The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Introgasi Harian


__ADS_3

Jalanan itu terlihat ramai. Segerombolan remaja pria melaju pelan beriring-iringan dengan membelah kelenggangan.


"Gaes! Mampir ke rumah gue dulu ya. Sekalian istirahat," ucap Dio agak mengeraskan suara.


"Siiip!" jawab teman-temannya kompak sekali.


"Lo ikut juga ya, Ka. Kan, lo belum pernah main ke rumah baru gue." Dio mencolek pinggang Arka yang sedang menggoncengnya.


"Hm," jawab Arka malas. Kalau tak segera direspon bisa-bisa Dio akan terus mengganggu konsentrasinya menyetir motor. Kalau motor KLX kesayangannya ini kenapa-napa, habislah riwayat Dio ditangannya.


"Oh ya, Yo, maksud lo apa tadi, nanya gitu ke gue?" tanya Arka mengingat pertanyaan ganjil Dio saat ditengah permainan bola basket tadi. Was-was saja kalau ada yang melihat dan memotret kejadian tadi malam. itu terlalu dekat untuk ukuran seseorang yang baru kenal.


"Nanya apa, Ka?" Dio malah balik bertanya.


"Yang tadi." Arka malas menjawab.


"Yang tadi mana, Ka?"


"Tadi, pas main basket."


"Soal?" pancing Dio.


"Rana," jawab Arka pada akhirnya.


"Oooh, canda doang gue, Ka. Hehehe," jelas Dio tanpa dosa.


"O." Arka lega. Semoga saja tak ada yang melihat kejadian tadi malam. Malu-maluin aja. Kenapa juga ia ikut campur urusan Rana?


"Ka!" panggil Dio setelah agak lama.


Arka tak menyahut.


"Ka!" panggil Dio lagi.


"Hmm," sahut Arka.


"Jangan bilang ... lo suka ya, ama Rana?" tanya Dio tiba-tiba.


Arka memutar bola mata jengah. Tuduhan macam apa ini? Seperti tak ada cewek lain saja.


"Lo gak inget, dulu gue pernah bilang apa?"


"Inget sih, Ka. Siapa tau aja lo bisa luluh sama Rana. Terus berubah pikiran gara-gara dia."


"Hhh, mustahil."


Tak lama, rombongan itu pun berhenti di depan sebuah rumah. Rumah baru Dio, katanya. Arka baru sekali ini berkunjung kesini. Ia menatap bangunan itu. Terasa tak asing. Pandangannya kemudian teralihkan pada rumah di sebelahnya. Rumah ini ... adalah rumah saat ia mengantarkan Rana pertama kali.


Baru saja ia hendak bertanya, tiba-tiba Dio sudah berlalu duluan. Mempersilahkan semua temannya untuk masuk ke dalam. Ahh... biarlah. Kenapa juga ia peduli ini rumah siapa?


Di dalam rumah Dio waktu berlalu begitu cepat. Tak cuma beristirahat, mereka juga mengobrol banyak hal. Menertawakan candaan-candaan yang begitu tak masuk akal.


Arsya meraih sebuah gitar. Memetiknya perlahan, kemudian menyanyikan sebuah lagu. Teman-temannya tak tinggal diam, turut bernyanyi dengan suara senyaring mungkin. Meramaikan suasana dan menikmati kebersamaan.


"Teruntuk Nada ku sayang," ucap Arsya puitis setelah mengakhiri lagunya.

__ADS_1


Suara tawa langsung menggelegar dimana-mana. Dasar Arsya! Kalau memang suka, kenapa tak langsung ditembak saja? Malah sibuk mengganggu Nada tiada habisnya.


Arka melirik jam tangannya. Badannya masih terasa gerah gara-gara olahraga hari ini. jadi, ia harus segera pulang dan mandi.


"Bro, pulang dulu ya. Gerah gue,"


"Siip!" jawab teman-temannya seperti biasanya kemudian mulai memilah-milah lagu baru untuk dinyanyikan.


Arka berlalu pergi. Kalau sudah nongkrong begini, teman-temannya itu mana mungkin ingat waktu. Untung saja orang tua Dio selalu ramah dan menyambut kedatangan mereka. Suka sekali teman-teman anaknya berkunjung ke rumahnya.


Arka sudah menyalakan motornya, tapi kemudian fokusnya teralihkan pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah tetangga Dio. Rumah yang membuatnya penasaran tadi.


Jendela mobil itu terbuka, menampilkan wajah seorang pria yang tersenyum ramah padanya. "Temennya Dio, ya? Saya tetangganya," ucap pria itu menyapa.


Arka mengangguk dan balas tersenyum. Siapa pria ini? masih terlihat muda dan tentu adalah orang kaya. Apa pula hubungan pria ini dengan Rana?


Sesampai di rumah, Arka segera berjalan ke dapur. Badannya terasa gerah. Ia harus segera mandi agar badannya terasa segar. Tak perlu berpikir lama, sembari berjalan, Arka menanggalkan kausnya. Menyisakan dada bidang yang ia biarkan terlihat begitu saja. Paling-paling di rumah cuma ada mbok Sumi.


Masuk ke dapur, Arka segera beranjak ke kulkas dan membukanya. Mengambil sebotol minuman dingin dari dalamnya.


Glek, Arka mulai meneguknya.


"Arkaaaa!!" pekik seorang cewek tiba-tiba mengagetkannya. Ia langsung tersedak gara-gara suara cempreng dan menusuk itu.


