The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Nyaris Gila


__ADS_3

"Arka?" ucapnya lirih, dengan mata sembab dan air mata yang berlinang dimana-mana.


Arka menunduk membalas tatapan itu, tangan kanannya menyentuh pucuk kepala Rana, kemudian menyandarkannya lagi di dadanya. Siapa yang tega melihat air mata itu?


"Siapa lo? Punya hak apa lo ikut campur urusan gue sama dia?!" Daniel dilanda cemburu. Bagaimana tidak? Di depan matanya langsung bisa-bisanya ada cowok lain yang berani sedekat itu dengan Rana. Selama ini, tentunya tak pernah ada.


"Gue Arka, Arka Airlangga," tegas cowok itu "Gak usah bicara Hak! Lo sendiri bahkan udah gak punya hak, karena udah nyelingkuhin dia."


Daniel terdiam, tak bisa membela diri.


"Ayo, Ra, gue anterin lo pulang."


💕


Tente Cerewet


Aku ngaanterin Rana pulang


Bilangin Mamanya Rana.


Arka menghela nafas, ia kemudian menyalakan mesin mobilnya, sedang di belakang kursi kemudi Rana entah sudah bagaimana modelnya. Tadi berpura-pura kuat seolah sudah sama sekali tak menginginkan cowok yang menyelingkuhinya, dan sekarang, malah menangis histeris layaknya orang kesurupan.


Benar-benar cewek yang aneh.


Arka mengemudi, Rana menangis sejadi-jadinya. Penampilannya yang tadi rapi dan cantik sekarang sudah berantakan dimana-mana, apalagi rambutnya. Intinya, sekarang ia sudah benar-benar seperti orang gila.


Rasanya sakit sekali dikhianati seperti ini. Ia tak mungkin salah faham. Ia tahu betul, cewek itu tadi adalah Gea, kakak kelasnya dulu di SMP Kertajaya. Masih teringat jelas difikirannya Gea yang selalu mengajar-ngejar Daniel, mengemis cintanya. Bahkan walau sudah menjadi alumni pun, cewek itu tetap sering berkunjung ke sekolahnya. Pantang mundur, tak kenal lelah. Ia bahkan mengorbankan harga dirinya sendiri dengan tetap mengajar-ngejar Daniel walau sudah tahu bahwa cowok itu sudah punya pacar.


"Kaaa! Hiks ... hiks ... hiks ...."


Arka diam saja tak menanggapi, tangannya kemudian meraih headset dan memasangnya tak acuh. Telinganya bisa-bisa budeg gara-gara mendengar jeritan dan tangisan histeris Rana.


Hilang sudah rasa ibanya, berganti dengan rasa sebal karena cewek di belakangnya ini malah menendang dan meninju kursi kemudi yang ia duduki terus-menerus. Benar-benar mengganggu konsentrasi!


"Arkaa!! Arkaa!! Arkaaaaa!!" Rana semakin menjadi, tangannya menggoyang-goyangkan kursi kemudi tanpa kendali. Kenapa Arka tak menjawab panggilannya? Tak tahu apa, perasaannya sedang hancur sekali saat ini? Protesnya dalam hati.


Tak ada respon lagi, cuek sekali. Cewek itu kemudian mengamati telinga Arka, Ooo ... pantesan si Arka kayak orang budeg.


Iseng, Rana melepas benda itu dari telinga Arka.


Arka yang terkejut spontan menolehkan kepala, gadis di belakangnya ini pasti sedang mencari mati!

__ADS_1


Rana mendekatkan wajahnya pada wajah Arka tanpa ragu, "Mampir beli eskriim ...." ucapnya memelas. Kalau sedang galau begini eskrim adalah satu-satunya jalan untuk mengobati luka hati, semoga saja.


Arka menatap Rana Nyalang, sudah menangis histeris karena diselingkuhi sempat-sempatnya memikirkan eskrim. Kenapa tak sekalian makan manusia saja? Biar pacar dan selingkuhannya langsung mati di tempat.


"Eh, Ka! Ada truk!!" pekik Rana, dengan mata terbelalak menunjuk sebuah truk di depan mobil Arka.


Jarak mereka terlalu dekat, kelajuan mobil Arka pun, tak bisa dibilang lambat.


Arka segera memutar setir, mobilnya agak oleng dan tak terkendali. Cowok itu mengusahakan mobil itu tetap pada kendalinya, dan akhirnya ... sejurus kemudian ia sudah bisa mengambil alih kemudi mobil itu dengan baik.


