The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tobatnya Kang Ghosting


__ADS_3

"Maksud gue lo gak masalah kan, soal gue yang deket ama Daniel?" terang Arsya jujur. Ia ungkapkan ini sebelumnya, agar tak ada kesalahpahaman di kemudian hari.


"Gue gak masalah kok, Sya. Urusan pertemanan itu hak lo masing-masing. Dan ... itu juga berlaku buat kalian semua," Arka berbicara pada semua anggota di tongkrongan itu.


"Gak cuma sama Daniel, tapi Raja juga. Kalau lo emang masih pengen gabung lagi sama dia, gue persilahkan selapang-selapangnya. Urusan gue sama dia yang dulu-dulu, itu biar jadi urusan gue," ucapnya bijak.


Prok prok prok!!


Tiba-tiba Kibo berdiri, lengkap dengan tepukan tangan miliknya.


"Syubahanallah, byijaknya cyalon imam qyu ...," seru Kibo meniru gaya banci.


Buk! Sebuah boneka hello kitty langsung saja melayang ke kepala cowok kerempeng nan kribo itu.


"Eh, Busyet, Sya!! Boneka kesayangan gue...," teriaknya lalu menyelamatkan boneka kesayangannya yang terdampar di lantai dengan naas.


Menyaksikan kekonyolan Kibo, tongkrongan pun penuh dengan gelak tawa mereka. Tak terkecuali Arka yang sebelumnya dalam mode bijak nan seriusnya.


"Eh, Sya, lo... ketemu mantannya Rana ngomongin apa aja?" tanya Arka tepat setelah suara tawa mereda.


"Buset! Ada yang kepo ama mantan calon pacar nih!" seru Bendon tak tanggung-tanggung, diikuti gelak tawa tongkrongan itu lagi.


...💕...


Kamar Vira_22.00


Cewek itu memegang ponsel tepat di samping telinga kanannya. Bertumpu pada jendela. Saling memandang dengan seorang cowok yang juga juga di posisi yang sama berseberangan, berbeda rumah dengannya.


"Kamu belum ngantuk, Vir?" tanya kak Zein, tersenyum menatap Vira dari jendela kamarnya.


"Belum. Emang Kak Zein udah ngantuk?" Vira balik bertanya, tak lupa dengan senyum mengembangnya.


"Belum sih, tapi kalau kamu udah ngantuk, telponnya matiin aja gak papa."


"Eh? Kak Zein kok gitu?! Jangan-jangan Kak Zein udah bosen telponan lama-lama ama Vira!" sungut Vira memanyunkan bibirnya.


"Loh? Kok ngambek? Bukan gitu maksud Kak Zein," bujuk Zein, gemas melihat tingkah Vira yang ternyata benar-benar belum berubah. Masih sama seperti Vira kecilnya.


"Terus?" pancing Vira.


"Ya Kak Zein gak mau kamu nahan ngantuk cuma gara-gara nungguin Kak Zein nutup telponnya."


"Owh, gitu. Tapi kan besok minggu, Kak. Gak papa dong, kalau Vira telat dikit," prenges Vira pada Zein.


"Hhh,,, dasar kamu. Emm ... besok kamu ada planing gak?" tanya Zein terdengar ragu.

__ADS_1


"Emm ... planing? Eng ... gak sih. Paling cuma ke salon. Itu pun ya gak harus juga. Emang kenapa, Kak?" tanya Vira, kemudian menggigit bibir bawahnya harap-harap cemas.


"Kalau besok ... Kak Zein ngajak makan, bisa gak?"


Mendengar pertanyaan Zein, Vira tersenyum kemudian manggut-manggut menyetujui permintaan Zein. Tentu ia tak akan menolak.


Zein juga tersenyum, kemudian berkata, "Ya udah, kamu cepet tidur, ya. Jangan lupa pake skincare malamnya," lalu tertawa kecil.


"Hehehe, siip, Kak!"


"Good night, Vir."


"Good night, Kak."


Tuut...


Sambungan telepon dimatikan. Vira berlari lalu merebahkan tubuhnya di ranjang kegirangan. Didekapnya poselnya senang. Senyumnya tak berhenti mengembang. Kalau kak Zein saja bisa membuatnya sebahagia ini, maka apa gunanya semua piaraannya selama ini?


...💕...