Pandangannya kemudian teralih kearah sumber suara. Dilihatnya Rana sedang menutup mata dengan kedua tangannya. Sial! Kenapa lagi cewek ini bisa ada di sini?


...💕...


Ruang Makan_Rumah Vira


"Vira, Papa bukannya melarang kamu berteman dengan siapa saja. Papa hanya ingin kamu berhati-hati. Kamu ini anak perempuan, sudah gadis pula. Kenapa kesana kemari ditemani cowok yang berbeda setiap harinya?" Dharma menatap anaknya geram. Bukan marah sebenarnya, ia hanya khawatir anak gadisnya ini kenapa-napa. Setiap hari gonta-ganti pacar yang mengantarnya jalan. Entah sudah berapa cowok yang menjadi permainannya.


"Vira! Kamu dengar Papa?" Merasa tak diangkat, Dharma menggertak anaknya.


"Denger, Pa," sahut Vira santai saja, sembari menikmati makan malamnya.


"Siapa cowok yang nganterin kamu tadi sore?" tanya Dharma mulai menginterogasi.


"Reza," jawab Vira.


"Pacar baru kamu?"


"Bukan."


"Terus?" Dharma memancing informasi, sedang di sebelahnya, sang istri, Soraya, mengelus-elus pundaknya agar ia tak kelepasan berbicara pada anaknya yang sudah remaja ini.


"Baru kenal, tadi pas mau ke salon," jelas Vira sudah biasa diinterogasi seperti ini. Padahal Reza tak sampai mampir tadi. Ayahnya sudah sensitif begini. Apa jadinya kalau cowok itu mampir dan mengobrol dengan orang tuanya? Habislah riwayatnya.


"Baru kenal? Kok sudah dibelikan macam-macam." Dharma tak percaya.


"Dia yang ngajak Vira jalan. Vira juga gak minta kok, dibeliin macem-macem gitu."


"Udah. Lain kali kamu jangan asal mau diajak cowok. Papa gak suka anak Papa keluyuran sama cowok kemana-mana," ucap Dharma kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja. Punya anak perempuan yang kerjaannya pacaran, lebih merepotkan dari pada punya anak lelaki yang berandalan.


"Siapa nama pacar kamu tadi, Vir?" tanya Soraya tiba-tiba mendekati anaknya.

__ADS_1


"Bukan pacar, Maah," elak Vira dengan suara agak lirih.


"Eh, boong kamu, ya, sama Mamah?" Soraya mencolek pipi anaknya kemudian tersenyum jahil. Huh, buah hati memang tak jatuh jauh dari pohonnya.


"Bukan, Maah. Vira mana punya pacar." Vira terkekeh jujur saja.


"Masa sih. Terus cowok yang selama ini ngajak jalan kamu itu siapa, kalau bukan pacar?"


"Cuma piaraan. Hehehe ..." prenges Vira tanpa dosa.


"Dasar ya, anak Mamah." Soraya juga terkekeh. Mirip sekali dengan ia waktu masih muda. Banyak sekali cadangannya.


"Hehehe, habisnya Vira bingung mau pilih yang mana," ucap Vira lagi.


"Iya deh, iya. Anak Mama emang banyak yang naksir. Diajak ke mana aja kamu tadi sama Reza?"


"Diajak makan, terus shoping. Itu doang kok, Mah."


"Yakin itu doang?" Soraya semakin kepo saja.


"Emm ... ya sama dianterin ke salon sama dia. Ditungguin juga Vira nya."


"Oowh ... yaudah deh kalau gitu. Yang penting dia gak macem-macem kan, sama kamu?"


"Enggak, Mamah ... orang baru kenal juga."


"Ganteng gak?" tanya Soraya lagi.


"Ya iyalah, Mah. Masa iya Vira mau diajak jalan kalau dia nya gak ganteng," kekeh Vira.


"Ganteng mana sama Papah kamu?"


Vira memain-mainkan ujung rambut dengan jemarinya. Terlihat sedang menimang-nimang jawaban untuk pertanyaan andalan mamanya.


"Tetep gantengan Papah sih, tapi Papah galak. Kalau Reza kan, gak galak. Baik lagi," ucap Vira pada akhirnya.


"Ya galaknya cuma di kamu doang. Kalau di Mamah kan, papa sosweet," ujar Soraya kemudian tertawa bangga.


"Maah!" panggil papa dari dalam kamar.


"Iya, Papah!" sahut Mamah terdengar manja. "Tuh, jagoan Mamah udah manggil-manggil Mamah. Kayaknya udah gak sabar," kelakar Soraya kemudian tertawa kecil.


"Ih, dasar tukang pamer!" Vira mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah deh, Mamah mau ke kamar dulu. Kamu belajar, sana! Besok kan, sekolah," ucap Soraya sembari melangkah menuju kamar.


Vira hanya melengos. Mamahnya ini benar-benar. Suka sekali membuat jiwa jomblonya meronta-ronta. Untung saja piaraannya banyak. Jadi ia tak akan bosan bermain-main.


"Eh, Vir!" panggil Mamah tiba-tiba memunculkan kepala dari balik pintu kamarnya.


"Kak Zein udah dateng tuh. Kalau yang itu... Mamah akuin lebih ganteng daripada Papah," ucapnya sembari mengacungkan jempol.


Senyum Vira langsung memudar. Kenapa juga mamanya tiba-tiba menyebut-nyebut nama cowok itu? Membuat mood-nya memburuk saja.


"Mamaah!" Suara Papah terdengar nyaring.

__ADS_1


"Iya, Papah sayang," sahut Mamah kemudian menutup pintu kamarnya.


__ADS_2