
"Loh, Mami?!" pekik Rana menutupi suasana hati yang sebenarnya tengah buruk sekali.
"Ra, kamu gak papa, kan?" tanya Puspa menyentuh lengan anak gadisnya. Menatap dengan kekhawatiran, juga penyesalan karena mengizinkan anak itu keluar sendirian tadi siang. Di sebelahnya, Sarah hanya tersenyum menanggapi.
"Rana gak papa kok, Mi," jawab gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memeluk ibunya.
"Udah bilang makasih sama Arka, udah ditolongin?" tanya Puspa setelah Rana melepas pelukannya.
Rana menoleh pada Arka sekilas, kemudian tersenyum pada maminya. "Udah."
"Owh ... ya udah. Yuk, nemenin Arka. Kasian dia, sampe diperban gitu," ajak Puspa.
"Emm ...." Rana berfikir mencari alasan. Untuk saat ini, rasanya ia belum ingin berhadapan dengan Arka lagi. "Rana mau buang air besar dulu deh, Mi. Udah kebelet dari tadi," kata Rana akhirnya, memegangi perutnya meringis kemudian berlalu cepat dari kamar Arka. Pintar sekali berakting.
Puspa dan Sarah hanya bisa bertukar pandang, menggeleng kepala dan kemudian melangkah menuju Arka yang terduduk di ranjang, dengan senyum yang ia buat tidak sekaku mungkin.
"Tan," ucap cowok itu pada Puspa. Tahu bagaimana ia harus berbuat.
__ADS_1
...💕...
Di tepian kolam rumah mewah itu, Rana duduk mengayun-ayunkan kakinya di air. Menatap gemelutuk air yang ia hasilkan sendiri. Benar-benar tak punya niatan untuk bangkit dari tempat itu kecuali segera pulang ke rumahnya.
Huft....
Ternyata, Arka masih sama kerasnya. Masih sama dinginnya. Juga seseorang yang benar-benar tak bisa ia duga perbuatannya. Masih seperti misteri yang mengayang di angkasa. Juga pedang yang bisa melukai siapa saja tak peduli bahwa seseorang itu adalah pemiliknya.
Rana mengadah. Memejamkan matanya pada temaram sore yang sudah terlanjur gelap. Ia ini siapanya Arka? Pacar? Bukan. Teman? Mungkin, tapi ... ia tak rela jika ada seseorang saja yang menyebutnya begitu. Lalu apa? Ahh ... manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling serakah.
Bukan ia tak bersyukur. Tapi, ia butuh kepastian, atau setidaknya ikatan yang membuatnya merasa memiliki Arka sepenuhnya, dalihnya pada diri sendiri. Membenarkan perih hati yang tiba-tiba merasuki.
Ahh, sudahlah.
"Rana," ucap seorang wanita halus. Membuat cewek yang dipanggil segera menoleh dan membuka kelopak matanya. Menampilkan senyum buatannya.
"Kok malah disini?" Puspa menghampiri anaknya, bersama Sarah di sebelahnya.
__ADS_1
Rana meringis. "Rana gerah, Mi, belum mandi. Jadi ngerendem kaki di sini deh," dalihnya lagi, kemudian bangkit berdiri.
"Hhh,,, dasar Rana, kenapa gak sekalian mandi?" tanya Sarah.
"Sekalian nanti di rumah aja deh, Tan."
"Loh, udah mau pulang?" tanya Sarah lagi.
"Saraah," tegur Puspa masih tetap terlihat lemah lembut, sembari mendorong lengan sahabatnya pelan.
"Tante kira mau sekalian nginep. Biar sekalian nemenin Arka," ucap Sarah lagi tanpa dosa.
Puspa memelototi wanita itu, sedangkan Rana hanya tersenyum menanggapi. Sedang tak tertarik dengan topik yang tengah diperbincangkan.
"Dari tadi sekalian sekalian terus, Sar. Ya udah, kita juga sekalian pamit ya, Sar," ucap Puspa kemudian, lalu menoleh pada Rana.
"Sana, Ra, kamu pamit dulu sama Arka. Mami tungguin di mobil," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Emm ... gak usah aja, Mi. Rana belum mandi. Udah bau kambing kayak gini. Malu. Titip salam aja," ucap cewek itu sembari mencium ketiaknya sendiri secara bergantian, kemudian menampilkan pringisannya lagi. Pringisan yang cukup untuk menutupi resah hatinya saat ini.