Ahh, untung saja.


Arka menghela nafas lega menyandarkan kepalanya pada kursi kemudi, dari pantulan cermin ia bisa melihat keadaan Rana. Cewek itu memeluk kedua kakinya erat, juga menyembunyikan wajahnya ketakutan. Untung saja tak terjadi apa-apa.


"Ini dimana?" Rana mengadahkan kepala sembari mengedarkan pandangan mengamati sekitar. Apakah ia masih di dunia?


"Surga."


"Ha? Emang di surga ada setannya, ya?"


"Maksud lo?" Dari cermin kemudi Arka menatap tajam pada Rana.


Arka memalingkan muka jengah. Cewek ini sudah diselingkuhi, hampir kecelakaan pula, sempat-sempatnya bercanda lagi.


Jauh di depan, Rana mengamati ada minimarket di pinggir jalan, "Arka!" pekiknya tinggi.


"Hm,"


"Beli eskrim, ya."


Tak ada tanggapan.


Arka diam saja, tapi ketika sudah sampai di depan minimarket yang dimaksud Rana cowok itu memberhentikan mobilnya.


"Cepet! Gak pake lama," tegas Arka malas.


Tak perlu tunggu lama Rana segera turun dari mobil dan berlari memasuki minimarket. Harus segera cepat, sebelum cowok galak itu berubah pikiran.


Arka menghembuskan nafas berat, harus berapa banyak kesialan yang ia alami jika berdekatan dengan cewek aneh ini?


Tok ... tok ... tok!

__ADS_1


Arka menoleh. Dari balik jendela mobil, wajah Rana terpampang dekat sekali, nyaris membuatnya terjingkat kaget.


"Kenapa?" Tanya Arka setelah membuka jendela mobil.


"Gue lupa bawa dompet," ucap Rana meringis.


"Terus?" tanya Arka malas.


"Hehehe,"


Arka akhirnya mengambil dompet dari sakunya, kemudian membukanya. Ahh, sial! Di dompetnya hanya ada uang Rp. 100.000,00.


"Nih," ucapnya menyodorkan uang itu pada Rana.


"Arkaa!! Kurang atuh ...."


Arka menatap Rana tajam, diberi hati malah meminta jantung.


Malas sekali, tapi akhirnya ia pun menyodorkan kartu kreditnya.


"Hehehe, Arka ganteng deh," puji Rana segera berlalu memasuki minimarket lagi.


Arka melengos, kenapa ia jadi seperti cowoknya Rana begini? Inilah yang ia tak suka dari cewek-cewek cantik, mudah sekali memanfaatkan orang lain. Eh, tunggu dulu-tunggu dulu, jangan-jangan Rana hendak memanfaatkannya karena ia sudah dicampakan oleh pacarnya itu. Ahh, sial! Kenapa ia jadi berfikiran aneh-aneh begini?


"Nih, Ka, kartu lo. Makasih ya, entar gue ganti kok." Tiba-tiba Rana sudah berada di kursi penumpang, tangannya mengulurkan sebuah kartu pada Arka.


Arka menoleh kebelakang. Sial! Katanya hanya membeli eskrim tapi sekarang sudah ada empat kantung besar yang entah isinya apa memenuhi mobilnya.


"Hehehe, eskrim sama cemilan doang kok," Rana meringis lagi.


Arka hanya menatap malas, menerima kartu kreditnya, dan kemudian langsung mengemudikan mobilnya.


"Hap!" Sambil melahap eskrim-eskrim kesukaannya, Rana mulai mengingat kejadian tadi lagi.


Padahal selama ini Daniel tak pernah mengecewakannya, selalu ada untuknya, selalu melindunginya, selalu menjadi pacar terbaik baginya, tapi kenapa ini bisa terjadi? Kenapa harus sekarang? Kenapa setiba-tiba ini? Apa Daniel sudah bosan padanya, atau... karena Gea memang lebih cantik dan lebih segala-galanya dari pada dia? Kenapa dunia begitu jahat padanya?


"Danieeeeeel!! Hiks ... hiks ... hiks ... kenapa Niel tega gini sama Ranaaa?!" teriak Rana mulai menangis histeris lagi.


Arka bersegera menutup telinganya, gila! Ia benar-benar tak paham dengan jalan fikir cewek ini. Perasaan baru beberapa menit lalu cewek ini meringis dan bercanda seolah tak terjadi apa-apa, kenapa sekarang begini lagi?


Kalau begini jadinya, harusnya ia tak menuruti tadi.

__ADS_1


__ADS_2