
Arka mengambilkan helm untuk Rana. Ujung matanya tetap terus mengamati kecantikan gadisnya. Ya, Rana akan selalu cantik, meski sedang cemberut begini.
"Ra," ucap cowok itu pelan, sebelum benar-benar memakaikan helm pada kepala Rana.
Rana mau tak mau menengadah menatap wajah Arka. Matanya tiba-tiba terasa panas. Merasakan cemburu yang tak kunjung ada titik terangnya.
"Aku kangen kamu, Ra." Arka tiba-tiba menarik tubuh Rana ke dekapan hangatnya. Membuat gadis yang dipeluk jadi bingung harus berkata-kata.
Arka bo'ong! Jerit Rana dalam hati. Ia ingin segera memukuli dada Arka bertubi-tubi. Atau setidaknya mencubiti tangannya sebagai bukti bahwa ia tak bisa dibohongi.
"Arka bo'ong, ya?" tapi ternyata hanya pertanyaan itulah yang bisa keluar dari bibir mungilnya.
Arka melepaskan pelukannya. Sudut bibirnya lagi-lagi dibuat terangkat oleh pertanyaan Rana.
"Kok bo'ong?" tanyanya dengan kedua alis tertaut sempurna.
Rana semakin mengerucutkan bibirnya. "Tadi malem Rana chat kok gak cepet dibales?" katanya.
"Iyaa ... tapi kan, abis itu langsung aku telpon. Kamu udah tidur ya, pas aku telpon kamu?" tanya Arka, sebab tadi malam Rana memang tak mengangkat telponnya.
"Belum," jawab Rana apa adanya sekali.
__ADS_1
"Loh? Terus kenapa?" Kedua alis Arka terangkat.
"Abisnya Arka cuma nelfon satu kali," jawab cewek itu semakin mengerucutkan bibir mungilnya. Padahal, dalam hati ia sedang menimbang-nimbang perlukah ia mengungkapkan kecemburuannya.
Arka justru tertawa sebab alasan yang dibuat Rana. "Ya takutnya kamu udah tidur," ucap cowok itu masih dengan senyum terukir.
Melihat Arka tertawa Rana jadi ikut mengukirkan senyum. Cita-cita kecilnya kini benar-benar sudah terkabul. Menjadi tawa bagi sunyinya hidup Arka.
"Arka," ucap cewek itu kemudian.
"Ya?" tanya Arka kemudian, sembari mengenakan helm pada kepala Rana.
"Arka dulu pernah minta Rana buat jauhin Raja. Kalau sekarang Rana minta Arka supaya jauhin Alea bisa, kan?" tanya Rana dengan mulusnya. Menghapus ketidakpercayaannya pada kesetiaan cowok di hadapannya.
"Bisa," jawab Arka yakin. Matanya menatap Rana lekat.
"Beneran bisa?" tanya Rana demi memuaskan kegelisahannya selama ini.
"Iyaa .... Kan, kamu lebih cantik dari Alea," ucap Arka kemudian tertawa kecil mengingat pertanyaan Rana di hari lalu.
"Iiih ... Arka!" Rana mengerucutkan bibirnya tapi tersenyum. Yah... akhirnya ketahuan juga kalau dirinya ini cemburuan.
__ADS_1
"Haha,,, ayo, Ra. Pacaran terus entar kalo dihukum lari lapangan capek, lho." Arka kemudian menaiki motornya.
"Hehe," Rana terkekeh. Kemudian ikut naik ke motor Arka.
Arka menstater motornya kemudian, setelah mengenakan helmnya.
"Eh, emang kita pacaran ya, Ka?" tanya Rana entah sedang memancing atau bagaimana. Bibirnya jadi senyum-senyum sendiri.
"Kan emang gitu," jawab Arka seenaknya, sembari mulai mengendarai motornya keluar dari pelataran rumah Rana.
"Yeee ... kan, Arka belum nembak Rana!" protes Rana. Padahal, dalam hati cewek itu berjingkrak-jingkrak main kuda lumping.
"Iyaa ... tapi kan, Rana udah proklamasi pas di kantin waktu itu."
Bug!
"Arka!" teriak Rana memukul pinggang cowok itu. Huh, malu deh jadinya.
Arka malah tertawa. Melingkarkan tangan Rana pada pinggangnya.
Sembari memeluk Arka, Rana menahan malu setengah mati.
__ADS_1
"Oh ya, Ra, aku seneng deh dicemburuin kamu kayak gini."