
Menjejakkan kakinya di lantai dua, Rana menyisir ruangan penuh meja dan kursi megah itu dengan matanya. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang membereskan sisa-sisa pekerjaannya, juga seorang wanita dengan sebuah keranjang bayi yang didorongnya kesana-kemari. Tangis bayi itu cukup menggangu nalurinya sebagai wanita.
Tapi Rana melanjutkan langkahnya. Ia tidak punya waktu untuk memperhatikan hal lain. Ia ingin secepatnya menemukan keberadaan Arka.
Sekeluarnya ia dari restoran pandangannya terpusat lagi pada motor itu, kemudian beralih pada sekelilingnya yang sama sekali tak menampakkan seseorang pun. Ia melanjutkan langkahnya, lalu terhenti sebab mendapati sekuntum mawar merah yang tergeletak sendiri. Sepi.
Diambilnya mawar merah itu, kemudian mencium aroma bunganya yang khas. Ia tahu Arka ada di sekitar sini. Langkahnya kemudian berlanjut, menuju taman restoran yang sedikit jauh dari tempatnya berdiri.
...💕...
"Aku gak tau lagi harus gimana, Ka. Aku tetep pengen sekolah ... mencapai impian yang udah aku kejar sejak dulu. Kamu yang paling tau aku," ujar gadis itu dengan linangan air mata yang tak ada hentinya.
"Terus mau lo apa?" tanya Arka, ia sendiri bingung harus menyikapi masalah Ingga bagaimana. Fikirannya masih melalangbuana pada Rana yang entah sekarang masih ada di sana atau sudah pulang membawa berton-ton kekecewaannya.
"Aku pengen ngelanjutin sekolahku di sini, Ka. Dan aku butuh kamu ...."
Arka menoleh, ia mulai tau arah pembicaraan ini kemana.
__ADS_1
".... Erlan butuh kamu."
"Ngga, tapi gue ...."
"Kamu udah ada yang baru?"
"Gue gak bisa ninggalin ...."
"Ka ...." Ingga menyentuh rahang tegas cowok itu, mendekatkan wajahnya pada wajah Arka. "Please, jangan tolak aku dan Erlan." Kemudian, gadis itu mengunci bibir Arka dengan bibirnya.
Rana berdiri mematung tak jauh dari sana. Nafasnya seolah direnggut seketika. Dunianya hancur sekejap mata. Setangkai mawar merah yang ia bawa jatuh tanpa kata. Bersamaan dengan itu, air matanya meleleh. Sekejam itukah Arka? Sekejam itukah dunia padanya? Meninggikan dirinya, lalu menjatuhkan dan membenamkannya pada lautan kesakitan. Lautan penghianatan yang terlalu tiba-tiba.
Arka ... bukan ini yang Rana harepin ....
Dan yang bisa ia lakukan selanjutnya adalah ... berlari pergi dari sana. Berlari dari segala kesesakkan yang terlalu tiba-tiba. Arka tak pernah berhubungan dengan wanita lain sebelumnya. Ini terlalu mendadak. Ia tak pernah mempersiapkan hati untuk penghianatan sesakit ini. Arka terlalu manis, untuk dirinya yang terlampau jatuh cinta.
Arka menjauhkan dirinya dari wanita itu. Bahkan dalam ******* lembut itu pun, ada kepahitan yang terlalu pekat untuk ia abaikan.
__ADS_1
"Ingga, please, jangan kayak gini," ucap cowok itu berdiri dari duduknya.
"Arka! Lo gak kasian sama Erlan?!" tanya Ingga sudah berada di pucuk kesabaran. Berdiri dari duduknya. "Aku sendiri, Ka. Aku ibu tanpa ayah .... Lama kita nggak ketemu, ternyata kamu udah berubah. Dulu, kamu gak seegois ini."
"Elo yang egois, Ngga. Dunia gue bukan cuma tentang lo," tegas Arka, mata elangnya menatap Ingga tajam. Bersamaan dengan itu, seorang wanita datang dengan sebuah keranjang bayi yang dibawanya.
"Non, den Erlan-nya rewel. Mungkin kedinginan."
Arka memalingkan wajahnya. Tangis bayi itu terlalu memilukan untuk indra pendengarnya. Ia takut tak bisa mempertahankan keputusannya. Keputusan untuk lebih memilih Rana dibanding Ingga.
Ingga mengambil bayi itu dan menggendongnya. Mengeratkan selimut yang menyelimuti pria kecil dalam pelukannya. Kemudian, ia menatap Arka dengan mata memohonnya. Melangkahkan kakinya mendekati cowok itu.
"Liat dia, Ka .... apa pantas dia nanggung semua ini?" pinta Ingga memperlihatkan wajah polos anak yang dibawanya.
Arka masih memalingkan wajahnya. Matanya memejam erat. Menguatkan diri bahwa ia tak akan luruh begitu saja.
"Liat dia, Ka ... dia butuh sosok ayah," pinta Ingga sekali lagi. Tangannya menyentuh lengan Arka memohon.
__ADS_1
Tangis bayi itu tiba-tiba menggelegar lagi, membuat Arka mau tak mau mengalihkan perhatiannya pada bayi polos itu. Dan tatap matanya menyendu. Tanpa ia sadari, ia kalah telak.
"Gendong dia, Ka. Bilang sama dia, kalau kamu bakal selalu jadi pelindung dia dari dunia yang jahat ini."