The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Rasa Juga Bisa Kadaluarsa


__ADS_3

Kantin Bu Ratih


SMA Tunas Bangsa


Keempat cewek itu menikmati makanan mereka dengan sedikit celoteh ria si Pembawa Ghosip, Vira. Awalnya sih hanya membahas dunia perfilman, kemudian tak sadar sudah ngalur-ngidul tak jelas, julid dengan beberapa cewek yang tampak jelas sekali memperlihatkan ketidaksukaannya pada komplotan mereka, terkhusus pada Rana. Rananya sih santai saja. Dari tadi ia hanya fokus menyantap makanannya. Hanya saja Vira adalah orang yang paling tidak terima jika ada yang mencari masalah dengan temannya. Jadi, ia sendiri sudah lupa dimana ia meletakkan rem mulutnya.


"Ekhm." Seorang cowok berjalan mendekat ke arah mereka diikuti tiga teman di belakangnya.


"Hai, Rey. Boleh gabung gak?" sapa cowok itu kemudian langsung saja duduk bersama mereka.


"Hhh, okey. Yaa ... mau gimana lagi? Mau gak diizinin ... eh, udah duduk duluan," seloroh Rena menanggapi.


"Yaelah. Cowok ganteng gini masa iya ditolak?" ucapnya percaya diri, kemudian menebar senyum kanan-kira pada cewek-cewek yang benar adanya menjadikan ia sebagai pusat perhatian.


Rena hanya memutar bola mata jengah. Dasar Raja, kenapa harus seramah itu?


"Hai, Ra," sapa cowok itu kemudian, pada cewek yang sejak tadi seperti tak terlalu menanggapi kehadirannya. Entah karena terlalu fokus menyantap makanan atau ada hal lain.


"Oh, hai!" balas Rana tersenyum, kemudian pandangannya justru tertuju pada segerombolan cowok yang berjalan dengan angkuhnya menuju ke kantin Bu Ratih.


Rana memandang raut wajah Arka yang tegas. Arka kemarin berbohong pada Daniel bahwa maminya telah menitipkannya pada cowok itu. Ia jadi teringat dengan tante Sarah yang pernah meminta tolong padanya untuk membuat Arka menerima keberadaannya sebagai ibu. Apakah ia bisa mengabulkan permintaan itu? Arka bukan orang yang cepat luluh. Ia bisa tahu cowok itu sangat menutup diri. Membiarkan dirinya terpenjara dalam rasa sepi.


Arka, satu-satunya cowok yang tak memberikan sikap spesial padanya, kenapa justru cowok ini yang bisa membangkitkan rasa penasarannya?


Raja memalingkan pandangan dari segerombolan cowok-cowok itu. Harusnya ia juga ada di sana. Berjalan angkuh tanpa rasa takut. Berdiri tegak sebagai para penguasa di SMA Tunas Bangsa. Tanpa sadar, ia mendengus kesal. Ia tahu bagaimana Arka. Semakin daerah kekuasaannya diganggu, semakin ia mengaum garang.


Pandangannya kemudian teralih lagi pada Rana. Tadi pagi cewek ini berbincang-bincang dengan Arka. Padahal semua orang juga tahu, Arka anti dengan cewek, apalagi cewek secantik ini. Ia akui ia juga tertarik dengan cewek ini, atau mungkin juga lebih dari sekadar tertarik. Ah sudahlah, benar-benar mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.


"Hai, Diooo!" sapa Rana ceria. Membuat gerombolan itu langsung memusatkan perhatiannya pada si cantik Rana. Terutama Dio yang langsung memperlihatkan sederet gigi-giginya.


"Hai juga, Ranaaa!" balas Dio dengan tangan di lambaikan.


Rana tersenyum manis, turut melambaikan tangan.


"Hai, Raa!" Kibo tak mau kalah saing, sedang Arsya justru sibuk menatap manik mata Nada yang seperti tak acuh pada sekitarnya.


"Hai juga, Kiboo!" balas Rana ramah. Manik matanya menangkap ekspresi geram Arka yang menurutnya menggemaskan sekali.


"Hai, Ra!"


"Hai, Ra!"


"Hai, Ra!"


Yang lain ternyata juga tak mau kalah.

__ADS_1


"Hai jugaa," balas Rana lengkap dengan senyuman mautnya.


Geram sekali, Arka menghentikan langkahnya. Bagaimana teman-temannya ini? Niatnya datang ke kantin untuk menunjukkan taring pada Raja, tapi mereka malah berulah konyol begini.


Bruk!


Seseorang menabrak punggungnya.


"Eh, aduh!" Arsya menepuk jidatnya pelan. Gelak tawa sontak tak tertahankan dari para penghuni kantin SMA Tunas Bangsa.


"Ada yang lucu?!" gertak Arka yang langsung menyurutkan suara tawa mereka.


"Tuh kan, gue bilang juga apa." Kibo tertawa ria.


"Diem! Lo lo semua ngapain juga pake nyapa-nyapa dia segala?" Arka tak bisa menahan emosi. Cewek ini ... lagi. Kalau dia berada di sekitar cewek ini, dijamin ia bakal ketiban sial.


Semua langsung terdiam. Ahh, kenapa hari ini Arka sensitif sekali?


"Ooowh, jadi Arka pengen disapa juga?" Rana semakin girang. Toh, ia suka melihat Arka yang naik pitam begini.


"Mimpi ya lo?" ujar Arka sinis.


"Emm ... denger-denger kemaren ada yang mau jagain gue nih," seloroh Rana setelah bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di depan Arka. Mengadah menatap cowok itu.


