The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tak-tik Pergantian Kekuasaan


__ADS_3

Ada sebab ada akibat. Pagi ini sekolah menengah atas itu tiba-tiba ramai sekali. Ricuh tak terkira. Rana baru saja sampai di parkiran saat rumor semakin tak terkendali. Gadis itu memeriksa ponselnya. Sebuah kiriman vidio dari nomor tanpa nama. Ia menoleh pada cowok di sebelahnya, dan entah kenapa cowok itu juga sibuk dengan ponselnya. Seolah mereka mendapat kiriman yang sama.


Karena penasaran, akhirnya ia membuka video itu. Lagipula, mengunduh vidio dari orang tak dikenal bukan seketika akan membuat ponsel meledak, kan?


Beberapa detik kemudian, vidio itu berputar. Bulu kuduk Rana seketika dibuat meremang. Seorang wanita yang kira-kira berumur lebih tua lima tahun dari ibunya sedang bercumbu rayu dengan seorang laki-laki seumurannya. Keduanya berbagi *******. Tidak, bukan hanya itu. Wanita itu bahkan menggerakkan tangannya ....


"Mama!"


Kedua bola mata Rana seketika dibuat hendak meloncat keluar. Ia jelas kenal dengan gadis yang baru saja masuk ke dalam ruang tempat wanita dewasa dan pria tak waras itu melakukan kegiatan tak senobohnya.


Rana segera mematikan ponselnya. Dan saat ia menoleh pada cowok di sampingnya, ternyata cowok itu sudah lebih dulu melihat padanya.


"Gue yakin bukan cuma kita yang dikirimin vidio beginian. Sekarang pasti udah rame." Raja mengisyaratkan Rana untuk melihat pada koridor sekolah. Dan benar saja, sekolah lebih dari kata ramai.


...****************...


Di Koridor sekolah, keadaan sudah semakin memanas. Membicarakan seorang cewek yang kini justru sedang terlelap dengan kepala tertelungkup di atas meja di dalam kelasnya.


Setiap hari dia memang seperti itu. Si cewek berandal yang tak punya rasa takut. Tapi mungkin keadaan itu akan berubah sedetik setelah ia membuka kedua matanya. Jelas, sekarang semua orang sedang menatapnya dengan hina.


"Gila, gue gak nyangka temenan sama anak ***** kayak dia," ucap Linda, salah satu teman satu geng Marsha dengan wajah jijiknya.

__ADS_1


Shalisha dan yang lainnya hanya bisa bergidik ngeri tapi tak kunjung mengalihkan layar ponsel mereka.


"Ya udah pasti. Kalian gak mungkin nyangka kalau ketua geng kalian itu seburuk itu," suara itu seketika menyita perhatian semua orang. Seorang cewek berdiri dengan kedua tangan di lipat di depan dada, melangkah maju dengan kaki jenjangnya menuju ke arah kelas Marsha.


Rana yang sudah turut menyaksikan jadi ikut penasaran. Apalagi yang akan diperbuat oleh Ingga? Cewek itu terlihat cukup kejam untuk melakukan segala hal.


Bruak!!!


Ingga menimbulkan suara yang amat keras hanya dengan satu gebrakan tangannya. Dan tidak akan ragu untuk mengulanginya jika gadis berpenampilan berantakan itu masih belum bangun dari tidurnya.


Marsha merasakan telinganya berdengung, matanya mulai terbuka. Terganggu sekali dengan suara yang ia dengar baru saja. Tapi saat ia benar-benar membuka matanya, pandangannya langsung disita oleh mata jahat gadis itu. Dan tak cuma itu, kenapa semua orang memandangnya seperti itu?


Marsha menegakkan kepalanya. Masih menyimpan tanda tanya. Ia bukan orang yang mudah terintimidasi, tapi jika Ingga adalah orang yang melakukannya, ia tak bisa memastikan hal itu lagi.


"Ke-kenapa Ing?" tanya cewek itu tak bisa menyembunyikan ketakutan di wajahnya.


Ingga terkekeh sejenak. "Liat aja video di hp lo. Itu adalah pertunjukan gratis buat semua orang di pagi hari yang cerah ini."


Marsha mengambil ponselnya. Ia tahu perkataan Ingga bukan sesuatu yang bisa ia tolak begitu saja. Ia mengenal gadis itu lebih dari siapa pun.


Dan saat ia memutar video dari ponselnya itu, baru beberapa detik, wajahnya langsung terperanjat. Buru-buru ia mematikan video itu dengan jemarinya yang entah kenapa tiba-tiba gemetar. Ia berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Siapa yang nyebarin video itu?" tanyanya menyisir semua orang yang sedang mengelilinginya dengan wajah mencemooh mereka.


"Gue," ucap Ingga dengan senyum kemenangannya.


Marsha semakin dibuat terpojok oleh jawaban barusan. Suatu ketidakmungkinan bahwa ia melawan gadis di hadapannya ini. Ia hanya bisa menatapnya dengan tatapan nyalang yang lemah.


"Kenapa? Lo gak terima? Atau ... lo mau gue ngebongkar aib lo yang lain?" Kemudian jemari telunjuknya mulai mendorong-dorong kening Marsha. "Makanya jadi anak lon ...."


"Stop!"


Belum selesai Ingga mengucapkan kalimatnya, suara lantang seorang gadis dari belakang menghentikan gerakannya.


Rana melangkahkan kakinya maju. "Nggak usah sok ngebully seolah-olah lo gak punya aib sendiri," ucapnya tanpa rasa takut tepat di hadapan Marsha.


"Nggak usah ikut campur urusan orang lain." Ingga menatap Rana geram. Menekankan setiap ucapannya.


Rana melengoskan wajahnya tak peduli segeram apa wajah Ingga sekarang. Ia menggandeng tangan Marsha.


"Lo yang ikut campur urusan orang lain." Gadis mungil itu kemudian menarik tangan Marsha dan membawanya pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Ingga dengan wajah semerah tomatnya.


"Kenapa lo ngebantu gue, Ra?" tanya Marsha setelah mereka pergi dari keramaian.

__ADS_1


__ADS_2