The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Hanya Setitik Masalalu


__ADS_3

Bersandar pada sandaran tempat tidurnya, Dio menghela nafas panjang. Pandangannya menerawang pada pemandangan barisan awan yang disuguhkan oleh jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia kemudian membenamkan dirinya pada bantal dan menutupi wajahnya dengan selimut tebal kesayangannya. Padahal, jam dinding sedang menunjukkan pukul 15.30. Bukan saatnya untuk tidur siang bukan?


Kreek ....


Pintu kamar cowok itu terbuka, disusul suara derap langkah yang kemudian langsung menuju ke arah Dio.


"Bangun, woy!" Duduk di tepi ranjang Dio, Arka melemparkan sebuah bantal tepat mengenai kepala Dio.


"Lo dateng-dateng ganggu gue aja, Ka!" Dio membuka selimut dan memasang wajah merengut.


"Tumben lo ke sini. Biasanya juga sibuk ngurusin si Ngatiyem," ucap cowok itu kemudian beranjak dari posisi tidurnya.


Arka menghela nafas panjang, kemudian berdiri dan berjalan menuju jendela kamar Dio. Duduk pada jendela yang terbuka lebar itu.


"Besok udah ujian terakhir ya, Yo?" ucap cowok itu membuka perbincangan pokok.


"Gak usah ditanya. Kenapa? Lo gak rela, satu semester lagi bakal jarang ketemu gue?" Dio menampilkan cengirannya.


"Elah ... ya bukan lah, Dodol!"


"Terus?"


"Besok malem gue udah janji sama Rana buat nembak dia," jawab Arka terlihat sedikit gelisah.


Bug!


Dio langsung melemparkan sebuah bantal kepada cowok itu, yang kemudian ditangkap dengan mudah oleh Arka.


"Jadi maksud lo, selama ini kalian belum pacaran?!" tanya Dio dengan mulut terbuka tak menyangka.


"Terus selama ini apa, Bego?!" Dio jadi emosi sendiri. Maklum, dia lagi datang bulan.


Arka menghela nafas lagi. Menatap langit-langit kamar Dio sejenak. "Gue bingung, Yo. Gue sendiri ragu sama perasaan gue ke Rana."

__ADS_1


"Masih belum move on lo?" Dio mengernyit. Menyipitkan matanya.


Arka tertunduk. Ganti memandangi lantai lama.


"Gue takut ... gue takut nantinya bakalan nyakitin dia. Karena gue selalu percaya, gue yakin kalau suatu saat nanti gue bakal dipertemuin lagi sama Ingga. Dan kalau sampai itu beneran kejadian, gue gak tau lagi, Yo, apa yang harus gue lakuin." Arka berhenti sejenak. "Udah gue coba, tapi gak mungkin gue ngelupain dia gitu aja."


"Ingga lagi, Ingga lagi. Itu cuma masalalu, Ka. Masalalu yang sebenernya lo sendiri gak pernah bener-bener memiliki dia."


Arka mendengus kesal. Memalingkan pandangannya dari Dio. Benar, ia tak pernah benar-benar memiliki gadis itu. Tapi ... harus ia akui, bahwa Ingga adalah cinta pertamanya. Satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya berdecak kagum selain ibunya.


"Kalau tiba-tiba Rana sama cowok lain ...," Doi menggantung kalimatnya. ".... Lo gimana, Ka?"


Arka seketika memalingkan wajah menghadap Dio lagi. Tanpa ia sadari, dahinya mengernyit dan matanya menyipit tak bersahabat. Tapi bibirnya bungkam seribu bahasa. Dilihat dari sorot matanya, cowok itu seolah hendak menerkam mangsa di hadapannya.


"Gue suka sama Rana, Ka. Sebenernya dari dulu, tapi gue lupa mau bilang." Dio menatap mata Arka dalam.


"Gila lo, Yo!" Arka langsung berdiri dari duduknya. Rahangnya mengatup rapat.


"Fix, lo cemburu!" seru Dio tiba-tiba berdiri dan turun dari ranjangnya. Tersenyum penuh kemenangan. Berjalan menuju tempat di mana Arka berdiri.


"Sama gue nggak, gak tau kalo sama Raja." Dio kembali melancarkan aksinya. Ia saja jatuh-bangun tak akan mungkin mendapatkan Vira, bagaimana bisa Arka melepaskan Rana yang sudah jelas-jelas ada dalam genggamannya?