"Dasar cowok jutek." Rana menahan senyum. Jelas sekali barusan Arka bingung harus berbuat apa. Siapa suruh pake boong segala.


...💕...


Pak Uus menyeruput kopinya nikmat. Sambil memejamkan mata, ia membayangkan dirinya duduk santai di kafe, nongkrong bersama teman-teman mudanya dulu.


TENG!!


Tiba-tiba suara dentingan besi yang dipukulkan ke pagar sekolah membuyarkan halusinasinya. Matanya langsung membulat mendapati seorang pemuda dengan mata merah sayup menggenggam balok besi di tangannya. Lengkap dengan gerombolan pasukan di belakangnya.


"Gue mau ketemu Arka! Panggilin sekarang juga!" bentak Daniel benar-benar memperlihatkan dirinya yang sebenarnya.


...💕...


Kelas sedang sepi. Hanya ada empat orang gadis yang tengah memperbincangkan masalah hati.


"Gaes, gue nih gimana ya ... jelasinnya. Kadang tuh, pengen banget gitu punya pacar yang bener-bener pacar," ungkap Vira seperti menerawang.


"Ya salah lo sendiri. Habisnya main-main terus," Rena menanggapi.


"Ya gimana? Habisnya gak ada yang bisa bikin gue luluh sih."

__ADS_1


"Lha itu, Kak Zein. Jangan bilang kamu gak luluh?" Nada ikut angkat bicara.


"Ih, apaan sih, Nada. Pake bahas-bahas Kak Zein segala. Lo sendiri gimana sama Arsya? Masih belum luluh juga?" Vira sigap mengalihkan pembicaraan.


"Gimana apanya sih? Orang gak ada apa-apa kok," ucap Nada sembari merapikan buku-bukunya.


"Elah, gak asik banget lu, Nad. Eh, ngomong-ngomong kayaknya ada yang mulai buka hati nih, buat cowok," ucap Vira sembari melirik-lirik Rena gemas.


"Ih, apa sih, Vir? Kok malah gue yang lo serbu. Rana tuh, banyak drama percintaan dia." Rena langsung melemparkan obrolan begitu saja. Tak mau benih asmaranya terbongkar sebelum waktunya.


Vira langsung menghela napas menatap Rana yang ternyata semendari tadi terlarut dalam lamunannya sendiri.


"Ra, masih kepikiran Daniel?" Vira menyentuh pundak cewek itu.


"Eh? Kenapa, Vir?" Rana sedikit terjingkat.


"Lo ... masih kepikiran Daniel?" tanya Vira berhati-hati. Bagaimanapun juga, Daniel adalah cinta pertama temannya ini.


"Yaa ... gimana ya, Vir. Gue cuma gak habis fikir aja. Gak percaya rasanya, Daniel bisa sejahat itu sama gue. Gue ... ngerasa dikhianatin," ungkap Rana sejujur-jujurnya.


"Ra, sorry, ya. Boleh gak, gue ngomong sesuatu buat ngewakilin perasaan Daniel selama ini?" Rena menyentuh punggung tangan sahabatnya itu.


Rana menatap Rena bingung. "Maksud lo, Rey?" tanyaya masih tak faham.


"Gue gak tau tentang scandal dia yang selingkuh sama Gea itu, tapi yang gue tau selama ini Daniel tuh, udah capek sama sikap lo yang gitu-gitu aja ...."


" .... Lo yang males bales chat, males ngabarin, males angkat telpon, gak pernah mau diajak jalan, nonton. Lo tuh ... sorry, Ra, kayak gak pernah nganggep dia sebagai cowok lo..."


" .... Lo sibuk sama urusan lo sendiri. Lo lupa kalo dia selalu butuh elo. Padahal selama ini dia selalu ada buat lo, selalu berusaha jadi yang terbaik buat elo."


Rena menarik napas. "Ini yang selama ini dia keluhin ke gua, Ra. Sorry, gue baru ngomong. Soalnya gue takut ini bisa ganggu hubungan kalian."


Rana tertunduk tak langsung menanggapi. " Gak papa, Rey. Kayaknya emang bener. Daniel gitu ya karena sikap gue yang udah keterlaluan. Harusnyaa ..." Rana terhenti. Tiba-tiba terisak menyadari kesalahannya. Menyadari betapa menyebalkannya dirinya.


"Raa ..." Vira langsung mendekap sahabatnya itu.


"Harusnya gue ngomong, kalau emang udah gak ada rasa." Rana semakin terisak. Harusnya ia sadar akan hal itu sejak lama. Kehambaran ketika bersama cowok itu, kebosanan ketika harus menjawab telepon Daniel selama ini. Harusnya ia sadar, bahwa ia sudah mati rasa dengan cowok itu. Ia mengira ia akan selalu mencintai Daniel selamanya, tapi ternyata rasa juga punya masa kadaluarsa.


Rena dan Nada turut memeluk Rana. Rana bukan hanya kehilangan pacar, tapi juga sahabat. Daniel yang selalu ada, Daniel yang selalu mengerti perasaan Rana, Daniel yang selalu menjadi tumpuan bagi Rana, kini sudah tak begitu lagi. Daniel berubah, tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan Daniel.


"Ra! Gawat, Ra!" suara Dio yang tergesa-gesa tiba-tiba mengejutkan mereka.


"Lo kenapa, Yo?" Rana mengusap air matanya segera.


"Nganu, Ra," Cowok itu berhenti sejenak demi menarik napas," Huh, Daniel."

__ADS_1


__ADS_2