The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Cewek Dominan


__ADS_3

Arka dan Ingga menjejakkan kakinya di koridor yang ramai itu. Dan benar saja, semua pandangan seketika terpusat pada mereka. Ratusan mata yang menatap dengan tanda tanya. Murid lama akan berbisik-bisik; inilah cewek yang selalu menjadi pemenang dahulu. Bukan tipe cewek yang sangat cantik, tapi mampu menghipnotis semua cowok bahkan yang terdingin sekalipun.


Sedangkan murid yang tidak mengenalnya? Mereka akan bertanya pada teman disebelahnya; siapa cewek ini? Di mana Rana?


"Hai, Marsha!" sapa Ingga, berhenti di depan kelompok gank Marsha. Mengembangkan senyum penuh rasa percaya diri pada mereka.


Marsha masih belum merespon. Sejenak, pandangannya melirik ke arah tangan Ingga yang lengket sekali memeluk lengan Arka. "Hai," ucap cewek itu kemudian.


Ingga tersenyum tanpa cela. Memandang cewek di hadapannya itu dari atas hingga bawah, lalu mengulanginya lagi. Pandangan merendahkan.


"Girls, jadi ini ketua genk kalian?" tanya cewek itu kemudian, menyisir pandangannya pada komplotan teman Marsha yang juga tak berkutik oleh mata rubahnya.


Arka memalingkan wajahnya. Malas. "Ngga, lama. Ngapain, sih?" keluhnya.


Ingga mendongak pada Arka sekilas, kemudian menampilkan senyumnya lagi pada komplotan Marsha.

__ADS_1


"Ya udah ya, Sha. Gue duluan." Ingga menyentuh dasi Marsha, kemudian merapikannya. Senyumnya tercetak miring. ".... Sekedar peringatan aja," lirihnya mengancam.


Kedua remaja itu pun berlalu meninggalkan Marsha dengan kebungkamannya, juga teman-teman Marsha dengan tanda tanyanya: Semudah itukah Ingga menindas Marsha, ketua genk mereka?


...💕...


"Halo, Ingga! Apa kabar?" sapa Pak Kusma saat kedua remaja itu baru memasuki ruangannya. Wajahnya tampak ceria, sama sekali tak terganggu dengan wajah Arka yang terlihat sekali habis berkelahi-nya.


Ingga menundukkan kepalanya, tersenyum santun. "Baik, Pak. Semoga tidak menganggu Bapak. Saya malah datang lagi ke sini setelah ngacir nggak tau ke mana," ucap cewek itu kemudian tertawa kecil. Tawa kecil yang tetap elegan.


"Ini berkas-berkasnya, Pak." Setelah duduk, Ingga menyerahkan sebuah map pada pria itu. Sedang Arka hanya diam saja sebab selain mengantar Ingga, ia tak punya lagi kepentingan.


Pak Kusma menerima berkas itu dengan senang. Memeriksanya dengan senyum mengembang. "Malah bagus kamu kembali ke sini. Walau sudah tertinggal banyak, kalau mau, Bapak bisa mengaturkan ujian susulan buat kamu. Bapak yakin kamu lebih dari mampu," tutur Pak Kusma, dengan penawaran terlalu murah hatinya.


Ingga tertawa kecil, melirik Arka sekilas. "Saya maunya ditempatkan di kelas 11 IPA 1 aja, Pak."

__ADS_1


Seketika, Arka memalingkan wajahnya pada Ingga. "Ngga?" lirihnya. Itu adalah kelas Rana.


Ingga hanya merespon dengan tolehan sekilas kemudian beralih lagi pada Pak Kusma yang dihadapannya. "Saya rasa banyak yang harus saya pelajari lagi, Pak," ucapnya tersenyum.


"Nah ... ini yang bikin kamu selalu berbeda. Banyak murid pintar datang silih berganti di sekolah ini, tapi kamu memang terlalu spesial. Tak heran, kamu adalah anaknya Pak Husein, dia pasti sangat bangga sama kamu."


Ingga tertawa kecil. Setelah cukup berbasa-basi, kedua remaja itu akhirnya keluar dari ruangan kepala sekolah itu.


"Kenapa harus kelas 11 IPA 1?" Arka menghentikan langkahnya, berbelok pada Ingga. Kini, mereka berdiri di tengah koridor yang tak terlalu ramai.


Ingga membalas tatapan Arka. "Kenapa?" cewek itu menukas Arka dengan tatapannya.


Arka diam seribu kata. Apa pula alasan yang bisa diungkapkannya?


"Emangnya ... harus ada alasan, ya?" pancing Ingga, bersedekap dada. Penuh kuasa pada cowok di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2