Arka menatap Dio lebih tajam lagi. Kali ini kedua tangannya benar-benar mengepal. "Gue gak bakal biarin itu terjadi," ujarnya posesif.


"Kalau gitu lo harus tembak dia. Seganteng-gantengnya elo, mana ada cewek yang mau digantungin kelewat lama kayak gini. Lo gak ngaca apa, sama nasib gue yang ngenes ini? Seandainya gue dari dulu ngomong ke Vira kalau gue suka sama dia, mungkin ...."


"Hahaha,,," Suara tawa Arka tiba-tiba menggelegar memenuhi gendang telinga Dio. Membuat cowok itu sebal setengah mati.


"Brengs*k lo!" hardiknya melempar Arka dengan bantal lagi. "Bagi-bagi ganteng napa?" gerutunya mengerucutkan bibir.


"Ya udah lah. Ayo main basket aja, atau balapan juga bisa. Entar gue kenalin, deh ...."


"Sama siapa, Ka?" Dio langsung antusias.

__ADS_1


"Pembantu rumah tangga gue, Yo. Udah janda anak lima, tapi. Jadi, lo harus siap-siap buat ngasih nafkah gede," terang Arka diiringi tawa tanpa dosanya.


"Nafkah? Gila aja lo!" Dio semakin sebal. "Buset dah ... lama-lama bergaul sama Rana otak lo kayaknya ikut miring juga deh, Ka."


Arka tertawa lagi. "Biarin, yang penting gak jomblo kayak lo," ledeknya lagi.


"Halah ... sombong aja kerjaan lo. Nembak aja belum."


"Biarin. Tinggal dikit lagi. Abis itu gue mau ...." Arka menyipitkan matanya. Tiba-tiba wajah cantik Rana melayang jelas di matanya.


"Woy! Mesum aja otak lo!" Dio jadi emosi sendiri.


"Hahaha,,," Arka tertawa lagi. Senang sekali memanas-manasi teman jomblonya ini. "Hus! Kalau itu mah entar aja, pas udah nikah," ucapnya lagi.


"Dih! Si Arsya tobat, kayaknya setannya udah pindah ke elo deh, Ka." Dio bergidik ngeri. "Kasian si Rana, belum cukup umur masa udah mau lo ajak nikah?"


"Biarin, yang penting bisa ngasih makan," ucap Arka jadi senyum-senyum sendiri; membayangkan wajah Rana lah yang pertama kali ia lihat saat bangun pagi setiap harinya.


"Halah ... harta orang tua aja bangga. Inget, lulus aja belum." Dio geleng-geleng kepala heran. Jangan-jangan Arka lagi mabok. Tadi sok-sokan galau; bingung sama perasaannya ke Rana. Dan sekarang? Lihatlah, cowok itu sudah ngelantur ke mana-mana. Halu yang kelewat umur, sih ....


Arka cuek saja dengan omongan Dio. Cowok itu kini mengambil gitar dan membalikkan badannya sehingga menghadap ke rumah calon mertuanya. Membiarkan kakinya bergelantungan pada jendela kamar Dio. Tapi baru saja hendak memetik gitar, tiba-tiba sebuah teriakan cempreng mengalihkan atensinya.


"Arkaa!" teriak gadis itu dengan kedua tangan dibuatnya seolah-olah menjadi alat pembesar suara. Tersenyum riang mengadahkan kepalanya pada Arka yang tinggi di sana.


Arka sedikit berlonjak kaget. Tapi kini senyum riang Rana seketika tertular padanya.


"Aku ke situ!" teriak cowok itu bersemangat. Dan setelah mendapat anggukan dari Rana, cowok itu langsung masuk ke dalam kamar Dio, meletakkan gitar, dan langsung berjalan menuju pintu.


"Woy!!" teriak Dio menghentikan langkah Arka.


"Kurang ajar deh lo, Ka. Masuk kagak permisi, keluar juga sama aja," dumel Dio.


"He ... he ... he ... gua pamit, Yo. Thanks, lo udah bikin gue sadar," ucap Arka menoleh dan tersenyum pada Dio. Dan tanpa menunggu respon dari Dio lagi, cowok itu berlalu begitu saja keluar kamar dan bergerak menuju rumah tetangga Dio; rumah calon mertuanya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Dio hanya bisa geleng-geleng kepala heran.


"Sebucin itu bisa-bisanya dia bilang masih ragu?"


__ADS_2