bersedia menolehkan kepala. "Ya Kak Raja, memang ada berapa banyak sih?" tanya Dhira tersenyum memaksa.
Rana terkekeh. "Lupa, he he." Gadis itu kemudian mengangkat telpon dari Raja.
"Kak ... kenapa?" tanya Dhira nyaris berbisik, tiba-tiba mendekat ke wajah Rana.
"Sstt ..." Rana menjauhkan ponselnya. "Raja ngajak jalan," jawabnya nyaris berbisik pula.
"Ya udah, terima aja!" Kali ini justru Dhira yang bersemangat.
"Tapi Kak Rana harus ...."
"Stop! Kak Rana lupa, kenapa dulu Kak Daniel goyah? Kak Raja pacar Kakak loh...."
Rana terdiam. Benar juga kata Dhira. Ini sudah sekian hari setelah mereka berpacaran, tapi sama sekali tidak ada yang spesial. Hanya Raja yang sesekali main ke rumah, itu pun kalau ia mengizinkan. Dan untuk keluar rumah ... ia memang selalu menolak. Bukan karena alasan yang terlalu serius, ia hanya ingin fokus pada pelajaran. Membuktikan pada dunia, juga Arka, bahwa ia bisa.
"Ra, halo, Ra!"
"Eh, iya. Maaf, Ja," ucap Rana setelah mengambil alih telepon itu lagi ke dekat telinganya.
"Jadi gimana? Kalau sibuk ...."
__ADS_1
"Eh, enggak kok, Ja. Kamu jemput aja."
"Beneran?" Suara Raja terdengar antusias.
...💕...
"Emang kita mau ke mana, Ja?" tanya Rana yang duduk di samping kursi kemudi. Gadis itu terlihat cantik dengan setelan celana hotpants jeans dan kaos oversize berwarna putih dengan gambar rokok surya di depannya.
"Em .... ke mana, ya?" Raja tampak berpikir. Saking bahagianya, ia sampai lupa harus menyiapkan tujuan mereka akan ke mana.
"Pondok Indah Waterpark aja!" seru Dhira tiba-tiba menongolkan kepalanya dari belakang. "Dhira udah lama gak ke sana."
Raja dan Rana tertawa. Belakangan ini Dhira memang sedikit berbeda. Gadis itu lebih ceria dibanding sebelumnya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Suasana amat ramai. Rana tersenyum, sepertinya hari ini akan menyenangkan.
Dhira segera saja bergegas ganti baju, Raja juga. Cowok itu semangat sekali untuk menikmati wahana Flow Rider. Sedangkan Rana, untuk saat ini ia lebih memilih memilih menemani Dhira saja. Tidak segera berganti baju karena ia agak tak nyaman karena suasana yang terlalu ramai.
"Ra, aku ke sana dulu, ya," ucap Raja, tiba-tiba sudah membawa seorang teman bersamanya. Cowok itu kini hanya mengenakan celana renang pendek berwarna hitam. "Habis ini kita baru belanja, ya," lanjutnya.
Rana tersenyum menyetujuinya. Kemudian gantian Dhira yang datang padanya. Berlari-lari kecil terlihat bahagia.
"Kak Rana gak berenang? Seru loh ...," kata gadis itu menyentuh jemari Rana. Penampilannya sudah basah kuyup karena barusan ia sudah bermain air di area olimpic pool.
Rana tertawa. "Nggak," ucapnya.
"Ya udah, temenin Dhira aja." Gadis itu kemudian menarik Rana ke area olimpic pool, memaksanya terus menemani aktifitas renangnya.
...💕
...
Kedua remaja itu berjalan beriringan. Tangis bayi yang pecah dan tiada henti membuat mereka menjadi sorot pandang. Arka mengambilnya dari Ingga perlahan, sembari sesekali mengecup pria kecilnya. Sedangkan Ingga sudah cemberut, bingung harus menenangkan bagaimana.
"Udah ya, Erlan sayang. Ini udah mau pulang kok. Besok-besok biar Mbak Susi aja yang belanja, ya...," ucap Arka untuk ke sekian kalinya, tetap dengan lapisan kesabaran yang dimilikinya.
Tapi bayi berumur sekitar delapan bulan itu masih terus rewel. Membuat Ingga sebal karena itu semakin membuatnya menjadi pusat pandangan. Ah, mana ada pasangan pasutri yang semuda ini.
"Duh ... gak diem-diem, aku kan masih pengen belanja," keluh Ingga masam, sedangkan di belakangnya, Mbak Susi mengikuti dengan membawa belanjaan yang sudah teramat banyaknya, termasuk keperluan bayi yang mereka bawa ini.
"Ya udah, kita pulang aja dulu. Nanti kapan-kapan ke sini lagi," ucap Arka dengan Erlan di gendongannya.
"Gak mau!" Ingga menatap Arka telak, sudah berhari-hari ia terkurung di rumah karena harus mengurusi Erlan, dan kali ini tidak bisakah ia refreshing sebentar saja?
__ADS_1
"Ya terus maunya gimana?" tanya Arka berusaha bersabar.
"Emm ... aku pengen ke waterpark aja." Gadis itu tersenyum sempurna, menghilangkan wajah merajuknya. "Satu paket. Erlan seneng, aku juga seneng."