The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Pertanggungjawaban


__ADS_3

Lebam-lebam pada wajah cowok itu terlalu banyak, tapi ia tak hirau. Motornya melaju kencang, membelah jalanan, menembus angin malam yang membuat lukanya semakin perih. Tapi tahukah malam, bahwa hatinya lebih perih? Bahwa bukan hanya Rana yang merasakan perih itu? Ia juga merasakannya, tapi tak bisa dipungkiri, ia sendirilah adalah pelakunya.


"Arka .... Arka mau ninggalin Rana?"


Arka merasakan matanya memanas. Pertanyaan Rana tempo lalu terus terngiang-ngiang di otaknya. Tapi, andai Rana tahu, ini sama sekali bukan rencananya. Sungguh, bukan ini yang ia inginkan.


Janji-janji yang selalu ia ucapkan pada Rana, semuanya bulsh*t! Semuanya omong kosong! Bahkan untuk mendatangi Rana saja, ia sudah tak punya nyali. Ia terlalu malu, terlalu malu untuk mengatakan bahwa ia tak bisa meninggalkan masalalunya.


"Janji. Dan semoga takdir gak ngebuat kita terpaksa mengingkari."


"Mati aja, anj*r!" teriaknya kemudian meningkatkan kecepatan motornya hingga yang paling tinggi. Meliuk-liuk ke kanan-kiri seolah hendak bunuh diri.


Brummm .....


Cowok itu bagai pembalap kesetanan yang terobsesi untuk menang. Dan kemudian....


Sett ....


Bruak ....


Tarr ....

__ADS_1


Arka terpelanting jauh. Ia terlentang di atas aspal, menatap langit malam yang gelap dan membasahinya. Ia hanya mendesis kesakitan, merasakan lututnya amat perih. Ia kemudian menoleh pada motornya yang jauh di sana, kendaraan itu juga dalam keadaan yang buruk sekali. Teronggok sempurna, entah masih bisa berjalan atau tidak.


Ia kembali menatap langit malam. Di antara semua perih yang ia rasa, apakah yang dirasakan Rana lebih perih lagi? Apakah Rana masih bisa tersenyum esok harinya? Apa cewek itu masih bisa bahagia tanpanya?


"Rana ... gue gak sanggup ketemu lo. Gue terlalu pengecut ... terlalu buruk buat jadi cowok yang lo harapin."


"Raa! Lupain gue, please!" teriaknya, kemudian duduk dan mengacak-acak rambutnya frustasi.


Diliriknya celana di bagian lututnya yang sobek, basah oleh cairan berwarna merah. Tapi ia tahu ia tetap harus pulang, mempertanggungjawabkan semuanya pada ayahnya. Maka, dengan kaki tertatih-tatih itu ia berdiri dari posisinya. Berjalan pincang menuju motornya.


...💕...


"Arka mana ya, Mas? Masa iya, ngedate sampe jam segini belum selesai-selesai. Ngapain aja coba?" ucap Sarah, mondar-mandir di ruang tamu bingung sendiri.


"Aduuuh ... mas gak ngerti, deh... Rana aku hubungi dari tadi juga gak diangkat. Arka apalagi. Aku jadi khawatir tau gak?"


Karena risih melihat istrinya yang terlalu pemikir, Rangga akhirnya berdiri dari duduknya, kemudian berjalan menuju wanita itu. "Tenang aja, Dik, Arka udah gede. Gak ada yang perlu dikhawatirin," ucapnya menyentuh pundak istrinya. Bersamaan dengan itu, kenop pintu di hadapan mereka menimbulkan suara. Tanda seseorang hendak masuk, dan mereka tahu siapa seseorang itu.


Kreek ..., pintu terbuka, menampilkan sosok pemuda dengan wajah lebam-lebam, juga baju berantakan dan beberapa sobekan di celana yang dikenakannya.


Mata Sarah seketika dibuat membola. "Arka? Ada apa? Kamu kenapa?" Wanita itu menghampiri Arka bersegera, menyentuh wajahnya yang penuh lebam tak keruan.

__ADS_1


Rangga masih berdiri di tempatnya saat istrinya sudah sibuk dengan keadaan Arka. Ada yang tidak beres dengan bocah ini.


Arka tak menghiraukan rentetan pertanyaan yang dilayangkan ibunya. Pandangannya terfokus pada mata elang ayahnya. Mata yang selalu berhasil menemukan kesalahannya.


"Arka nyelingkuhin Rana, Pa," ucap cowok itu, menghentikan pergerakan Sarah yang sebelumnya sibuk memeriksa keadaan seluruh badannya.


"Apa kamu bilang, Ka?" tanya Sarah, wajahnya penuh ekspresi tak menyangka.


"Sarah, masuk!" titah Rangga, menunjukkan sisi dinginnya kembali.


Sarah tergagap, suatu bayangan kejadian tiba-tiba memenuhi kepalanya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan ia tak mau kejadian itu benar-benar terjadi. Maka, wanita itu bersegera melarang suaminya untuk melakukan hal itu.


"Mas, jangan lagi, Mas. Mas udah janji sama aku," ucap wanita itu pada suaminya, menahan tangannya agar tak benar-benar melakukannya.


"Arka siap nerima hukuman, Pa," ucap Arka menatap lurus, mempersiapkan dirinya untuk kesakitan yang ia tahu pantas didapatkannya.


Rangga berjalan tegas pada anaknya, menghentakkan tangan Sarah agar tak tetep menghalaunya.


Bruak!


Bugh ...

__ADS_1


"Argh..."


__ADS_2