Cewek itu hanya geming. Berbaring saja di atas tempat tidurnya menatapi pemandangan dinding kamar yang tak seperti biasanya.


Ia masih mengumpulkan kesadarannya. Padahal, sudah beberapa menit lalu ia kembali ke alam sadarnya.


Ah, entahlah.


Rana menggeleng-gelengkan kepalanya kurang setuju dengan pendapatnya sendiri. Otaknya berusaha mencari ide lain lagi, tapi kemudian ponselnya tanpa rasa bersalah malah mengganggu renungan paginya.


"Gundul-gundul pacul-cul gemblengan...🎶"


Walau sebenarnya sangat mager, cewek itu akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Halo, Tan?" sapanya pada Tante Sarah di ujung sana.


"Rana, hari ini kamu nganggur gak?" tanya Sarah to the point saja.


"Emm ... nganggur sih, Tan. Tapi Rana belum waktunya ngelamar kerja."


"Duh, bukan itu maksud Tante, Rana .... Hari ini bisa kan, ke rumah Tante?"


Mendengar pertanyaan Tante Sarah, senyum Rana langsung mengembang. Rasanya sudah lama sekali tak melihat Arka.


...💕...


Pagi yang cerah. Cewek itu tersenyum ceria. Berdiri di depan sebuah pintu rumah yang artistik juga megah.

__ADS_1


Tok tok tok!


Seperti biasa, cewek cantik nan mungil itu sama sekali tak mengacuhkan bel rumah yang sebenarnya mampu ia jangkau.


Di dalam rumah, Arka yang menuruni tangga menuju lantai satu mengernyit heran. Pagi-pagi begini kenapa ada orang yang bodoh sekali. Ada bel rumah, kenapa harus menggedor-gedor pintu rumahnya? Seperti orang menagih utang saja. Lagi pula, memangnya bel rumahnya rusak, ya?


"Ka! Bukain pintu! Ada tamu!" teriak Rangga entah sedang ada dimana.


Arka menghela napas malas. Semalas itukah pembantu di rumah ini? Kenapa harus ia sendiri yang membukakan pintu?


Tok tok tok!!


Rana mengetuk pintunya lagi. Masih dengan senyum ceria yang mengembang riang sekali.


Kreek ....


Pintu terbuka. Seorang cowok berdiri tegap di depan Rana. Mengernyit. Mengenakan kaus putih polos lengkap dengan celana puntungnya.


Tangan kanan Rana yang tadinya hendak mengetuk pintu lagi ia turunkan perlahan. Kemudian meringis pada cowok jakung di hadapannya.


"Pagi, Ka!" sapanya tersenyum canggung.


"Gak bisa ya, lo pencet bel rumah aja?" Alih-alih membalas sapaan Rana, Arka justru memberi respon tak bersahabat.


"Emm ... gak nyampe," jawab Rana sekenanya.


Arka menghela napas malas, kemudian tanpa aba-aba, meraih tangan kanan Rana dan menekankan telunjuk mungil gadis itu pada bel di sebelah pintu rumahnya.


Ting tung ting tung....


Diperlakukan seperti itu, Rana hanya bisa mematung. Menatap cowok di hadapannya dengan napas tertahan.


"Bisa, kan?" tanya Arka balas menatap Rana dengan tangan masih menyentuh punggung tangan Rana.


"Loh, Rana? Kamu udah dateng?" suara cempreng Sarah tiba-tiba mengagetkan mereka. Spontan, keduanya menarik tangannya masing-masing.


"Arka! Rana nya kok gak disuruh masuk?" tanya Tante Sarah menghampiri keduanya.


"Bisa masuk sendiri," ucap Arka dingin, kemudian berlalu meninggalkan Sarah dan tamu menyebalkannya.


Melihat respon Arka yang sebegitu buruknya, Rana dan Sarah hanya bisa saling memandang, kemudian bersama-sama mengedikkan bahu. Heran dengan si cowok dingin yang sudah berlalu entah kemana.


"Ayuk, Ra, kita langsung mulai aja! Tante udah gak sabar pengen cepet bisa masak," ajak Sarah mengamit tangan Rana. Menariknya menuju dapur.


"Tante liat-liat, kamu makin deket aja deh sama Arka," goda Sarah menoel pipi Rana. Sedang yang ditoel pipinya hanya bisa meringis. Bingung harus menanggapi apa.

__ADS_1


__ADS_2